Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Anggota Harus Tahu, Ini Profil Pendiri Banser asal Ponorogo

Anggota Harus Tahu, Ini Profil Pendiri Banser asal Ponorogo
Foto Muhammad Zaenudin Kayubi semasa hidupnya. (Foto: NOJ/ Husnul Khotimah).
Foto Muhammad Zaenudin Kayubi semasa hidupnya. (Foto: NOJ/ Husnul Khotimah).

Ponorogo, NU Online Jatim

Muhammad Zaenudin Kayubi adalah salah satu tokoh pendiri lembaga semi otonom dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor yakni Barisan Ansor Serbaguna atau Banser. Pendiri sekaligus komandan pertama Banser ini dilahirkan di Kabupaten Ponorogo tepatnya di Desa Pengkol, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo pada tanggal 1 Januari 1926.

 

Ia merupakan anak pertama dari 5 saudara, ayahnya bernama Abu Hasan, sedangkan Sringatun adalah nama ibunya. Seusai pendidikan Sekolah Dasar (SD), Kayubi pergi nyantri ke salah satu Pondok Pesantren di Desa Waung, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk.

 

Disinilah Kayubi mendalami pelajaran agama dan memahami Islam Ahlussunnah wla Jamaah. Sejak masa mudanya, Kayubi sudah aktif dalam organisasi dan dunia kemiliteran, seperti Barisan Hizbullaah yang didirikan di bawah naungan Masyumi.

 

Ia juga mengikuti Agresi Militer I dan II melawan para penjajah tentara asing hingga berjuang menumpas dalang pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun yang melakukan pengkhianatan terhadap Indonesia.

 

Kayubi ini memiliki postur tubuh  kurus, tinggi,  dan memiliki suara yang menggelegar. Sehingga saat ia berpidato orang yang mendengarkan akan tunduk. Ciri khas yang melekat pada dirinya ialah tampilannya selalu necis, pakaian yang digunakan selalu disetrika rapi.

 

“Beliau ini memiliki sikap pemberaninya dan keras, salah satunya dilatarbelakangi oleh lingkungannya di Desa Pengkol yang dahulu memang kabarnya basis PKI.  Setelah diketahui oleh PKI bahwa Kayubi adalah seorang santri dan merupakan anggota kemiliteran, sejak itu banyak yang melakukan penyerangan kepadanya. Ia pernah ditembak berkali-kali, tetapi pelurunya tidak pernah tembus ke badannya,” kata Muhammad Alwy Amru Ghozali, salah satu keluarga Kayubi.

 

Pada tahun 1952 setelah revolusi kemerdekaan Indonesia, Kayubi berhenti pada aktivitas kemiliteran dan menjadi pegawai di Kantor Urusan Agama (KUA) di Desa Jenangan Ponorogo. Kemudian satu tahun kemudian  ia bersama istrinya yang bernama Qomariyah, pindah tugas di bagian Urusan Agama Islam (Urais) di Kabupaten Blitar.

 

Selain bekerja di kantor, ia juga tetap aktif di Kepanduan Ansor dan menjadi Ketua Pandu Ansor NU hingga menjadi Sekretaris PCNU Kabupaten Blitar. Ia juga pernah menduduki jabatan sebagai anggota DPRD  Kotamadya Blitar yang di usung oleh salah satu partai NU.

 

Pada tahun 1964  Kayubi terpilih menjadi Ketua Cabang GP Ansor Blitar. Pada masa inilah terjadi bentrokan antara NU dengan PKI. Karena konflik itu, akhirnya seluruh PC GP Ansor se Kerasidenan Kediri membentuk Komando Daerah (Komda) dan Kayubi ditunjuk sebagai ketuanya.

 

Komda ini merupakan lembaga semi militer keamanan gabungan yang anggotanya adalah unsur dari anggota Ansor berbagai daerah. Komda memiliki fungsi memperkuat pengamanan tanah milik masyarakat dan pondok pesantren. Kemudian Komda menyepakati adanya lembaga semi militer di bawah naungan GP Ansor.

 

Atas inisiatif dari Kayubi inilah terbentuk Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang bermarkas di rumahnya. Atas prestasinya, ia diangkat sebagai Jenderal Banser dan mendapat penghargaan Bintang Lencana Gerakan dari Pimpinan Pusat GP Ansor.

 

 

Diakhir masa tuanya, ia kembali ke Ponorogo dan menghembuskan nafas terakhirnya pada 2 Desember 1983. Almarhum Kayubi meninggalkan sembilan putra dan istrinya Qomariyah. Kayubi dimakamkaan di Taman Arum Ponorogo.

 

Penulis: Husnul Khotimah

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim