Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

49 Tahun Wafatnya Mbah Wahab dan Kisah ‘Negosiasi’ dengan Malaikat Izrail

49 Tahun Wafatnya Mbah Wahab dan Kisah ‘Negosiasi’ dengan Malaikat Izrail
Suasana pemakaman KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab. (Foto: NOJ/Istimewa)
Suasana pemakaman KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab. (Foto: NOJ/Istimewa)

Sekadar diketahui bahwa 49 tahun silam, tepatnya 29 Desember 1971, KH Abdul Wahab Chasbullah wafat. Kepergiannya berselang empat hari setelah digelarnya Muktamar NU.  Wafatnya merupakan duka mendalam tidak hanya bagi Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama, juga bangsa Indonesia.

 

Yang menarik dari sosok pahlawan nasional tersebut adalah sempat bernegosiasi dengan Malaikat Izrail. Bahwa di ujung usinya yang mencapai 83 tahun, meminta ajalnya ditunda sampai menyelesaikan Laporan  Pertanggungan Jawab atau LPJ sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Hal itu ternyata benar-benar terjadi karena usai Muktamar ke-25 NU tahun 1971, dirinya wafat. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

 

Ditulis sejumlah literatur bahwa Mbah Wahab, sapaan akrabnya mengalami masa kritis di usianya ke 83 pada tahun 1971. Sejumlah santri kerap kali membacakan Surat Yasin kepada Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang tersebut.

 

Saat itu kondisi Mbah Wahab sudah sangat lemah. Seakan sudah tinggal menunggu waktu segera menghadap keharibaan ilahi rabbi. Bahkan dalam pengakuan para ulama sepuh yang disampaikan kepada keluarga, Malaikat Izrail telah dekat.

 

Walau demikian, berkat izin Mbah Wahab yang kala itu masih tercatat sebagai Rais Aam mampu melampui masa kritisnya. Malaikat Izrail urung menunaikan tugas.

 

KH Bisri Syansuri kala itu datang menjenguk dengan selaksa pengharapan dan doa agar Allah memulihkan sahabat seperjuangan ini.

 

“Kiai, engkau jangan wafat dulu,” kurang lebih begitu ungkapan Kiai Bisri kepada Mbah Wahab.

 

“Kiai masih punya utang,” lanjut Kiai Bisri.

 

Mendengar perkataan Kiai Bisri, sontak Mbah Wahab tersadar dari kondisi kritisnya dan menjawab: “Utang apa?” sergahnya.

 

“Engkau masih belum LPJ,” jawab Kiai Bisri.

 

Waktu itu, Muktamar NU di Surabaya kira-kira kurang tiga bulanan lagi. Di forum permusyawatan tertinggi NU tersebut akan dibacakan LPJ para pengurus, baik tanfidziyah maupun syuriyah yang saat itu Mbah Wahab sebagai Rais Aam.

 

Dari percakapan itu, dan tentu saja ijabah dari Allah SWT, Mbah Wahab  kembali pulih dari kondisi kritisnya. Kembali mengurus NU. Sampai tiba waktu Muktamar NU, tanggal 20 hingga 25 Desember 1971.

 

Di bulan Desember, Muktamar NU diselenggarakan di Surabaya. LPJ pun telah dipertanggungjawabkan. Utang Mbah Wahab lunas dibayar kontan. Pada muktamar tersebut, Mbah Wahab kembali dipercaya menjabat Rais Aam. Namun demikian, pada hakikatnya telah menuntaskan perjuangannya di NU.

 

Setelah muktamar selesai, sebelum muktamirin tiba di kediamannya, terdengar kabar Mbah Wahab berpulang ke rahmatullah. Dari itu, Kiai Bisri mengakui bahwa Mbah Wahab adalah seorang wali yang mampu bernegosiasi dengan Malaikat Izrail sekalipun.

 

Kepada Mbah Wahab, alfatihah.

F1 Promosi Iklan