Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Berikut Penjelasan Amalan Hari Jumat menurut Rais PCNU Jember

Berikut Penjelasan Amalan Hari Jumat menurut Rais PCNU Jember
KH Muhyiddin Abdusshomad, Rais PCNU Jember. (Foto: NU Online)
KH Muhyiddin Abdusshomad, Rais PCNU Jember. (Foto: NU Online)

Jumat disebut dengan sayyidul ayyam atau rajanya hari yang ada selama sepekan. Karenanya, umat Islam disarankan mengisinya dengan ibadah yang lebih bila dibandingkan dengan hari biasa.

 

KH Muhyiddin Abdusshomad menerangkan ibadah yang dianjurkan saat Jumat tersebut. Penjelasan sekaligus memberikan jawaban atas pertanyaan beragam kalangan yang kadang mempermasalahkannya.

 

“Amalan apa saja yang sunnah dilaksanakan pada hari Jumat? Dan bagaimana hukumnya membaca surat al-Kahfi (surat ke-18 dalam al-Qur’an) pada hari Jumat?” kata Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember ini.

 

Pandangan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam tersebut sebagaimana ditulis NU Online.

 

 

Karena seperti diketahui, Jumat merupakan hari yang paling mulia dalam Islam. Sebab hari itu merupakan hari raya mingguan bagi umat Islam. DR Muhammad Bakar isma’il dalam Al-Fiqhul Wadhih minal Kitab was Sunnah menyatakan, Jumat merupakan hari yang sangat mulia di sisi allah SWT.

 

“Hari itu merupakan hari yang dipilih oleh Allah SWT sebagai hari raya mingguan bagi kaum muslimin. Pada hari itu mereka berkumpul untuk melaksanakan shalat dengan penuh keramahan dan kecintaan,” jelas Kiai Muhyiddin.

 

Karenanya, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah pada hari itu. Di antaranya adalah memperbanyak wirid dan dzikir. Karena pada hari itu ada saat waktu istijabah yang sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT agar hamba-Nya lebih giat mencari waktu tersebut.

 

“Termasuk juga yang disunnahkan adalah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW,” katanya.

 

Hal tersebut sebagaimana hadits berikut:

 

 عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثَرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ، فّإنَّ صّلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟- أي بَلِيْتَ- قَالَ: إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأرْضِ أنْ تَأكُلَ أجْسَادِ الْأنْبِيَاءِ—سنن ابن ماجه

 

Artinya: Diriwayatkan dari Aws bin Aws, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah hari Jumat. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Karena itu maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku. Sebab shalawat yang kamu baca pada hari itu akan didatangkan kepadaku. Lalu sahal seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana mungkin shalawat yang kami baca itu bisa dihadapkan kepadamu, padahal engkau telah hancur dimakan bumi? Rasulullah SAW menjawab: Sesungguhnya Allah ’Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi-Nya. (HR Ibnu Majah, 1075)

 

Di antara amalan yang dianjurkan juga adalah membaca surat al-Kahfi pada malam Jumat atau pada hari Jumatnya. Hal itu sebagaimana redaksi hadits berikut:

 

 عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُذْرِيّ قَالَ مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

 

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Said Al-Khudri, ia berkata: Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jumat, maka Allah SWT akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan rumah yang penuh dengan keindahan. (Sunan Ad-Darimi, 3273)

 

“Membaca shalawat dan membaca surat al-Kahfi pada malam atau hari Jumat itu sunnah,” terangnya.

 

Dalam hal ini DR Muhammad Bakr Isma’il menyatakan, seorang muslim disunnahkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi SAW pada malam hari Jumat.

 

“Begitu juga sunah sunnah membaca surat al-Kahfi pada malam dan hari Jumat sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Fiqhul Wadhih minal Kitab was Sunnah halaman 241,” pungkasnya.

PWNU Jatim Harlah