Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Belajar dari Perang Uhud, Kader NU Harus Selalu Satu Komando

Belajar dari Perang Uhud, Kader NU Harus Selalu Satu Komando
Kajian Qonun Asasi yang dilaksanakan Lakpesdam MWCNU Pragaan Kabupaten Sumenep, Jumat (15/01/2021). (Foto: NOJ/ Firdausi).
Kajian Qonun Asasi yang dilaksanakan Lakpesdam MWCNU Pragaan Kabupaten Sumenep, Jumat (15/01/2021). (Foto: NOJ/ Firdausi).

Sumenep, NU Online Jatim

Banyak cara yang dilakukan oleh jajaran pengurus harian NU untuk memantapkan kader mudanya di organisasi. Salah satunya melalui Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Pragaan yang mengkaji QS Al-Anfal (8): 46 yang dijadikan prinsip dasar organisasi dalam Qanun Asasi di auditorium Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan, Kabupaten Sumenep, Jum'at (15/1/2021).

 

Kiai Khairullah mengkaji ayat tersebut dengan merujuk pada Kitab Tafsir Ibnu Katsir bahwa Allah SWT dan Rasulullah SAW melarang berselisih. Jika demikian, maka akan kehilangan kekuatan dan kesabaran.

 

Wakil Katib MWCNU Pragaan tersebut menjelaskan bahwa dalam ayat ini berisi tentang etika umat Islam saat bertemu dan jalan berani saat menghadapi musuh.

 

"Nabi menegaskan bahwa jangan sekali-kali mengharap bertemu musuh, mintalah kepada Allah SWT atas pengampunannya," ujarnya saat menyitir hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim.

 

Pada saat yang sama, Kiai Jamali Salim menegaskan bahwa ayat ini menjelaskan tentang masalah perjuangan. Di dalam perjuangan harus ada peraturan dan kefiguran. Ketika posisinya jelas, maka jangan sampai ada perselisihan.

 

Wakil Ketua MWCNU Pragaan tersebut menyadari bahwa para pejuang di zaman Nabi hingga saat ini sangat cerdas. Kecerdasan tersebut menimbulkan perbedaan pendapat dan pertentangan, sebagaimana di dalam perang Uhud.

 

"Kekalahan umat Islam di perang Uhud, disebabkan pertentangan, egoisme, dan melanggar aturan yang ditetapkan Nabi kala itu. Ini yang dinamakan tidak satu komando," terangnya.

 

Dalam kitab Tafsir Al-Baydawi, jika umat Islam bercerai-berai, maka konsekuensinya akan hilang kekuatannya, kewibawaan, muncul rasa ketar-ketir dan ketakutan.

 

"Ingat, perbedaan mewariskan paradigma yang beragam dan kepastian akan terasa hambar. Jika ada perbedaan, bersabarlah. Tahan dan kontrol diri kita agar bisa meninggalkan apa-apa yang tidak benar menurut akal dan syara," pintanya.

 

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tersebut mengimbau kepada generasi muda NU untuk satu komando sebagaimana dianjurkan dalam ayat ini.

 

"Mempertahankan persatuan, komitmen, dan kedudukan adalah anjuran muassis NU. Jangan sekali-kali berebut menjadi pemimpin. Jika demikian, itu kelemahan dalam perjuangan," pintanya.

 

Kajian Kontekstual

Di kesempatan yang berbeda Kiai Zubairi Hasyim menyampaikan pesan Almaghfurlah KH As'ad Syamsul Arifin bahwa di Indonesia ada anjing yang melolong. Qiyas tersebut menerangkan bahwa musuh Islam itu bukan dari kalangan non muslim saja, tetapi ada juga dari kalangan sesama umat Islam yang memiliki tafsir pulitan dan radikal.

 

Ketua Lakpesdam NU Pragaan tersebut memaknai ayat ini atas kekhawatiran Kiai As'ad. Menurutnya, beliau khawatir santri-santrinya di NU akan melakukan tindakan di luar koridor dan bisa jadi mengatas namakan Islam. Kelompok ini suka mencacimaki, dan mudah memfonis kafir seperti yang terjadi pada saat ini.

 

"Kasus pengeboman yang mengatasnamakan jihad adalah musuh kita yang sebenarnya," tuturnya.

 

Selanjutnya, ia mengingatkan bahwa hidup ini adalah siklus. Jika saat ini ada kedamaian, suatu saat nanti akan bertemu dengan peristiwa penting dan genting, seperti munculnya fatwa resolusi jihad dan gerakan PKI pada tahun lalu.

 

"Sehumanis apapun kita, suatu saat nanti kita wajib menggunakan sikap keperwiraan atau kesantrian, sehingga kita berada di garda terdepan. Ingat, NU tidak hanya dipersiapkan untuk humanis. Tetapi suatu saat nanti seluruh warga NU akan menjadi Pagar Nusa," sargasnya.

 

Kiai Ach Subairi Karim juga mengajak kepada audien untuk bersabar dan tidak gentar saat menghadapi musuh. Menurutnya, musuh yang sebenar-benarnya musuh adalah mereka yang berlaku dzalim. Itu disebut perusak sistem nilai yang sudah belaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

"Jadikanlah agama sebagai inspirasi, bukan sebagai aspirasi yang endingnya menjadikan agama sebagai alat kepentingan politik kekuasaan," dawuh Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep saat menyitir pesan Menteri Agama RI. Islam merupakan inspirasi dan tata nilai yang membawa rahmat bagi segenap alam, tambahnya.

 

Menurut pandangannya, yang dikatakan Kiai As'ad, saat ini sudah terjadi di era 4.0, dimana NU menghadapi beragam provokasi dan propaganda yang mengedepankan penafsiran emosi. Lewat gerakan Medsos itulah, emosi seseorang akan naik.

 

"Situasi saat ini tidak jauh berbeda dengan peristiwa masa lalu di tahun 1920an. Karena dakwah para wali dan ulama mendapat kecaman miring saat menyebarkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah," curahnya.

 

Tak henti disitu, ia menegaskan bahwa Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia warnanya Aswaja. Bahkan saat ini kalangan ulama menyatakan bahwa Indonesia adalah cermin keaslian Islam di dunia. "Selama ada NU, Islam di Indonesia akan moderat," sargasnya.

 

Wakil Ketua MWCNU Pragaan tersebut menyayangkan perbedaan fiqih muamalah, seakan-akan terjadi perbedaan akidah dan agama dijadikan alat sebagai provokasi.

 

"Presiden boleh diganti dalam 5 tahun, tapi simbol dan pilar negara tidak boleh diganti. Bedakan antara pak Jokowi dan negara," tegasnya.

 

Di akhir acara, KH Asy'ari Khatib menyimpulkan bahwa Hadaratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari meletakkan ayat tersebut agar pengurus mampu membangun struktur di internal organisasi. Berbeda pendapat sangat alamiah atau NU-wiyah. Pertentangan seperti yang terjadi di Uhud bukan karena ikhtilaf.

 

Wakil Ketua MWCNU Pragaan tersebut mengurucutkan kajian bahwa NU punya power dan kekuasaan. Karena dari dulu hingga sekarang Indonesia identik dengan NU.

 

"Segenggam kekuasaan, jauh lebih berharga daripada keranjang-keranjang kebenaran," katanya saat menyitir pemikirannya Plato.

 

 

Guru senior MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk tersebut meniru pemikirannya Gus Baha bahwa Islam di Arab Saudi seperti pohon kurma yang kuat dan kokoh diterjang angin. Tetapi Islam di Indonesia seperti padi yang bergerak dan mengikuti hembusan angin.

 

"NU harus bergerak lentur seperti padi. NU harus bersabar. Karena kemenangan selalu bersama dengan kesabaran. Jika tidak, maka perjuangan sia-sia," pungkasnya.

 

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim