Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Belajar dari Kiprah dan Perjuangan Perempuan Zaman Nabi

Belajar dari Kiprah dan Perjuangan Perempuan Zaman Nabi
Perlawan perempuan Palestina. (Foto: NOJ/Lip6)
Perlawan perempuan Palestina. (Foto: NOJ/Lip6)

Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW bersabda:

 

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِلنِّسَاءِ (رواه الحكيم عن ابن عباس

 

Artinya: Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada perempuan. (HR Hakim dari Ibnu Abbas, Kitab Al-Jami’us Shaghir, hadits nomor 4101).

 

Banyak kisah ketangguhan dan keberanian kaum perempuan muslim, di antaranya yang dikisahkan dalam kitab Himpunan Fadhilah Amal yang disusun Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kamdahlawi Raha.

 

Pada zaman Rasullullah SAW, laki-laki memiliki semangat untuk selalu menyertai peperangan, apapun keadaan medan jihadnya. Kisah-kisah mereka sudah banyak diketengahkan dalam buku. Demikian pula dengan kaum perempuannya, mereka tidak mau ketinggalan dalam hal semangat berjihad. Mereka juga selalu bersiap siaga sehingga apabila ada kesempatan untuk berjihad, akan segera mengikuti.

 

Ummu  Ziyad RA berkata: Pada waktu peperangan Khaibar, aku bersama enam orang perempuan lainnya ikut serta dalam peperangan tersebut. Setelah Rasullullah SAW mendengar berita mengenaiku, maka kami dipanggil oleh beliau SAW. Di wajah beliau yang mulia nampak sedikit perasaan marah.

 

Rasullullah SAW bersabda: Siapa yang memberi izin kepadamu untuk datang kemari, dan dengan siapakah engkau datang kemari, dan dengan siapakah engkau datang?

 

Maka kami berkata: Ya Rasullullah, kami datang kemari membawa serta perban. Barangkali diperlukan dalam pertempuran. Kami juga membawa obat-obatan untuk orang yang terluka, mungkin dperlukan dalam pertempuran. Kami juga menyiapkan panah-panah untuk para mujahid yang sedang berperang. Jika mereka menderita sakit, kami akan siap mengobatinya. Kami juga membatu memberikan makanan dan minuman bagi mereka yang berperang.

 

Setelah itu, Rasullullah SAW mengizinkan kami ikut dalam peperangan.

 

Begitulah salah satu potret ketangguhan perempuan di masa Rasulullah SAW. Dan juga potret sikap mulia baginda yang sangat menjaga keselamatan kaum perempuan, terutama dalam bahaya peperangan.

 

Potret ketangguhan tersebut tentu dapat menjadi suri teladan yang baik, terlebih bagi perempuan muslimah masa kini. Ketangguhan dan segenap proses resiliensi atas semua polemik hidup, adalah hal penting untuk dimiliki.

 

Dengan begitu, kaum perempuan hendaknya merenungkan identitas ketangguhan yang menjadikannya sosok istimewa. Sehingga perempuan hendaknya jangan bertanya tentang kapan akan meletakkan pilihan pada kepasrahan akibat lelahnya diterpa perlawanan. Melainkan bertanyalah, dapatkah menjaga kekuatan, ketegaran, dan keberanian. Bagaimana kala beradu dengan perlawanan penyerangan dari mereka yang melihat lemah atas kekuatan fisik?

 

Ketahuilah perempuan, bahwa kekuatan fisik tidak akan memiliki arti besar tatkala berhadapan dengan ketangguhan diri. Ketangguhan diri tidak perlu diukur secara fisik, melainkan bagaimana menggabungkan antara keberanian, kepekaan, dan kecerdasan. Tatkala kaum perempuan memiliki keberanian, maka sejatinya itu sangatlah sejati karena tidak mengandalkan fisik belaka. Dan kepekaan yang dimiliki perempuan merupakan identitas keistimewaan. Maka saat kecerdasan harus diandalkan, jangan hilangkan kepekaan.

 

*) Ketua Perempuan Tani HKTI Jawa Timur 

Iklan promosi NU Online Jatim