Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Bekal Utama menjadi Penulis adalah Peka dengan Keadaan Sekitar

Bekal Utama menjadi Penulis adalah Peka dengan Keadaan Sekitar
Syaifullah Ibnu Nawawi menjelaskan bahwa menulis sangatlah mudah. (Foto: NOJ/Pan)
Syaifullah Ibnu Nawawi menjelaskan bahwa menulis sangatlah mudah. (Foto: NOJ/Pan)

Kediri, NU Online Jatim

Banyak cara yang dapat dilakukan dalam pengoptimalkan potensi generasi muda di lingkungan Nahdlatul Ulama. Salah satunya adalah dalam bidang jurnalistik sebagai media pengembangan bakat. Keberadaannya juga untuk memaksimalkan sumber daya manusia NU dalam menyongsong perkembangan dunia digital yang semakin canggih dan modern.

 

Semangat itu juga yang ingin diraih dari Forum NU Online Jatim yang pada Kamis (29/04/2021) malam mengadakan pelatihan jurnalistik. Kegiatan dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Amien, Ngasinan, Kota Kediri.

 

Pada acara tersebut menghadirkan Syaifullah Ibnu Nawawi selaku Pemimpin Redaksi Majalah AULA dan NU Online Jatim dan Abdullah Muwafaq selaku kontributor NU Online Jatim kawasan Kediri. Kegiatan diikuti peserta dari beberapa kalangan, mulai mahasiswa, santri, hingga Fatayat NU di kawasan setempat.

 

Di hadapan puluhan peserta, Syaifullah Ibnu Nawawi menjelaskan bahwa menulis merupakan keterampilan yang harus melekat pada diri mahasiswa, termasuk santri dan aktivis organisasi.

 

"Kemampuan menulis dapat dijadikan sarana untuk mendapatkan nilai yang lebih baik,” katanya.

 

Disampaikannya bahwa untuk dapat menulis, maka bekal utama adalah memiliki sensitifitas atau kepekaan dengan keadaan sekitar. Bahwa sebenarnya banyak hal yang dapat ditulis, namun hal tersebut ternyata tidak pernah dilakukan. Aktivitas harian dari mulai berangkat dari rumah hingga tempat kuliah, pasti banyak hal yang menarik untuk ditulis. Demikian pula dengan kajian kitab kuning di pesantren. 

 

Kondisi serupa juga berlaku bagi mereka yang aktif di NU. Maka sejumlah lembaga, badan otonom dan kegiatan di jamiyah sendiri dapat ditulis. Belum lagi potensi kader, kisah inspiratif para leluhur dan sejenisnya tentu sangat layak untuk ditulis.

 

“Termasuk profil madrasah maupun pesantren terdekat sudah saatnya ditulis oleh pelajar, alumni dan santri setempat,” ungkapnya. Dan hal tersebut dapat menjadi bukti bakti kepada almamater yang telah menempa sehingga menjadi orang yang berpengatahuan, lanjutnya.

 

Salah seorang peserta, Fadi mengemukakan manfaat mengikuti kegiatan ini. Bahwa dengan pelatihan jurnalistik menjadi pendorong bagi generasi muda NU untuk mengembangkan bakat menulis.

 

"Menjadi lebih termotivasi dalam menulis terutama berita. Pengalaman dari pemateri sangat banyak yang membuat saya semangat mengasah tulisan," kata mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri tersebut.

 

Hal yang hampir sama disampaikan Naima, salah seorang peserta. Bahwa dirinya sempat berpikir akan menerima sejumlah teori jurnalistik yang ribet dan mengerutkan dahi.

 

"Di awal, saya berfikir teori-teori jurnalistik itu sangat banyak dan rumit. Namun, setelah mengikuti pelatihan jurnalistik ini, ternyata yang paling penting adalah praktik yang sering latihan menulis,” katanya.

 

Penulis: Asa Syauqi

Bank Jatim (31/7)