Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

21 Ramadlan, Kiai Abdul Karim Lirboyo Wafat

21 Ramadlan, Kiai Abdul Karim Lirboyo Wafat
Almaghfurlah KH Abdul Karim. (Foto: NOJ/DNn)
Almaghfurlah KH Abdul Karim. (Foto: NOJ/DNn)

Kemegahan dan terkenalnya Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri tentu saja tidak dapat dipisahkan dari para pendahulu. Lewat aneka laku lahir dan batin, pesantren ini telah melahirkan banyak alumni yang memiliki kiprah demikian nyata di masyarakat.

 

Di antara sosok yang sangat menentukan tersebut adalah kiprah KH Abdul Karim yang Ahad (02/05/2021) petang ini haulnya digelar.  Dan secara singkat, berikut sumbangsih yang diberikan almaghfurlah sebagaimana diunggah situs resmi pesantren setempat, Lirboyonet.

 

Dalam catatan, KH Abdul Karim lahir tahun 1856 M di Desa Diyangan, Kawedanan, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Yang bersangkutan merupakan putra pasangan Kiai Abdur Rahim dan Nyai Salamah. Manab adalah nama kecil Kiai Abdul Karim dan merupakan putra ketiga dari empat bersaudara.

 

Saat usia 14 tahun bersama sang kakak, Kiai Aliman, Manab melanglang buana dalam menimba ilmu agama. Dari pesantren satu ke pesantren lain, menimba pengetahuan dan tentu saja karakter diri.

 

Pesantren pertama tempatnya menempa diri berada di Desa Babadan, Gurah, Kediri. Kemudian meneruskan pengembaraan ke daerah Cepoko yang berjarak 20 km arah selatan Nganjuk. Waktu nyantri di pesantren terakhir ini dihabiskan kurang lebih 6 Tahun.

 

Setalah dirasa cukup, Manab muda mendalami kajian Al-Qur’an ke Pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono, Nganjuk. Kemudian melanjutkan belajar di Pesantren Sono, Sidoarjo selama tujuh tahun. Berikutnya nyantri di Pondok Pesantren Kedungdoro, Surabaya, hingga akhirnya meneruskan di pesantren besar di Bangkalan, asuhan ulama kharismatik; Syaikhana Kholil. Sekitar 23 tahun waktunya dihabiskan di pesantren yang memang melahirkan banyak kiai berpengaruh di kawasan Jawa tersebut.

 

Meski usianya saat itu 40 tahun, tidak menyurutkan semangat Manab meneruskan proses belajar. Tujuan kali ini adalah Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang diasuh oleh sahabat karibnya semasa di Bangkalan, KH M Hasyim Asy’ari. Hingga pada akhirnya hadratussyeikh menjodohkan Manab dengan putri Kiai Sholeh dari Banjarmelati Kediri, pada tahun1328 H/ 1908 M.

 

Manab atau Kiai Abdul Karim menikah dengan Siti Khodijah binti KH Sholeh, yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Dlomroh. Dua tahun kemudian Kiai Abdul karim bersama istri hijrah ke tempat baru, di sebuah desa yang bernama Lirboyo. Dan di sinilah titik awal tumbuh dan berkembangnya pesantren tersebut dan terkenal hingga saat ini.

 

Pada 1913 M, Kiai Abdul karim mendirikan sebuah masjid di tengah komplek pesantren sebagai sarana ibadah dan wahana belajar santri.

 

Sosok Sentral

Secara garis besar, Kiai Abdul Karim merupakan pribadi sederhana dan bersahaja. Dikenal gemar melakukan riyadlah; mengolah jiwa atau tirakat, termasuk mengajar. Sehingga seakan hari-harinya hanya berisi pengajian dan tirakat.

 

Dalam kondisi fisik yang tidak lagi mendukung, KH Abdul Karim menunaikan ibadah rukun Islam kelima untuk kali kedua tahun 1950-an. Sebelumnya, pernah ke Makkah dan Madinah untuk haji pada tahun 1920-an ditemani KH M Hasyim Asy’ari, dan dermawan dari Madiun, H Khozin.

 

Di mata santri, KH Abdul Karim dikenal sebagai sosok yang sangat istikamah dan disiplin dalam beribadah. Bahkan dalam kondisi apa pun dan keadaan bagaimana pun masih saja ajeg untuk memberikan pengajian dan memimpin shalat jamaah. Kondisi fisik yang tidak memungkinkan, tidak menghalanginya untuk melaksanakan dua kegemarannya tersebut, meski harus dipapah santri.

 

Puncaknya yakni pada 1954, tepatnya Senin 21 Ramadlan 1374 H, KH Abdul Karim wafat dan dimakamkan di belakang masjid Lirboyo.

 

F1 Promosi Iklan