Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

BEM Unisma Malang Gandeng Perpustakaan Bedah Buku PU Gajah Mada

BEM Unisma Malang Gandeng Perpustakaan Bedah Buku PU Gajah Mada
Acara bedah buku PU Gajah Mada. (Foto: NOJ/humas)
Acara bedah buku PU Gajah Mada. (Foto: NOJ/humas)

Malang, NU Online Jatim

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Malang (Unisma) bersama Perpustakaan Pusat Unisma menggelar bincang kebudayaan dan bedah buku PU Gajah Mada. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Literasi Perpustakaan Pusat Unisma secara daring dan luring pada Rabu (02/12/2020).

 

Rektor Unisma, Prof Dr. H. Maskuri, M. Si yang hadir dan turut membuka acara secara resmi menuturkan, agenda ini sebagai upaya strategis untuk membangkitkan semangat baru bagi generasi muda serta bagi para akademisi. 

 

“BEM Unisma dan perpustakaan Unisma menggelar acara ini untuk melatih nalar kritis mahasiswa. Saya apresiasi semoga kedepannya akan melahirkan inovasi kegiatan yang bersifat membangun bagi Unisma. Dari sosok Gajah Mada kita sebagai akademisi dapat belajar, bahwa ia sebagai tokoh yang ahli dalam bidang pemerintahan, dalam bidang hukum, termasuk juga kanuragan.” katanya.

 

Pemateri pertama, KH Agus Sunyoto, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), penulis buku PU Gajah Mada menjelaskan pembuatan buku ini dilakukan untuk membahas pembelokan yang ada salah satunya Gajah Mada. Karena sejak perang Hindia Belanda ada naskah yang mengandung pembelokan.

 

“Pada dasarnya Gajah Mada dikenal dengan sumpah palapa. Namun, faktanya persatuan nusantara itu sudah terwujud pada kerajaan kertanegara. Pembelokan lain digambarkan pada beberapa naskah seperti naskah kidung sunda yang menunjukkan dia hebat jago perang yang membunuh seorang raja sunda di Jawa Barat," ujarnya.

 

Dirinya menambahkan, bahwa tidak ada pembahasan penaklukan di suatu naskah. Sementara Gajah Mada dikenal sebagai sosok yang ahli dalam segala bidang.

 

"Nyatanya, tidak ada data yang membahas penaklukan yang dituliskan di suatu naskah. Dan sosok yang ditemukan pada seorang Gajah Mada adalah seorang pemikir, ilmuwan, ahli hukum, ahli pemerintahan, guru yang dipatuhi warga kerajaan. Gajah Mada ini diserahi tugas untuk menyusun KUHP Manawa Dharma Sastra dari Majapahit dan menyusun pendidikan. Sayangnya, semua ini tidak dibahas dalam buku,” imbuh KH Agus Sunyoto.


Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Kebudayaan) Republik Indonesia, Hilmar Farid, Ph.D menjelaskan jika buku ini seperti novel sejarah yang merupakan ragam kepenulisan yang sangat penting.

 

“Bukan berarti karena novel faktanya tidak ada justru novel sejarah biasanya lebih kuat datanya daripada buku sejarah. Isi novel ini adalah perpaduan antara data yang dicari dari sejarah lalu ditampilkan dalam bentuk novel sejarah,” ungkap pak Hilmar.

 

Pada akhir acara, Presiden Mahasiswa Unisma menuturkan harapannya atas buku PU Gajah Mada yang menurut KH Agus akan sampai lima jilid.

 

“Karena yang menulis merupakan ketua LESBUMI, saya sebagai presiden mahasiswa Unisma yang menggelar acara ini berharap besar kepada PBNU untuk memfilmkan buku sejarah Ini. Sebab ingatan milenial, akan lebih mudah lagi di rekonstruksi menggunakan pendekatan film,” terang A Faruq.

 

 

Editor: Risma Savhira

Bank Jatim (31/7)