Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Aswaja NU Center Jatim Ungkap Jihad tidak Berarti Perang

Aswaja NU Center Jatim Ungkap Jihad tidak Berarti Perang
Tangkapan layar kajian Islam yang diadakan Aswaja NU Center Jatim, Sabtu (28/08/2021). (Foto: NOJ/ Sunnatullah).
Tangkapan layar kajian Islam yang diadakan Aswaja NU Center Jatim, Sabtu (28/08/2021). (Foto: NOJ/ Sunnatullah).

Bangkalan, NU Online Jatim

Istilah perang dalam kitab-kitab salaf tidak hanya jihad, tetapi memiliki banyak istilah. Misalnya Qital, Harb, Khuruj, dan lainnya. Hal ini dipaparkan Kiai Fathul Qadir dari Pengurus Wilayah (PW) Aswaja NU Center Jawa Timur.

 

Kiai Fathul Qadir menjelaskan secara panjang lebar perihal jihad menurut pandangan ulama salaf itu dalam acara kajian Islam Ahlussunnah wal Jamaah, Sabtu (28/08/2021). Istilah-istilah Qital, Harb, Khuruj, dan lainnya merupakan sebuah ungkapan yang maknanya tidak jauh berbeda dengan jihad yang sering digembar-gemborkan oleh sebagian kalangan.

 

“Akan tetapi yang yang perlu dipahami lebih dalam adalah istilah tersebut jarang ditemukan dalam kitab-kitab salaf dan lebih sering menggunakan istilah jihad,” katanya saat menjadi narasumber dalam acara bertema “Jihad Mengisi Kemerdekaan” tersebut.

 

Lebih jauh Kiai Fathul Qadir mengungkapkan, hal itu tidak lain karena “jihad” memiliki arti yang lebih luas dari lainnya. Istilah jihad juga mencakup melawan diri sendiri, dengan meninggalkan keharaman dan mengajak pada ketaatan, melawan setan, jihad dengan harta, dengan bersedekah, dan jihad dengan lisan dan lainnya.

 

“Pada zaman dahulu, jihad yang diartikan sebagai perang adalah keputusan terakhir, karena sejatinya Islam adalah agama yang membangun sebuah kedamaian. Pada prinsipnya, jihad tidak hanya bisa diartikan sebagai perang,” paparnya.

 

Pada acara yang sama, Kiai Fathul Qadir juga menjelaskan perihal korelasi jihad dengan kemerdekaan saat ini. Menurutnya, jihad yang tepat untuk mengisi kemerdekaan adalah dengan melakukan berbagai kemaslahatan yang bisa dilakukan. “Baik untuk umat, bangsa dan lainnya,” ungkapnya.

 

Sementara itu, Kiai Ahmad Muntaha AM, yang juga menjadi narasumber dalam kajian tersebut memaparkan, upaya menerapkan jihad yang dilakukan para ulama NU adalah dimulai sejak sebelum organisasinya lahir sampai saat ini.

 

Menurut Founder Aswaja Muda itu, jihad memiliki makna yang berbeda sesuai dengan keadaan dan konteksnya. Pada masa penjajahan, jihad diartikan sebagai perang yang berarti keras. Untuk saat ini, jihad lebih tepat diartikan dengan sebuah upaya untuk memperdalam ilmu Allah SWT. Sebab, tidak ada sebuah kebaikan dalam suatu bangsa, jika generasinya bodoh.

 

“Perjuangan para ulama terdahulu bisa disimpulkan menjadi beberapa kesimpulan, yaitu;  pertama, perjuangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, tujuannya untuk menegakkan agama Islam. Kedua, perjuangan para ulama dahulu tidak untuk mencari kedudukan, jabatan dan lainnya," jelasnya.

 

"Ketiga, perjuangan mereka disertai ilmu. Artinya, jika waktu keras, yak eras, dan pada waktu lemas, ya lemas. dan keempat, perjalanan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dalam mengupayakan jihad bersama koleganya perlu diperjuangkan sampai saat ini, ini merupakan warisan yang perlu dirawat oleh generasi bangsa,” lanjutnya.

 

 

Editor Keislaman NU Online itu juga mengungkapkan, makna jihad dalam konteks saat ini bisa dilakukan dengan apa saja. Misalnya, jihad bisa dilakukan dengan ofline, bisa juga dilakukan secara online.

 

Penulis: Sunnatullah

Editor: Romza


Editor:
F1 Bank Jatim