Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Beragama dengan Jenaka, Bukan Menggunakan Ancaman Neraka!

Beragama dengan Jenaka, Bukan Menggunakan Ancaman Neraka!
Belajarlah beragama dengan jenaka. (Foto: NOJ/Rijal M)
Belajarlah beragama dengan jenaka. (Foto: NOJ/Rijal M)

Tulisan ini merupakan kata pengantar berjudul 'Melucu Itu Berat, Biar Orang Cerdas, eh Orang Dungu, Saja!'dalam buku Mati Ketawa Cara Salafi, karya Mas Juman Rofarif. Bahwa melucu itu sulit. Butuh kecerdasan dalam menyusun kata dan waktu (timing) yang pas dalam meluncurkannya sehingga menghasilkan ledakan tawa yang tepat. Karena itu, tidak semua orang bisa melawak. Kalaupun bisa, belum tentu lucu. Kalaupun jenaka, belum tentu bisa meledakkan tawa. Kalaupun melahirkan tawa, belum tentu juga tidak ada yang tersinggung. Sebab, tidak semua orang punya sisi humor yang bagus. Ada juga yang malah tersinggung gara-gara lelucon. 

 

Saya percaya, tingkat tertinggi dari humor adalah menertawakan diri sendiri. Ini lebih sulit. Gaya candaan grup Srimulat, misalnya, punya pakem ‘aneh itu lucu’ dan menertawakan diri sendiri. Jangan heran kalau grup legendaris ini punya anggota berpenampilan aneh dan unik. Tujuannya, antara lain biar lebih mudah saling ledek dan menertawakan diri.

 

Yang terakhir ini citranya lebih melekat pada seorang ulama cum negarawan, KH Abdurrahman Wahid. Tak perlu saya sebutkan betapa cerdas orang ini dalam menyusun, mengolah, dan melontarkan humor yang meledek diri sendiri. Ciri khas Gus Dur itu humornya unik dan berkelas. Jangan heran jika joke Gus Dur bisa dinikmati semua kalangan. Sebab, mengajak orang meledek dan menertawakan diri sendiri. Ini tentu berbeda dengan lawakan komedian sekarang yang lawakannya garing. Slapstick. Mereka tidak melucu, melainkan menganggap dirinya lucu. Hasilnya berbeda. Efeknya juga tidak sama.

 

Jika dicermati, para teroris tidak ada yang berwajah jenaka. Silahkan cermati wajah dan tatapan mata para pengebom yang mengatasnamakan agama itu. Urat wajahnya menyiratkan kebengisan. Aura tawuran. Ha ha ha. Mengapa? Sebab, tidak ada ceritanya teroris punya selera humor tinggi. Mereka terlampau serius menyikapi kehidupan, namun konyol dalam perbuatan. 

 

Dalam kajian psikologis, untuk menjadi teroris, seseorang dimatikan dulu selera humornya dan dipupuk jiwa psikopatnya. Usul saya, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) harus melakukan deradikalisasi melalui terapi humor. Ajak para napi teroris ini nonton film humor tiga hari sekali, suruh baca komik Crayon Sinchan, undang para komika buat melawak di depan mereka, dan latih mereka melucu. Haqqul yaqin deh, kemanusiaan mereka kembali. Mereka menjadi teroris karena unsur kemanusiaannya hilang. Dan, saya percaya unsur kemanusiaan itu ditandai dengan humor: bercanda, melontarkan lelucon, bertukar joke, bahkan saling ledek. Ini sesuatu yang manusiawi dalam interaksi antara anak cucu Adam. 

 

**


Membaca berbagai cerita lucu dalam buku ini membuat kita bakal terkekeh, minimal tersenyum. Bukan karena cerita lucu dan unik yang disajikan, melainkan pada pertanyaan: Kok ada orang model begini, ya? Ha ha ha. Tapi, itulah unik buku ini. Cerita lucu yang termuat dalam kitab hampir satu milenium silam, namun sentuhan humornya masih terasa dan juga berulang pada hari-hari ini dengan cerita yang hampir sama. 

 

Cerita seorang politisi yang ingin mengelak dari sentuhan aparat hukum, lantas bersiasat ke sana-ke mari, meski akhirnya terciduk juga, mengingatkan saya pada episode orang dungu yang punya terobosan dalam menghambat kematiannya. Judulnya: Cara Mencegah Malaikat Maut Datang (hlm. 77).  

 

Kisahnya bemula ketika orang ini jatuh sakit. Saat sakitnya kian parah, dia minta dibawakan segala macam jenis alat musik. Yang ditiup, yang dipetik. Namun, permintaan itu ditolak. Alasan si sakit minta alat-alat musik itu: Dia pernah mendengar bahwa malaikat enggak bakal memasuki rumah yang menyimpan alat musik, yang menyimpan alat-alat maksiat.

 

“Nah, aku ingin mencegah kedatangan malaikat maut pake alat-alat musik itu,” katanya. Konyol, bukan? 

 

Jika Mas Juman Rofarif menukil berbagai cerita lucu dari masa lalu yang terdapat dari tiga kitab: Akhbar al-Hamqa’ wal Mughaffalin, Akhbar al-Adzkiya, al-Maudlu’at hingga Ihya Ulumiddin, maka berikut ini sebuah cerita yang pernah disampaikan oleh Habib Ali Zainal Abidin al-Jufri, murid sekaligus besan Habib Umar bin Hafidz, Yaman. 

 

Suatu ketika, tutur Habib Ali, tatkala Syekh Muhammad al-Ghazali sedang mengajar, duduklah salah satu murid tepat di depan beliau. Murid itu setiap waktu bersiwak. Ia terus menggerakkan siwak di mulutnya, ke kanan, ke kiri dan terus menerus. Sesekali ia biarkan siwak itu menempel di mulutnya, lalu ia kembali bersiwak dan menggeraknya dengan tangan ke kanan dan ke kiri.

Syekh Muhammad al-Ghazali, guru besar Universitas al-Azhar, itu pun merasa terganggu konsentrasinya. Gerakannya terlalu sering hingga mengganggu fokus.

 

"Nak, tolong sudahi siwakanmu itu. Kamu mengganggu konsentrasi saya," kata syekh kepada murid tersebut.

 

"Hai, syekh! ini sunah nabi. Apakah kamu mengingkari sunah?" jawabnya dengan suara meninggi. Bersemangat. Ya, semangat dalam kekurangajaran!

 

Syekh diam dan terkejut atas jawaban tadi.

 

"Nak, mencabut bulu ketiak itu juga sunah, apakah kamu akan mencabutinya di majelis ini juga?"

 

Seisi ruangan tertawa. Ia akhirnya malu. 

 

Melaksanakan sunah harus sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan. Sekarang banyak yang semangat melakukan sunah tapi tidak mengetahui kapan waktu yang tepat untuknya. Modal semangat tanpa didasari dengan keilmuan bisa berabe.

 

Contohnya ketika ada seseorang yang mau menerangkan “Pengertian Sunah” (hlm. 115) yang termuat dalam halaman pamungkas buku ini. 

 

Seorang berjenggot lebat berkata kepada orang di sampingnya, “Patuhilah sunah, kamu bakal masuk surga.”

 

“Sunah itu apa?” Jawab orang yang di sampingnya itu.

 

“Sunah itu kamu mencintai Abu Bakar ibn Affan, Utsman ibn al-Faruq, Umar al-Shiddiq, Ali ibn Abi Sufyan, dan Mu’awiyyah ibn Abi Syaiban.”

 

“Mu’awiyyah ibn Abi Syaiban itu siapa?”

 

“Dia orang saleh. Salah satu penyangga Arsy, sekretaris Nabi, dan mertua dari anak Nabi yang bernama Aisyah.”

 

Nah. Berabe bin amburadul kan. Di sinilah pentingnya mengetahui kadar diri. Sebab, ada banyak tipe orang begini. Dia tipe terakhir dari kategori “Empat tipe Manusia” (hlm. 7). Tiga tipe, silakan ajak bicara. Satu tipe lagi, jangan ajak bicara. 

 

Tiga tipe itu: Pertama, orang yang tahu dan tahu bahwa dia tahu; silakan ajak bicara. Kedua, orang yang tahu tapi dia melihat dirinya tidak tahu; silakan ajak bicara. Ketiga, orang yang tidak tahu dan dia melihat dirinya tidak tahu; silakan ajak bicara.

 

Sedangkan satu tipe itu: Orang yang tidak tahu tapi sok tahu; jangan ajak bicara. Kalau diajak bicara malah nglantur. Ujung-ujungnya menyesatkan.

 

*


Melalui kumpulan cerita humor dalam buku ini, kita hendak mematut diri. Bercermin. Jangan-jangan perilaku kita seringkali sama dengan polahtingkah orang-orang dungu dalam buku ini? Jangan-jangan, ketika kita tersenyum dan terbahak membaca kedunguan dan kelucuan mereka, kita sedang menertawakan sisi gelap diri kita? 

 

Tidak masalah, kisanak. No Problem. Sebab, puncak kedewasaan seseorang, antara lain, ditandai seberapa sering dirinya menangisi dan menertawakan dirinya. Itu adalah tanda seseorang mulai mengenali ‘diri sendiri’. Kalau sudah kenal diri sendiri, katanya lebih cepat mengenali hakikat kehambaannya. 

 

Mari, melalui buku ini, kita bercermin, jangan-jangan orang-orang dungu ini adalah gambaran watak dan perilaku kita?

 

Wallahu a’lam bisshawab

 

Identitas Buku:

Judul
: Mati Ketawa Cara Salafi (Lelucon Abadi dari Khazanah Islam Klasik Tentang Orang-Orang Dungu dan Orang-Orang Waras)
Penulis: Juman Rofarif
Penerbit: Lentera Hati
Tahun: Juli 2019
Halaman: 140

Peresensi: Rijal Mumazziq Z

 


Editor:
F1 PWNU Jatim