Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Bangkit dari Pandemi, Pesantren di Mojokerto Olah Lele Jadi Abon

Bangkit dari Pandemi, Pesantren di Mojokerto Olah Lele Jadi Abon
M Ghofirin (Sekretaris OPOP Jatim) dalam acara podcast di Pesantren Baitus Surur Mojokerto. (Foto: NOJ/opopjatim)
M Ghofirin (Sekretaris OPOP Jatim) dalam acara podcast di Pesantren Baitus Surur Mojokerto. (Foto: NOJ/opopjatim)

Mojokerto, NU Online Jatim

Pondok Pesantren Baitus Surur Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto tidak patah semangat dalam melakukan pemberdayaan ekonominya walau di tengah masa sulit Pandemi Covid-19. Pesantren ini sudah tiga tahun melakukan budidaya lele sebagai ikhtiar perekonomian pesantren.

 

Choirul Wahyudi, Pengasuh Pondok Pesantren Baitus Surur mengatakan bahwa pandemi Covid-19 ini membuat usahanya menurun. Kendati demikian, ia tetap optimis untuk bangkit. Terbukti, perlahan usaha lele yang digeluti pesantren ini mengalami perkembangan yang cukup baik.

 

“Alhamdulillah kami mulai bangkit, untuk omset sudah kembali sekitar 80 persen. Insyaallah di tahun ini saya yakin bisa 100 persen,” katanya, Sabtu (22/05/2021).

 

Kiai Wahyudi menambahkan, salah satu upaya untuk mempertahankan usaha di tengah pandemi adalah dengan melakukan inovasi. Oleh karena itu, hasil budidaya lele di pesantren ini diolah menjadi abon lele.

 

“Sebelumnya kita memang menjual lele segar di pasar, namun kita kalah dengan tengkulak. Maka dari itu saya mulai berinovasi dengan membuat nugget, pentol, dan abon. Namun saya akhirnya fokus kepada abon, karena masa tahannya hampir mencapai empat bulan. Untuk abon ini tidak hanya dari daging lele saja, tapi juga dari duri lele yang memang tinggi kalsium. Nah untuk kepala lele kita sempat mengolahnya untuk dijadikan kecap, namun kita stop sementara, karena kita akan mencoba kepala lele untuk dijadikan abon,” jelasnya.

 

Ia menambahkan bahwa ikan lele yang diternak oleh pesantren ini berbeda dengan lele pada umumnya.

 

“Kami memiliki trik dalam masa perawatan hingga saat panen. Sehingga, daging yang dihasilkan mampu memiliki kualitas yang baik.” Tambahnya.

 

Sementara itu M Ghofirin, Sekretaris One Product One Pesantren (OPOP) Jatim yang melihat langsung budidaya lele Kiai Wahyudi ini merasa bangga, karena pesantren mampu menjadi pusat perekonomian dengan produk unggulan yang dimiliki.

 

“Sebuah pesantren yang tidak terlalu besar namun semangat geliat ekonomi disini luar biasa. Kiai juga merasakan langsung dampak dari program OPOP, mulai dari pelatihan, pendampingan, hingga permodalan. Tentunya kita berharap usaha pesantren Baitus Surur semakin besar, karena brand abon lele Yu Kaji ini mulai dikenal masyarakat,” ucap Gus Ghofirin.

Bank Jatim (31/7)