Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Bagaimana Menjadikan Anak Sukses Zaman Now?

Bagaimana Menjadikan Anak Sukses Zaman Now?
Komunikasi dan doa kepada anak harus dilakukan orang tua. (Foto: NOJ/Sdo)
Komunikasi dan doa kepada anak harus dilakukan orang tua. (Foto: NOJ/Sdo)

Oleh: Kiai Dardiri Zubairi

 

Banyak keluhan, betapa sulitnya mendidik anak saat ini. Menghadapi liberalisme kebudayaan dimana penghormatan terhadap hak individual demikian diagungkan, menjadikan anak ngeyel, susah diatur, dan mau menang sendiri. Belum lagi anak-anak dikepung permainan modern yang cenderung asyik sendiri, misal game, bahkan permainan itu terkadang mengandung pesan kekerasan dan tidak senonoh. Pokoknya jadi orang mumet. Begitu keluhan sebagian orang tua.

 

Tapi, pernahkah orang tua membalik sudut pandangnya? Seandainya orang tua hidup sebagai anak pada saat ini, bedakah kira-kira karakternya dengan anak sekarang? Pertanyaan seperti hanya ingin menyampaikan, dari perspektif anak, bahwa tidak mudah menjadi anak pada saat ini. Mereka korban. Lingkungan sosial mereka telah memojokkan seperti 'no way out' dengan segala macam gempuran dari seluruh penjuru mata angin sehingga karakter baik mereka kian redup.

 

Jika begini masalahnya, terus orang tua apa? Diam? Tidak peduli? Atau mengambil sikap ekstrem, melarang sepenuhnya anak untuk hidup sesuai zamannya? Pilihan jawaban atas pertanyaan di atas sama-sama tidak arifnya. Satu sisi seolah orang tua mengatakan, zaman dengan segenap pernak-perniknya, seluruhnya bagus untuk anak. Sementara di sisi lain, ada orang tua yang mau merampas anak dari konteks zamannya.

 

Lalu, apa yang harus dilakukan? Anak tidak bisa dibiarkan bertarung sendirian menghadapi zamannya. Tugas orang tua adalah mendampingi. Dengan begitu, orang tua berikhtiar untuk mendidik anak arif melihat zamannya, tanpa larut tapi juga tidak lari. Jika setuju terhadap tesis ini, berarti anak yang didamba adalah anak yang memiliki karakter kuat, anak-anak yang bisa 'survive' menghadapi zamannya.

 

Maka, pintar saja tidak cukup. Butuh pendidikan karakter yang menyusup hingga tulang sumsum anak. Di sini pentingnya akhlak yang bisa memberikan wawasan bagi anak bagaimana mereka membangun relasi dengan Allah, sesama, dan alam. Anak tahu menempatkan diri. Adil, bijak, dan arif. Anak-anak seperti ini dalam kearifan lokal Madura disebut 'tarbuka', perpaduan kecerdasan otak dan hati (spiritual).

 

Lalu bagaimana caranya? Nah, cara harus dilakukan orang atau lembaga. Tanpa ada yang menjalankan, cara itu jadi 'omong kosong'. Maka orang tua (keluarga) dan para guru (pesantren, madrasah, sekolah dan sebagainya) harus hadir mendampingi anak. Namanya mendampingi tentu harus bisa menyelami dunia anak, menemukan kebutuhannya, membimbing dan mengarahkan dengan cara-cara yang arif sesuai dunia anak.

 

Ketika bicara kebutuhan jangan selalu merujuk pada ketersediaan mainan atau apapun yang bersifat lahir. Yang paling penting adalah kebutuhan kasih sayang. Usapan, belayan, dekapan, bicara dengan hati, sapaan akrab, sambutan hangat, dukungan ketika kondisi psikologisnya lelah dan sejenisnya. Tapi ingat, tegas sangat penting terutama dalam soal kesalahan prinsip yang dilakukan anak. Tegas menandakan bahwa otoritas orang tua ada, meski jangan sampai memandulkan kreativitas anak.

 

Sejatinya, keluarga dan madrasah maupun sekolah senafas. Nilai-nilai karakter jika berbeda di dua lembaga itu hanya akan menjadikan anak pecah keperibadiannya. Dan tidak ada metode ampuh untuk mengajarkan karakter baik bagi anak kecuali keteladanan.

 

Tak kalah pentingnya, mendidik anak juga butuh mendekat kepada Sang Maha Pendidik. Doa orang tua atau 'tirakat' sebagaimana dilakukan orang dulu tetap perlu dilestarikan. Dalam tradisi orang Jawa maupun Madura, ada kebiasaan dulu selalu berpuasa di hari 'katerbi'anna' (hari kelahiran anak). Kebiasaan lain, membawa anak 'nyabis' (sowan) kepada orang-orang shaleh sambil anak kita minta didoakan.

 

Jika karakter dianggap penting, maka ukuran rangking atau hanya cerdas otak jauh dari cukup. Jika mau membandingkan, mending anak memiliki karakter suka membantu temannya meski otak biasa, ketimbang otaknya pinter tapi tak peduli. Tentu harapan kita, dua-duanya tercapai. Otak bagus, karakter oke.

 

Lalu, jika karakter penting, apa karakter anak bisa menjadikan mereka sukses? Bukankah selama ini hanya otak yang jadi ukuran? Meski banyak pertanyaan soal makna sukses, tapi sebaiknya lihat saja di sekeliling, apa orang dengan karakter kuat, sebagaimana yang digambarkan di atas, menderita?

 

Pegiat pesantren di Sumenep.

Iklan Hari Pahlawan