Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Banyak Ulama dan Kiai Wafat, Umat Harus Tetap Tenang

Banyak Ulama dan Kiai Wafat, Umat Harus Tetap Tenang
Suasana pemakaman KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah. (Foto: NOJ/MDd)
Suasana pemakaman KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah. (Foto: NOJ/MDd)

Akhir-akhir ini banyak kiai, ulama dan tokoh masyarakat yang wafat. Diingatkan bahwa meninggalnya sejumlah orang alim pada hakikatnya matinya alam semesta.

 

Ketika mendengar kabar wafat mereka, kita benar-benar terpukul karena kehilangan panutan. Pada saat tersebut kita dianjurkan untuk mendoakan semoga yang bersangkutan mendapa rahmat Allah SWT.

 

Diingatkan juga bahwa kematian adalah sebuah keniscayaan. Bahkan saat Nabi Muhammad SAW wafat sekalipun sebagian sahabat terbelah antara percaya dan tidak, serta belum bisa menerima kenyataan.

 

مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ، فَإِنَّ اللهَ حَيٌّ لَا يَمُوْتُ

 

Artinya: Siapa yang menyembah Muhammad, sungguh Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, ketahuilah bahwa Allah zat yang hidup, takkan mati.

 

Artikel diambil dari: Doa saat Tokoh dan Guru Bangsa Wafat
 

 

Tentu saja, kita harus mengganti nama Nabi Muhammad SAW dengan ulama dan tokoh atau guru yang wafat di daerah kita. Hal ini didasarkan pada riwayat Abu Bakar As-Shiddiq ketika Rasulullah SAW wafat sebagai hadits berikut ini:

 

 روينا في الحديث الصحيح المشهور في خطبة أبي بكر الصديق رضي الله عنه يوم وفاة النبي صلى الله عليه وسلم وقوله رضي الله عنه: من كان يعبد محمدا، فإن محمدا قد مات، ومن كان يعبد الله، فإن الله حي لا يموت

 

Artinya: Kami diriwayatkan di dalam hadits shahih yang masyhur dalam khutbah Abu Bakar As-Shiddiq RA pada hari wafat Rasulullah SAW. Isi khuthbahnya, ‘Siapa yang menyembah Muhammad, sungguh Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, ketahuilah bahwa Allah Zat Yang Hidup, takkan mati. (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 264).

 

 

Selain itu, orang yang mengingatkan juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dengan harapan masyarakat mendapatkan tokoh anutan yang baru. Juga mengajak masyarakat untuk meneladani tokoh tersebut. Para penyeru ini ada baiknya menasihati masyarakat dengan kalimat berikut ini:

 

 عَلَيْكُمْ بِاتِّقَاءِ اللهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَالوَقَارِ وَالسَّكِيْنَةِ حَتَّى يَأْتِيَكُمْ أَمِيْرٌ

 

Artinya: Kalian wajib bertakwa kepada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan wajib tenang dan tenteram sehingga datang pemimpin baru bagimu.

 

Keterangan ini bisa didapat pada riwayat Imam Bukhari dan Shahih Muslim yang dikutip Imam An-Nawawi berikut:

 

وروينا في الصحيحين عن جرير بن عبد الله أنه يوم مات المغيرة بن شعبة وكان أميرا على البصرة والكوفة قام جرير فحمد الله تعالى وأثنى عليه وقال: عليكم باتقاء الله وحده لا شريك له، والوقار والسكينة حتى يأتيكم أمير فإنما يأتيكم الآن.

 

Artinya: Kami diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah bahwa pada hari wafat penguasa Bashrah dan Kufah Al-Mughirah bin Syu‘bah, Jarir berdiri, berpidato yang diawali dengan tahmid dan memuji Allah, lalu berkata, ‘Kalian wajib bertakwa kepada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan wajib tenang dan tenteram sehingga datang pemimpin baru bagimu. Sungguh, telah datang pemimpin baru kalian sekarang. (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 264). Wallahu a’lam.


Editor:
F1 Bank Jatim