Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Berkah Kemah, Ada ‘Pantai Aswaja’ di Kawasan Mimika, Papua

Berkah Kemah, Ada ‘Pantai Aswaja’ di Kawasan Mimika, Papua
Peserta Kemah Shalawat di Pantai Kampung Naja, Mimika, Papua. (Foto: NOJ/Ist)
Peserta Kemah Shalawat di Pantai Kampung Naja, Mimika, Papua. (Foto: NOJ/Ist)

Nahdlatul Ulama ibarat gerbong kereta besar yang bisa memuat berbagai macam jenis barang dan orang. Ada penumpang yang pejabat, rakyat, pengamat, yang baru tobat, penjahat, advokat, termasuk penumpang gelap dan sebagainya. 


Tentu tatkala perusahaan memerlukan orang untuk menjadi kru kereta, harus dipilih dan didik agar memiliki sikap mental yang baik dalam melayani penumpang. Perumpamaan seperti inilah yang dilakukan sejumlah elemen di Mimika, Papua beberapa waktu berselang. Mereka adalah Pengurus Jamaah Istighotsah, Pondok Pesantren Darussalam, Fatayat NU, dan Ahbabul Musthofa dalam menyiapkan kader jamiyah yang berkhidmat di jajaran lembaga dan organisasi struktural dan kultural.

 

Kegiatan membangun sikap mental itu dilaksanakan awal Juli lalu di Kampung Naja, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua. Acara dikemas dalam kegiatan 'kemah shalawat' yang disebut dengan ‘Tradisiku’, kepanjangan dari tangguh, responsif, amanah, dermawan, ikhlas, sistematis, istikamah, kreatif, dan ulet.

 

"Pengembangan sikap mental inilah yang akan menentukan ada tidaknya program dan berjalan tidaknya program tersebut di lembaga atau organisasi baik di struktural dan kultural," kata Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Mimika, Ustadz Sugiarso, Selasa (27/07/2021).

 

Mental tangguh menurut Ketua Jamaah Istighotsah ini adalah tidak takut tantangan, berani mengambil tanggung jawab. Juga tidak mencari kambing hitam ketika gagal, namun sadar lantaran usahanya kurang dan keliru. Demikian pula tidak takut ancaman, tidak mudah diperalat atau didikte, dan selalu berpikiran terbuka, serta baik sangka.

 

"Responsif berarti peka atas gejala dan gelagat, cepat melakukan analisis dan bertindak,” terangnya.

 

Dikemukakan bahwa prinsipnya jika bisa dikerjakan sekarang maka harus segera dilakukan. Dengan demikian tidak menunda kegiatan, menjaga komunikasi dan memiliki prioritas kegiatan.

 

Teknik pengembangan mental tradisiku lewat kemah dikemas secara alamiah dan lewat outbond sederhana.


"Ketika peserta mengikuti kemah sejak persiapan hingga pulang, sebenarnya mental tradisiku sudah ditanamkan, namun tidak disadari," jelasnya. 

 

Beberapa peserta merasakan berat saat hendak berangkat. Namun setelah tiba di lokasi, perasaan haru melingkupi, dan yang susah menjadi bahagia.


“Karena kemah bukan sembarang kemah, dari berat berangkat menjadi berat pulang. Apapun yang terjadi harus senang, tidak boleh sedih,” kenang Pembina Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Mimika, Hj Asmawati.

 

Disebutkannya bahwa selama di lokasi peserta disemangati dengan lagu di sini senang di sana senang di mana-mana hatiku senang. Bahwa di rumah senang, maka di lokasi kemah harus senang, dan di mana-mana hati senang.

 

“Hal itu kami lakukan sambil bernyanyi bersama ibu-ibu sambil memodivikasi lagu anak-anak di dalam tenda saat guyuran hujan di malam hari tiada berhenti,” jelasnya.

 

Sejak bakda Magrib dengan diiringi guyuran hujan, shalawat dan istighotsah berkumandang dengan tetap khusuk. Dan ada yang berbeda dari pelaksanaan kegiatan serupa saat di daratan.


"Seingat saya selama di Timika kalau baca maulid diba, belum pernah total selesai. Baru saya rasakan di sana. Rawi satupun tidak boleh ketinggalan lunas tuntas sampai ya badratin, ditambah dengan doa," kenangnya.

 

Peserta lain saat dikonfirmasi membagi pengalaman. Kali ini disampaikan Ustadz Sugianto. Bahwa saat shalawat, api unggun juga disiapkan.

 

"Kita bisa buat api unggun walaupun hujan. Yang penting ada kayu dan lilin. Kayu kering yang basah kena hujan tetap bisa menyala," kata Pengurus Bidang Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Darussalam Mimika.

 

Ketika shalawat sedang berkumandang, datang rombongan ibu-ibu asli Papua dari Pomako. Mereka diantar nelayan setempat di tengah guyuran air hujan dan akhirnya turut menikmati api unggun dan berbaur bershalawat sambil mengelilingi api unggun.

 

Saat memasuki fajar, jamaah bangun dan menjalankan shalat dilanjut munajat fajar. Kala itu air laut surut yang dimanfaatkan untuk berburu ikan.


"Ini sekali lagi menunjukkan ayat Allah hanya dalam beberapa jam saja air laut bisa surut banyak sekali padahal cuaca masih tetap hujan. Aneh sekali," terang Wakil Rais Syuriyah PCNU Mimika, Ustadz H Fadlan.

 

Pantai Aswaja

Kegiatan Kemah Shalawat ini ternyata mendapat sambutan positif.

 

"Rasanya tidak cukup kalau kemah hanya semalam dengan padatnya persiapan, banyaknya kegiatan, dan keindahan yang ada di sini," kata Pengurus Bidang Wirausaha Pondok Pesantren Darussalam Mimika, Ustadz Jumar.

 

Kegiatan kemah shalawat ini dirasakan juga oleh warga Naja dan disampaikan H Tahir Rumagesan selaku tokoh masyarakat setempat.


Dirinya bersama sejumlah warga memantau saat malam dan sudah sepi, namun aman. Saat hampir fajar, warga sudah mendengar suara lantunan munajat dan suara orang bercerita tentang wudlu di laut yang airnya surut. 


“Kejadian itu membuat teman kami heran kok pagi buta sudah bangun dan berdoa. Saya katakan mereka beda dengan lainnya karena sudah terbiasa bangun sebelum fajar di pagi pagi buta," ungkap H Tahir.

 

Selanjutnya tanpa disangka saat peserta sedang berbicara tentang prosesi kegiatan kemah, H Tahir langsung menyampaikan. Bahwa lokasi yang dijadikan kemah akan disebut dengan pantai Ahlussunnah wal Jama’ah atau Aswaja.


"Mulai saat ini, tempat ini kami namakan pantai Aswaja. Dengan harapan Islam Aswaja bisa berkembang di tempat ini,” ungkapnya yang disambut amin peserta kemah.

 

Lebih lanjut disampaikan dirinya berharap putra dan putri warga Naja ada yang mau sekolah dan mondok di Mimika. Dan hal tersebut tentu saja disambut gangga peserta kemah.


“Kami akan berikan beasiswa kepada yang benar benar punya niat kuat. Semoga juga TPQ atau mushala bisa kita hadirkan bersama-sama di sini," pungkas Ustadz Sugiarso.


Editor:
F1 PWNU Jatim