Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

‘Ter-ater’, Cara Warga Tapal Kuda Berbagi Bahagia saat Lebaran

‘Ter-ater’, Cara Warga Tapal Kuda Berbagi Bahagia saat Lebaran
Warga menerima 'ter-ater' dari keluarga terdekat. (Foto: NOJ/MAa)
Warga menerima 'ter-ater' dari keluarga terdekat. (Foto: NOJ/MAa)

Jember, NU Online Jatim

Banyak cara yang dilakukan warga dalam berbagi kebahagiaan. Khususnya dalam momentum hari raya Idul Fitri seperti saat ini. Salah satunya adalah dengan mengantarkan makanan siap santap kepada tetangga.

 

Tradisi itu untuk kawasan Tapal Kuda dikenal dengan istilah ‘ter-ater’. Ter-ater adalah bahasa Madura yang bisa diterjemahkan dengan bahasa Indonesia antar-mengantar. Maksudnya saling mengantar kue dan nasi antartetangga dekat. Kegiatan ter-ater ini biasanya dilakukan 3 hari sebelum lebaran sampai 6 hari seteleh hari raya.

 

 “Tradisi ini juga berfungsi sebagai perekat persaudaraan antartetangga,” ujar Nurhadi kepada NU Online Jatim, Sabtu (15/5/2021).

 

Warga Desa Paseban, Kencong tersebut menjelaskan bahwa selama lebaran, tradisi ter-ater tetap jalan. Namun sasarannya adalah sanak famili. Jadi antarfamili saling mengunjungi dengan membawa kue dan nasi. Tidak hanya di sekitar rumah tapi juga meluas ke tempat lain di mana si famili bertempat tinggal. Setelah dikunjungi, sekian hari kemudian, si famili itu akan melakukan kunjungan balasan dengan ‘oleh-oleh’ yang sama. Biasanya tradisi kunjung-mengunjungi itu akan berakhir setelah lebaran ketupat, yaitu hari ketujuh Idul Fitri.

 

Yang menarik, selama lebaran, siapa pun yang berkunjung antar tetangga apalagi famili, pasti disuguhi makanan berat (nasi).

 

“Suguhan itu sebaiknya memang dimakan. Sebab kalau tidak, terkadang  si tuan rumah tersinggung. Ya kalau kunjungan hari raya, kita harus pintar-pintar mengatur makan. Jangan banyak-banyak makan, agar bisa makan di rumah yang akan dikunjungi berikutnya,” terangnya.

 

Itulah sebabnya kenapa lebaran seolah menjadi hari-hari yang sangat sibuk. Sebab, selain menyediakan suguhan makanan, setiap rumah juga menyediakan kue. Kue tersebut biasanya dibuat beberapa hari sebelum Lebaran tiba. Selain itu, yang sudah pasti adalah baju baru.

 

Selain ter-ter, tradisi yang lain adalah mengunjungi makam leluhur. Itu pasti. Terkadang dilakukan sehari sebelum lebaran, atau pagi-pagi setelah shalat Idul Fitri. Setelah shalat Id,  saling minta maaf antartetangga. Semua pinta terbuka dengan jajanan dan kue yang berjejer  di atas meja. Sujurus kemudian, sebagian warga menghilang untuk mengunjungi sanak saudaranya di tempat lain.

 

Tradisi dan kekhasan seperti ini yang membuat banyak kalangan tidak bisa menahan rindu ketika lebaran tiba. Karenanya segala cara dilakukan demi memastikan bisa berkumpul dengan keluarga di tanah kelahiran.

 

Bagaimana dengan larangan mudik yang diberlakukan pemerintah? Ya, ada sebagian yang menaati, namun tidak sedikit yang terpaksa melanggar. Bagi kalangan kedua ini, berkumpul bersama keluarga dengan aneka kekhasan yang dimiliki tidak dapat diganti dengan lainnya.

Bank Jatim (31/7)