Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Akhir KKN Instika Guluk-Guluk, Raih Hikmah Muharram Hingga Kisah Kalender Jawa-Arab

Akhir KKN Instika Guluk-Guluk, Raih Hikmah Muharram Hingga Kisah Kalender Jawa-Arab
Penutupan KKN-DR Posko 20, 21, 22 Instika di Auditorium Pesantren Lubangsa, Selasa (08/09). (Foto : NOJ/ Firdausi).
Penutupan KKN-DR Posko 20, 21, 22 Instika di Auditorium Pesantren Lubangsa, Selasa (08/09). (Foto : NOJ/ Firdausi).

Sumenep, NU Online Jatim

Sudah satu bulan peserta Kuliah Kerja Nyata dari Rumah (KKN-DR) Posko 20, 21, dan 22 Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk menjalankan salah satu Thridharma perguruan tinggi di Pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa.

 

Ketiga posko tersebut sepakat untuk menuntaskan kegiatannya dengan menggelar pengajian umum yang diisi oleh KH. Ach Maimun. Acara dipusatkan di auditorium pesantren Lubangsa yang dihadiri oleh ratusan santri, Selasa (8/9).

 

Abdurrahman mewakili Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pengasuh dan pengurus pesantren yang telah memberikan kesempatan kepada anak didiknya untuk menjalankan programnya yang bersifat edukatif.

 

Menurut pandangannya, program yang difokuskan pada pendampingan dan pemberdayaan potensi lokal tidak jauh berbeda dengan peserta KKN-DR yang berbeda diluar pesantren.

 

"Semua yang dijalankan oleh kalian bagian dari khidmah," ungkap Abdurrahman yang juga Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pergunu (Persatuan Guru NU) Kecamatan Ganding.

 

Tak sampai disitu, dirinya mengapresiasi kegiatan ini karena penutupan dilaksanakan bersama kelompok lainnya. Baginya, ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki keterampilan bekerjasama dengan baik dan meringankan biaya lebih irit.

 

"Tak hanya penutupan secara serimonial tetapi kalian peka melihat situasi sehingga dimasukkanlah pula peringatan tahun baru Islam," ujarnya.

 

Dengan demikian, acara kali ini bernilai positif dan santri bisa menyelami hikmah bulan Muharram.

 

Hikmah Bulan Muharram

KH. Ach Maimun menjelaskan, penghitungan kalender Islam menggunakan perputaran bulan bukan menggunakan perputaran matahari seperti kalender masehi.

 

Direktur Pascasarjana Instika tersebut menceritakan bahwa penetapan kalender Islam diprakarsai saat pemerintahan Umar bin Khattab r.a yang dikenal sebagai pemimpin yang banyak melakukan terobosan.

 

"Penetapannya dilatarbelakangi oleh arsip negara tak tersusun rapi berdasarkan tahun. Karena orang Arab menggunakan tahun dengan menandai peristiwa-peristiwa penting seperti tahun gajah atau kelahiran nabi Muhammad saw," terangnya.

 

Berdasarkan permasalahan tersebut dikumpulkanlah para staf ahli hingga menjadikan Muharram sebagai awal bulan dalam kalender Islam.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Kusuma Bangsa tersebut menegaskan bahwa bulan Muharram merupakan awal mula nabi memerintahkan umatnya untuk hijrah ke Madinah secara diam-diam kecuali Umar r.a mengumumkan kepada bani Quraisy di atas bukit Shafa dengan melalui jalur utama.

 

"Memang benar nabi hijrah di akhir bulan Safar bersama Abu Bakar Shiddiq r.a yang kemudian Ali bin Thalib r.a menyusulnya setelah berpura-pura tidur di atas tempat tidur nabi hingga akhirnya rombongan sampai ke Madinah pada bulan Rabi'ul Awal," ungkapnya.

 

Sejarah membuktikan bahwa bulan Muharram terdapat peristiwa penting kenabian dan dikatakan bulan anti gencatan senjata atau perang toh walaupun pada tanggal 10 Muharram 61 H 4000 pasukan Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash menyerbu rombongan Husein r.a yang berkekuatan 72 orang, 32 prajurit berkuda, dan 40 orang pejalan kaki, selengkapnya terdiri dari anak-anak dan perempuan.

 

"Wafatnya Husein r.a di Karbala diperingati oleh orang Jawa sehingga para kaum wanita perempuan tidak diperkenankan bersolek dan memperkuat ibadah dengan beragam amal kebaikan. Seperti puasa, bermuhasabah, shadakah atau menyantuni anak yatim, hingga muncullah bubur Asyuro di kalangan pedesaan," ungkapnya.

 

Perpaduan Kalender Arab dengan Jawa

Konon saat pemerintahan Sultan Agung di Mataram, kalender Islam dipadukan dengan kalender Jawa yang menggunakan tahun Saka atau Ajisaka warisan tradisi Hindu.

 

Kalender Jawa melukiskan primbon tentang penghitungan, penamaan, dan simbol seperti halnya istilah weton. "Jangan kaget jika kalender di Indonesia memiliki penetapan pasaran, seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon," ulasnya.

 

Tak Sampai disitu, setelah dipadukan terjadi perubahan pada beberapa nama bulan. "Muharram menjadi Sura, Safar menjadi Sapar, Rabi'ul Awal menjadi Mulud, Rabi'ul Akhir menjadi Ba'dha Mulud atau Rasol, Jumadil Awal dan Jumadil Akhir tidak berubah, Rajab berubah Rejeb, Sya'ban berubah Ruwah, Ramadhan berubah Pasa, Syawal menjadi Sawal, Dzulqa'dah menjadi Sela atau Takepe', dan Dzulhijjah menjadi Besar," ungkapnya.

 

Dosen Instika dan IST Annuqayah ini menarik kesimpulan bahwa hijratul makan sudah tidak ada lagi setelah fathu Makkah. Yang ada saat ini hijrah bil hal.

 

"Bagi yang melakukan hijrah bil hal bisa bermuhasabah dan memperbaiki diri dari tahun sebelumnya," pungkasnya

 

Editor: Romza

Iklan Hari Santri