Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Ansor Kabupaten Kediri Gelar Apel Hari Santri dengan Protokol Kesehatan

Ansor Kabupaten Kediri Gelar Apel Hari Santri dengan Protokol Kesehatan
Apel hari santri oleh PC GP Ansor Kabupaten Kediri di Lapangan Desa Mragen, Purwoasri. (Foto: NOJ/Istimewa)
Apel hari santri oleh PC GP Ansor Kabupaten Kediri di Lapangan Desa Mragen, Purwoasri. (Foto: NOJ/Istimewa)

Kediri, NU Online Jatim

Peringatan hari santri digelar di sejumlah kawasan. Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Kediri menggelar apel yang dihadiri sekitar 1500 anggota. Kendati demikian, selama kegiatan berlangsung tetap mematuhi protol kesehatan. Hal tersebut dibuktikan dengan hanya menghadirkan masing-masing pimpinan anak cabang sebanyak 50 peserta.

 

Apel dihadiri KH Abdul Nasir  Badrus selaku Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an, Al-Hikmah Purwoasri. Acara dilangsungkan di Lapangan Desa Mragen, Purwoasri.

 

“Memperingati hari santri berarti mencoba meneladani para ulama dan pejuang kemerdekaan, juga para santri yang berjibaku meregang nyawa demi mempertahankan kemerdekaan bangsa,” kata KH Abdul Nasir  Badrus, Ahad (25/10/2020).

 

Alumni Pesantren Tebuireng ini mengemukakan penetapan hari santri terkait erat dengan seruan resolusi jihad yang dicetuskan KH M Hasyim Asy’ari.

 

Dijelaskan Gus Nasir, panggilan akrabnya bahwa pada 21 Oktober 1945 PBNU mengundang konsul-konsul NU seluruh Jawa-Madura untuk rapat di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Surabaya. Pada rapat PBNU yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah ini, PBNU menetapkan keputusan penting yang diberi nama Resolusi Jihad Fi Sabilillah.

 

“Keputusan bersejarah ini diumumkan tepat tanggal 22 Oktober 1945,” ungkap mantan Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kediri ini.

 

Dikatakannya bahwa inilah sejarah penting yang melatari lahirnya hari santri. Sejarah yang memungkinkan bangsa Indonesia tidak jatuh kembali ke tangan penjajah setelah sebulan sebelumnya kemerdekaan diproklamirkan.

 

“Tidak salah jika ada yang berpendapat, tidak ada hari pahlawan tanpa resolusi jihad, alias hari santri. Resolusi jihad menunjukkan peran besar santri dalam menegakkan kemerdekaan negara ini. Resolusi jihad merupakan ekspresi patriotisme dan nasionalisme santri yang berbasis ajaran Islam Aswaja,” tegasnya.

 

Gus Nasir mendukung yang dilakukan para santri khususnya Ansor dan Banser yang ikhlas fi sabilillah dalam berjuang. Termasuk perjuangan Banser Kediri dengan membantu uang kontan Rp 20 juta.

 

Menurutnya, hari santri merupakan salah satu momentum sejarah penting. Berbagai peristiwa sejarah lain menunjukkan patriotisme dan nasionalisme masyarakat santri.

 

Penegasan yang sama juga disampaikan Ketua PC GP Ansor Kabupaten Kediri terpilih, Rizmi Haitami Azizi saat menjadi pemimpin upacara.

 

Selaku kader Ahlussunah wal jamaah dan NU, maka Ansor dan Banser harus meneruskan semangat perjuangan dengan cara bersatu satu komando melaksanakan beberapa aktivitas yang bisa mengangkat harkat dan derajat para kiai, ulama dan pemerintah.

 

“Kita harus melanjutkan semangat perjuangan para santri dan ulama semampu kita,” katanya.

 

Karena saat ini tidak lagi berada di era penjajahan fisik, yakni globalisasi dan era post-truth, serta revolusi industri 4.0, juga generasi-Z.

 

“Apapun namanya, kita dihadapkan oleh berbagai tantangan baru, sekaligus peluang baru. Maka harus kita hadapi bersama,’’ tegas Gus Rizmi yang disambut shalawat oleh peserta apel yang terdiri dari anggota Ansor, Rijalul Ansor dan Banser dari 26 kecamatan di Kabupaten Kediri.

 

Tampak hadir Komandan Corps Provost Nasional, H Imam Kusnin Ahmad, H Moh Hasyim Asy’ari (mantan ketua/DPRD), Agus Triyadi (mantan Ketua/Sekretaris PCNU Kediri), Moh, Habib (mantan Sekretaris PCNU/guru dan LSM).

PWNU Jatim Harlah