Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Asmaul Husna, Mengapa Disarankan saat Berdoa dan Dzikir?

Asmaul Husna, Mengapa Disarankan saat Berdoa dan Dzikir?
Asmaul husna disarankan disertakan dalam doa dan dzikir. (Foto: NOJ/GAm)
Asmaul husna disarankan disertakan dalam doa dan dzikir. (Foto: NOJ/GAm)

Hakikat dzikir dan doa adalah bahwa hati memiliki keterkaitan dengan Allah SWT. Baik dalam suasana hening, usai shalat dan ibadah lain, hingga di keramaian juga disarankan untuk tertus mengingat Sang Pencipta. Dan ibadah tersebut kian utama bila menggunakan asmaul husna atau nama-nama indah Allah.

 

Sering sekali kita mendengar pembacaan asmaul husna (nama-nama indah Allah) dalam doa-doa, di antaranya doa Ismul A’dham yang masyhur. Sebagian asmaul husna pun ada yang diamalkan secara khusus, dengan diwiridkan dalam jumlah tertentu sesuai ijazah yang diberikan oleh gurunya. 

 

Namun adanya ijazah wirid maupun tidak bukan suatu masalah untuk mengamalkannya. Karena dzikir dan wirid adalah amalan yang dianjurkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Asmaul husna sendiri sebenarnya memiliki keutamaan tersendiri, banyak rahasia dan manfaat yang terkandung di dalamnya. Apalagi jika sudah terbiasa mengimplementasikan asmaul husna dalam sikap keseharian, seperti sifat rahman yang artinya Maha Penyayang, maka bentuk pengimplementasiannya adalah dengan menyayangi seluruh makhluk Allah. 

 

Syekh Shâlih al-Ja’fari mengatakan:


 فَالَّذِي يَدْعُو بِهَا فَقَدِ اسْتَجْلَبَ الْخَيْرَ كُلَّهُ لِنَفْسِهِ وَجَعَلَ الْوِقَايَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، فَإِذَا قُلْتَ مَثَلًا الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ فَقَدِ اسْتَجْلَبْتَ الرَّحْمَةَ، وَإِذَا قُلْتَ: اللَّطِيْفُ فَقَدِ اسْتَجْلَبْتَ اللُّطْفَ... الخ 

 

Artinya: Orang yang berdoa dengan asmaul husna maka telah meminta kebaikan seluruhnya, dan membuat pencegahan di antara dirinya dan keburukan seluruhnya. Jadi apabila engkau menyebut ar-Rahmân ar-Rahîm, maka kamu telah meminta rahmat, dan jika kamu menyebut al-Lathîf maka kamu telah meminta kelembutan, dan seterusnya. (Muhammad bin Alwi al-Aidarus, Khawwâsh Asmâ` ul-Husnâ Littadâwi wa Qadhâ il-Hâjât, Dar el-Kutub, Shan’a, Cet. Ke-3 2011, halaman 16) 

 

Artikel diambil dariFaedah Membaca Asma’ul Husna

 

Kesimpulannya, manfaat yang kita dapatkan dari membaca asmaul husna, seperti dijelaskan Syekh Shâlih al-Ja’fari, adalah sebagaimana asma yang disebut. 

 

Disebutkan dalam kitab Khawwâsh Asmâ’ul-Husnâ Littadâwi wa Qadhâ il-Hâjât:


 فَذِكْرُهَا نَافِعٌ لِلدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالآخِرَةِ، وَذِكْرُهَا يُسَمَّى مَجْمَعَ الْخَيْرَاتِ وَمَفَاتِحَ الْبَرَكَاتِ وَمَجَلَّى التَّجَلِّيَاتِ، مَاوَاظَبَ عَلَيْهَا مَكْرُوْبٌ إِلَّا فَرَّجَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ كُرْبَةً، وَلَا مَدْيُوْنٌ إِلَّا قَضَى اللهُ تَعَالَى دِيْنَهُ، وَلَا مَغْلُوْبٌ إِلَّا نَصَرَهُ اللهُ تَعَالَى، وَلَامَظْلُوْمٌ إِلَّا رَدَّ اللهُ تَعَالَى مَظْلَمَتَهُ، وَلَا ضَالٌّ إِلَّا هَدَاهُ اللهُ، وَلَامَرِيْضٌ إِلَّا شَفَاهُ اللهُ تَعَالَى، وَلَا مُظْلِمُ الْقَلْبِ إِلَّاَ نَوَّرَ اللهُ تَعَالَى بِهَا قَلْبَهُ 

 

Artinya: Menyebut asmaul husna bermanfaat bagi (urusan) dunia, agama, dan akhirat, dan dzikirnya dinamakan kumpulan kebaikan-kebaikan, kunci-kunci keberkahan, dan singkapan kejelasan. Tidaklah kesulitan yang ditekuni dengan asmaul husna melainkan Allah lapangkan kesulitannya, tidaklah utang melainkan Allah tunaikan utangnya, tidaklah kekalahan melainkan Allah akan menolongnya, tidak orang yang didzalimi melainkan Allah kembalikan kedzalimannya, tidaklah orang yang sesat melainkan Allah beri petunjuk, tidaklah orang yang sakit melainkan Allah sembuhkan penyakitnya, tidaklah kegelapan hati melainkan Allah terangi hatinya dengan asmaul husna. (Muhammad bin Alwi al-Aidarus, Khawwâsh Asmâ` ul-Husnâ Littadâwi wa Qadhâ il-Hâjât, Dar el-Kutub, Shan’a, Cet. Ke-3 2011, halaman 17) 

 

Demikian keutamaan-keutamaan dari membaca asmaul husna. Barangkali setelah mengamalkan muncul pertanyaan mengapa faedah tersebut belum datang juga, misalkan. Perlu kita ketahui bahwa tujuan utama dari dzikir sebenarnya bukan keutamaan itu sendiri, melainkan keutamaan adalah bonus saja. Dzikir merupakan pertanda hidupnya hati. Kualitas dzikir juga berkaitan dengan kebiasaan si pelaku dzikir. Dzikirnya orang yang sudah memiliki derajat di sisi Allah tentu berbeda dengan orang yang sehari-harinya jarang menyebut asma-Nya. 

F1 Promosi Iklan