Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Agustus, Ingat Kiprah 9 Kiai NU Bergelar Pahlawan Nasional

Agustus, Ingat Kiprah 9 Kiai NU Bergelar Pahlawan Nasional
Selama bulan Agustus, ingatlah jasa pahlawan. (Foto: NOJ/KJi)
Selama bulan Agustus, ingatlah jasa pahlawan. (Foto: NOJ/KJi)

Saat ini bangsa Indonesia memasuki bulan yang demikian penting, Agustus. Tidak semata karena pada bulan ini biasanya diperingati dengan aneka kegiatan heroik. Juga setidaknya mengingatkan kiprah para pendahulu dalam memberikan sumbangsih bagi kemerdekaan dan mengisinya dengan khidmat terbaik.
Kiprah ulama, kiai dan santri dari Nahdlatul Ulama demikian nyata dan sumbangsihnya diakui berbagai kalangan. Bahkan tidak sedikit namanya kemudian diakui sebagai pahlawan nasional.

 

Para pahlawan nasional dari NU ini, menurut sejarawan KH Abdul Mun’im DZ menunjukkan bahwa jamiyah ini bukan pemain figuran dalam pembentukan negara, melainkan pemeran utama.  

 

Artikel diambil dari9 Tokoh NU Bergelar Pahlawan Nasional

 

Berikut ini nama tokoh bergelar pahlawan nasional yang pernah aktif di NU di berbagai tingkatan yang disusun berdasarkan tahun penetapan gelar. Hanya disajikan riwayat sangat singkat dan sebagian kecil peran dan jasa mereka yang besar untuk umat dan negaranya.     

 

1. Hadratussyekh KH Hasyim Asyari

KH Hasyim As’yari adalah tokoh utama dan pendiri Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926. Merupakan satu-satunya penyandang gelar Rais Akbar NU hingga akhir hayatnya dan tak pernah ada lagi hingga sekarang. 

 

Ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 17 November 1964 berkat jasanya yang berperan besar dalam pendidikan melalui NU dan melawan penjajah. Salah satu di antara jasanya untuk negara ini adalah memutuskan NU untuk mengeluarkan resolusi jihad fi sabilillah yang direkomendasikan untuk pemerintah RI yang baru berdiri dan jihad fi sabilillah untuk umat Islam dengan fatwa bahwa setiap orang dewasa yang berada dalam radius 90 km dari medan pertempuran melawan penjajah wajib berperang. Keduanya diputuskan menjadi pernyataan resmi organisasi NU pada 22 Oktober 1945. Tanggal tersebut kemudian dijadikan sebagai hari santri.     

 

2.  KH Abdul Wahid Hasyim  
Adalah putra Hadratussyekh KH Hasyim As’yari dan ayah dari presiden keempat RI KH Abdurrahmann Wahid. Merupakan salah satu anggota Badan Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). 

 

Di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang memelopori masuknya ilmu pengetahuan umum ke dunia pesantren dengan mendirikan Madrasah Nidzmiyah dengan ilmu umum 70 persen, ilmu agama 30 persen. 
Ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 17 November 1960.  

 

3. KH Zainul Arifin   
Merupakan tokoh NU asal Barus, Sumatera Utara. Aktif di NU sejak muda melalui kader dakwah. Di antara jasanya pada pembentukan pasukan semi militer Hizbullah. Kemudian menjadi panglimanya. 

 

Pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia, Ketua DPR-GR. Selain itu, berjasa dalam menjadi anggota badan pekerja Komite Nasional Pusat. 

 

Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 4 Maret 1963.  

 

 

4. KH Zainal Musthafa  
Merupakan tokoh NU dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Pernah menjadi salah seorang Wakil Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). 

 

Dikenal sebagai salah seorang kiai yang secara terang-terangan melawan para penjajah Belanda. Hal tersebut dibuktikan ketika Belanda lengser dan diganti penjajah Jepang, ia tetap menolak kehadiran mereka. Bersama sejumlah santrinya mengadakan perang dengan Jepang. Atas jasanya ia dianugerahi sebagai pahlawan nasional pada1972.  

 

5. KH Idham Chalid  
Pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Juga sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR. 

 

Selain sebagai politikus, merupakan Ketua Umum PBNU pada tahun 1956-1984. Hingga saat ini merupakan ketua paling lama di ormas bentukan para kiai ini. 

 

Atas jasanya, ditetapkan sebagai pahlawan pada 8 November 2011. Kemudian pada 19 Desember 2016, pemerintah mengabadikannya di pecahan uang kertas rupiah baru, pecahan Rp5 ribu. 

 

6. KH Abdul Wahab Chasbullah  
Dikenal dengan sapaan akrab Mbah Wahab atau Kiai Wahab merupakan salah seorang pendiri NU. Sebelumnya mendirikan kelompok diskusi Tashwirul Afkar (pergolakan pemikiran), pendiri Madrasah Nahdlatul Wathan (kebangkitan negeri), pendiri Nahdlatut Tujjar (kebangkitan pedagang). 

 

Sejak 1924, mengusulkan agar dibentuk perhimpunan ulama untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis yang bermazhab. Usulannya terwujud dengan mendirikan NU pada 1926 bersama kiai lain. 
Ia juga salah seorang penggagas Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI), pernah menjadi Rais ‘Aam PBNU. 

 

Kiai yang wafat pada 29 Desember 1971 itu mendapatkan gelar pahlawan pada 8 November 2014.  

 

7. KH As’ad Syamsul Arifin   
Kiai As'ad adalah kiai yang berperang melawan penjajah. Dikenal menjadi pemimpin para pejuang di Situbondo, Jember maupun Bondowoso, Jawa Timur. 

 

Di masa revolusi fisik, Kiai As'ad menjadi motor yang menggerakkan massa dalam pertempuran melawan penjajah pada 10 November 1945. 

 

Selepas kemerdekaan dikenal sebagai penggerak ekonomi-sosial masyarakat. Yang dilakukan menyerap aspirasi dari warga kemudian mendorong pemerintah daerah, menteri, maupun presiden guna mewujudkan pembangunan yang merata. 

 

Kiai As'ad juga berperan menjelaskan kedudukan Pancasila tidak akan mengganggu nilai-nilai keislaman. Atas jasa-jasanya, mendapat anugerah pahlawan pada 9 November 2016.  

 

8. KH Syam’un 
Merupakan pengurus NU di Serang, Banten. Pernah hadir di Muktamar keempat NU di Semarang pada 1929, pada Muktamar kelima NU di Pekalongan 1930 dan pada Muktamar kebelas NU di Banjarmasin pada 1936. 

 

KH Syam'un selain alim dalam keilmuan, menguasai tiga bahasa asing dan pernah mengajar di Arab Saudi pada masa mudanya. Ketika kembali ke Tanah Air bergabung dengan kelaskaran. 

 

Pernah menjadi perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Pernah menjadi Komandan Batalyon berpangkat daidancho atau mayor tahun 1943. 

 

Tahun 1944 dilantik jadi Komandan Batalion PETA berpangkat mayor, memimpin 567-600 orang pasukan. Saat TKR dibentuk 5 Oktober 1945, pangkatnya naik jadi kolonel, Komandan Divisi l TKR dengan memimpin 10.000 orang pasukan. 

 

Tahun 1948, ia naik pangkat brigadir jenderal dengan memimpin gerilya di wilayah Banten, sampai wafatnya tahun 1949. 

 

Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 8 November 2018.  

 

9.    KH Masykur  
KH Masjkur adalah tokoh NU yang pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Di antara kontribusinya adalah ikut terlibat merumuskan Pancasila sebagai dasar negara. 

 

KH Masjkur juga tercatat selaku pendiri PETA yang kemudian menjadi unsur laskar rakyat dan TNI di seluruh Jawa. 

 

Ketika pertempuran 10 November 1945, namanya muncul sebagai pemimpin Barisan Sabilillah. 
Pernah menjadi Menteri Agama Indonesia pada 1947 hingga 1949 dan 1953 sampai 1955. Juga menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI periode 1956 sampai 1971 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1968. 

 

Selain itu, Kiai Masjkur ikut serta membangun moral anak bangsa dengan mendirikan Yayasan Sabililah, lembaga masyarakat yang bergelut di bidang pendidikan. 

 

Ditetapkan pemerintah sebagai Pahlawan Nasional pada 8 November 2019.


Editor:
F1 PWNU Jatim