Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Ada Gus Baha, Ketua NU Sumenep Ingatkan Nahdliyin Pentingnya Istikharah

Ada Gus Baha, Ketua NU Sumenep Ingatkan Nahdliyin Pentingnya Istikharah
KH. A Pandji Taufiq saat sambutan dalam acara Haul Muassis dan Ngaji Kitab al-Ulama al-Mujaddidun karya KH. Maimoen Zubair bersama Dr. KH. Abdul Ghafur Maimoen dan KH. Ahmad Bahaudin Nursalim atau Gus Baha di Ponpes Nasy'atul Muta'allimin, Gapura, Kabupaten Sumenep, Kamis (24/09) malam. (Foto : NOJ/ Habiburrahman).
KH. A Pandji Taufiq saat sambutan dalam acara Haul Muassis dan Ngaji Kitab al-Ulama al-Mujaddidun karya KH. Maimoen Zubair bersama Dr. KH. Abdul Ghafur Maimoen dan KH. Ahmad Bahaudin Nursalim atau Gus Baha di Ponpes Nasy'atul Muta'allimin, Gapura, Kabupaten Sumenep, Kamis (24/09) malam. (Foto : NOJ/ Habiburrahman).

Sumenep, NU Online Jatim

Secara praktis, Istisyarah dan Istikharah sudah menjadi syariat bagi kaum santri atau nahdliyin. Mengingat istikharah merupakan suatu jalan dalam berdoa dan memohon petunjuk kepada Allah SWT dalam menghadapi beberapa persoalan. Dan hal ini penting dilakukan oleh kalangan nahdliyin dalam menghadapi Konfercab yang akan segera dilaksanakan.

 

Hal ini disampaikan oleh KH. A Pandji Taufiq saat memberikan sambutan dalam acara Haul Muassis dan Ngaji Kitab al-Ulama al-Mujaddidun karya KH. Maimoen Zubair bersama Dr. KH. Abdul Ghafur Maimoen dan KH. Ahmad Bahaudin Nursalim atau Gus Baha. Kegiatan ini dilaksanakan di Ponpes Nasy'atul Muta'allimin,  Gapura, Kabupaten Sumenep, Kamis (24/09) malam.

 

Ketua PCNU Sumenep ini pun menyampaikan, bahwa istikharah merupakan hal yang dipatut dilakukan oleh Nahdliyin, utamanya dalam menghadapi Konfercab NU Sumenep, yang direncanakan akan digelar pada Ahad, 27 September 2020 mendatang, di Pondok Pesantren Nasy'atul Muta'allimin.

 

"Masih ada waktu dua hari bagi kita untuk melakukan istikharah," ujarnya.

 

Ia juga mengingatkan, dalam menghadapi Konferensi beberapa tradisi yang tidak selaras dan tidak pernah dilakukan di NU sepatutnya dihindari. Seperti halnya membentuk tim sukses untuk memenangkan calon tertentu dan melakukan intrik-intrik untuk menjatuhkan calon lainnya, apalagi sampai melakukan praktik money politik.

 

"Mengingat, hal-hal yang saya sebutkan ini sama sekali bukan tradisi NU. Jangan bawa-bawa tradisi di luar NU ke dalam tubuh NU," tegasnya.

 

Dikatakan pula, bahwa jangan bermain-main dengan NU. Jangan samakan NU dengan organisasi-organisasi keagamaan dan kemasyarakatan lainnya. Sebab, ada tulah dari para maussis yang akan menimpa, apabila segala yang dilakukan tidak sesuai dengan tradisi NU selama ini.

 

"Dan biasanya tulah dari muassis ini secara pelan-pelan, tanpa dapat disadari penuh oleh kita semua," ujarnya.

 

Sebelumnya, Ketua PCNU Sumenep dua periode ini juga menyampaikan bahwa Konferensi adalah permusyawaratan tertinggi NU di tingkatan Cabang. Salah satu agendanya untuk menyusun program-program NU selama 5 tahun ke depan. Agar program yang dicanangkan sesuai dengan kondisi sosial masyarakat Sumenep.

 

"Yang hal ini sudah di awali dengan kegiatan pra-konferensi, seperti Halaqoh Penguatan Ranting dan Lokakarya Perencanaan Strategis PCNU Sumenep masa khidmat 2020-2025," jelasnya.

 

Di samping itu, setelah menentukan program yang akan digodok oleh warga NU se-Kabupaten Sumenep, juga akan ditentukan siapa kader yang akan menjadi pesuruh warga Nahdliyin dalam menahkodai NU Sumenep 5 tahun ke depan.

 

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep ini menuturkan, istighotsah yang juga digelar malam ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT agar wabah corona segera berlalu. Dalam hal ini, setiap orang dituntut untuk memposisikan diri sebagai OTG, orang tanpa gejala. Tidak lain dimaksudkan agar selalu waspada dan khawatir akan menularkan virus kepada orang lain, bukan ditulari oleh orang lain.

 

"Tidak lain untuk menjaga saudara-saudara kita sesama warga NU, sesama warga Muslim, sesama warga Indonesia," ungkapnya.

 

Disampaikan pula, bahwa PCNU Sumenep mengundang Gus Ghofur dan Gus Baha, semata-mata karena rindu dengan wejangan dan bimbingannya. Juga semata-mata ingin ngaji, dan kecintaan masyarakat Sumenep kepada ilmu agama, khususnya yang berkaitan dengan Ahlus Sunnah wal Jama'ah an-Nahdliyah.

 

"Mengingat, keduanya ini, Gus Ghofur dan Gus Baha, merupakan salah satu azimat negara Indonesia," ujarnya.

 

Seusai Gus Ghofur dan Gus Baha bergantian membaca dan menjelaskan beberapa hal terkait ulama-ulama terdahulu yang ada dalam kitab al-Ulama al-Mujaddidun, acara dipungkasi dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh KH. Taufiqurrahman FM, Rais Syuriyah PCNU Sumenep.

 

Editor : Romza

PWNU Jatim Harlah