• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 27 Juni 2022

Opini

Berbagi Sudut Pandang Peristiwa Isra’ Mi’raj

Berbagi Sudut Pandang Peristiwa Isra’ Mi’raj
Pwristiwa Isra' Mi'raj memberikan banyak pesan. (Foto: NOJ/PRt)
Pwristiwa Isra' Mi'raj memberikan banyak pesan. (Foto: NOJ/PRt)

Hari ini umat Islam memperingati peristiwa agung, Isra’ Mi’raj. Terkait kejadian tersebut, ada baiknya kaum muslimin memiliki pemaknaan dan penafsiran yang lebih dalam akan hal tersebut. Bahwa peristiwa tidak semata kejadian yang harus dirayakan, namun mempunyai efek yang lebih dalam bagi keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

 

Ketahuilah bahwa Allah adalah sang pencipta (khaliq) alam raya. Kita semua diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Taala. Antara Allah dan kita, mempunyai dimensi yang berbeda. Dimensi di sini tidak berarti ruang dan tempat, namun dimensi dalam arti esensi. Analogi untuk mendekatkan logika kita, misalnya kita sebagai manusia dengan jin, masing-masing mempunyai dimensi yang berbeda. Tapi jin di sini masih membutuhkan tempat, ruang dan waktu. Allah tidak butuh itu semua. Allah tidak membutuhkan apa pun.  

 

Allah berada pada dimensi ilahi, kita berada pada dimensi insani. Kita diberikan penutup (hijab) antara Allah dan kita. Bukan karena Allah jauh dengan kita yang menjadikan kita tidak bisa melihat Allah. Allah sangat dekat dengan kita bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Kita tidak bisa menyaksikan Allah karena kita mempunyai hijab sehingga kita tidak bisa mengakses dimensi Allah. Walaupun demikian, Allah tetap bisa secara penuh mengawasi kita semua.  

 

Allah menciptakan semua hamba baik dari kalangan jin maupun manusia dengan tujuan untuk menyembah kepada-Nya. Dalam menyampaikan kehendak-Nya, Allah mengutus para nabi yang di antaranya adalah Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan risalah ilahiah. Hikmahnya, manusia yang berada pada dimensi yang penuh hijab dan tidak sama dengan dimensi Tuhan, bisa menjadi tahu atas apa yang dikehendaki oleh Allah SWT melalui perantara utusan-Nya.  

 

Contohnya adalah bagaimana Allah memerintahkan umat Muhammad untuk menjalankan ibadah shalat lima waktu. Kita sebagai manusia tidak akan bisa memahami atas apa yang dikehendaki oleh Allah tersebut tanpa melalui rasul (utusan Allah) yang menyampaikan informasi-informasi penting. Barulah kemudian kita menjadi tahu bahwa misalnya Allah menghendaki kita sebagai umat manusia diperintah secara wajib untuk menjalankan shalat lima waktu.  

 

Kewajiban shalat lima waktu ini dimulai setelah Nabi Muhammad SAW diisra’kan (diperjalankan oleh Allah di waktu malam) dari Masjidil Haram, kota Makkah menuju Masjidil Aqsha, Palestina, kemudian di-mi’raj-kan (dinaikkan) dari Masjidil Aqsha menuju Sidratil Muntaha. Perjalanan malam Nabi Muhammad ini merupakan perjalanan yang menakjubkan. Betapa tidak? Jika kita sehari-sehari mengungkapkan syukur menggunakan kalimat alhamdulillah, mendapatkan musibah dengan innalillah, di dalam sebuah hal yang menakjubkan, kita disyariatkan untuk membaca subhanallah. Di dalam Al-Qur’an, pada kisah isra’ mi’raj ini Allah berfirman menggunakan kata subhana sebagaimana yang tertera pada ayat pertama surat al-Isra’:

 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  

 

Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS al-Isra’: 1).  

 

Pada kalimat سُبْحَانَ الَّذِي, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan, kalimat subhâna di sini menunjukkan saking agungnya Allah SWT. Hanya Allah saja yang mampu menjalankan Nabi Muhammad dari Makkah ke Palestina dan Palestina sampai langit ke-7 hanya dalam waktu tidak sampai satu malam. Bahkan dalam satu riwayat mengisahkan, setelah Nabi Muhammad melakukan isra’ mi’raj, tempat tidurnya masih hangat dan tempayan bekas Nabi melakukan wudlu tadi belum sampai kering. Ini adalah keajaiban yang luar biasa. Hanya Allah yang bisa melakukan yang mana bumi dan seisinya di bawah kendali-Nya. Keajaiban yang mencengangkan tersebut sangat sesuai jika memakai kata subhana.

 

Tentang subhana, Ibnu Katsir mengatakan:

 

   يُمَجِّدُ تَعَالَى نَفْسَهُ، وَيُعَظِّمُ شَأْنَهُ، لِقُدْرَتِهِ عَلَى مَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ أَحَدٌ سِوَاهُ، فَلَا إِلَهَ غَيْرُهُ  

 

Artinya: Allah Taala mengagungkan Dzat-Nya sendiri, mengagungkan keadaan-Nya, karena kekuasaan-Nya atas sesuatu yang tidak mampu dilakukan siapa pun selain Dia. Tiada Tuhan selain Dia. (Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, [Dar Thayyibah: 1999], juz 5, hlm. 5).  

 

Ats-Tsa’labi menyatakan bahwa kalimat subhana berarti kalimat ta’ajjub  

 

وَيَكُوْنُ سُبْحَانَ بِمَعْنَى التَّعَجُّب  

 

Artinya: Subhana di ayat ini mempunyai arti sebuah keajaiban yang menakjubkan. (Tafsir Ats-Tsa’labi, juz 6, hlm. 54).  

 

Banyak juga ulama yang menjelaskan, subhana pada ayat ini mempunyai makna penyucian dari segala kekurangan. Apabila dalam menjajaki kemampuan Allah dalam memperjalankan Nabi Muhammad pada malam hari dengan acuan akal yang terbatas sehingga Allah dianggap tidak mampu, maka Allah disucikan dari anggapan yang seperti demikian ini.  

 

Dalam isra’ mi’raj, apakah hanya ruh Nabi ataukah ruh dan jasadnya sekaligus? Ulama berbeda pendapat.   Menurut mayoritas ulama, Nabi diisra’kan meliputi ruh dan jasad sekaligus. Hal ini berdasarkan apabila yang diisra’kan hanya ruh saja, berarti Nabi Muhammad sama dengan mimpi. Jika isra’ hanya sebuah mimpi saja, maka hal tersebut tidak merupakan kejadian luar biasa yang sampai Allah memakai istilah subhana pada ayat di atas.Yang membuat fenomenal pada kegiatan isra’ mi’raj Nabi itu keajaiban perjalanan dengan ruang yang besar, namun waktunya sedemikian singkat. Ini yang luar biasa itu.  

 

Pada kalimat selanjutnya, أَسْرَى بِعَبْدِهِ Allah tidak menyandarkan kalimat subhâna dengan lafadz Allah, tapi dengan asra, kebesaran Allah yang menjalankan di waktu malam kepada hamba-Nya. Di sini Allah juga tidak menyebut Nabi Muhammad dengan menyebut namanya, tapi malah menyifati Nabi Muhammad yang diperjalankan di waktu malam memakai istilah عَبْدِهِ ‘hamba-Nya’.  

 

Kenapa Allah lebih memilih memberi label Nabi Muhammad hanya dengan predikat ‘hamba’ padahal ini merupakan kejadian yang fenomenal? Sebagian mufassir seperti Imam Al-Qusyairi mengatakan, hanya ‘hamba’ yang memahami posisinya sebagai hamba yang bisa memahami kebesaran Tuhannya. Sehingga apabila Tuhan melakukan apa pun, walaupun tidak masuk akal di otak hamba, bisa memahami bahwa bagi Tuhan yang posisinya tidak sama dengan hamba, mampu melakukan hal yang seolah mustahil di mata hambanya tersebut.  

 

Sebagian ulama menyatakan, peniadaan status Nabi Muhammad sebagai Nabi yang prestise di sini supaya Nabi Muhammad tidak mempunyai sifat ujub. Sebagian ulama lain lagi mengungkapkan, hal ini untuk mengagungkan Allah semata dan sebagai bentuk tawadhu’ Nabi Muhammad.  

 

Perjalanan Nabi pada isra’ mi’raj bukan atas inisiatif dan kemauannya, tapi murni atas kehendak Allah ‘yang menjalankannya’. Oleh karena itu, masuk akal atau tidak, bagi seorang hamba harus mengedepankan posisinya sebagai hamba dan mengagungkan ketuhanan Allah yang mampu melakukan apa saja dan hamba tersebut menomorduakan akalnya yang serba terbatas.  

 

Agama dan Logika

Kalau menengok sejarah, memang orang Arab waktu itu tidak semuanya dengan mudah memahami isra’ mi’raj Nabi Muhammad dengan landasan logika saja. Mungkin, apabila dilogikakan hari ini, di saat dunia sudah banyak kecanggihan teknologi, kita akan bisa mendekatkan pikiran ke arah sana. Dahulu, saat isra’ mi’raj ini berlangsung, masyarakat terlampau jauh untuk menganalogikannya. Bagaimana jarak antara Makkah sampai Palestina yang panjangnya sekitar 1.500 km itu hanya ditempuh dalam waktu sangat singkat?  

 

Di dunia modern ini, jarak yang sedemikian jauh, jika ditempuh dengan naik unta atau kuda bisa berminggu-minggu, kita bisa meringkasnya dengan pesawat yang mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam saja. Lebih dekat lagi, bagaimana kalau kita membayangkan teori jalannya cahaya. Pada hari ini, kita di Indonesia jika akan ke Amerika menggunakan pesawat bisa menghabiskan seharian baru sampai di sana. Namun bagaimana dengan kecepatan teknologi telepon atau Whatsapp? Pada detik ini kita mengirim pesan baik gambar, tulisan atau suara, detik itu pula sampai ke sana. Dengan logika apa pun, mungkin hal seperti ini tidak akan masuk pada logika orang di zaman Nabi Muhammad. Oleh karena itu, dalam urusan agama walaupun agama itu banyak yang rasional, tapi kita tetap harus memposisikan otak kita di belakang penghambaan kita kepada Allah.  

 

Makna Perintah Shalat

Perjalanan malam Nabi Muhammad yang fenomenal itu menghasilkan sebuah perintah shalat lima waktu dengan kisah yang cukup panjang. Yang perlu kita garisbawahi di sini, shalat adalah sebuah perintah yang melalui momen sakral, fenomenal. Oleh karena itu kita harus malu jika sampai meninggalkan shalat.  

 

Kita selalu mengingat dan merayakan sesuatu dalam rangka mengingat momen-momen penting dan fenomenal dalam hidup kita. Kita lahir, sebuah hal fenomenal dalam hidup kita, kita rayakan itu. Momen menikah yang fenomenal, kita kenang itu. Lalu Nabi Muhammad pernah mengalami suatu kejadian fenomenal dari Allah. Dalam kejadian fenomenal tersebut, Allah mewajibkan kita semua untuk menjalankan shalat lima waktu.  

 

Dengan demikian, shalat lima waktu bukanlah hal yanga sepele seperti kita beli makanan ringan, kita sarapan pagi, tidak. Tapi sebuah pekerjaan yang ditugaskan oleh Tuhan melalui perjalanan fenomenal untuk menerima tugas tersebut. Pada hari ini, saat kita menjalankan shalat, kita sedang menjalankan perintah Tuhan yang sangat besar nilainya. Itu berarti bahwa shalat bukan hal yang bisa kita kesampingkan.  

 

Mari kita jaga shalat kita. Harapan kita, kelak, saat kita meninggalkan dunia ini, dalam keadaan menetapi iman Islam, tidak meninggalkan shalat. Kita meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah, amin ya rabbal alamin.


Editor:

Opini Terbaru