Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Berkah Shalawat, Pemabuk Meraih Kedudukan Mulia

Berkah Shalawat, Pemabuk Meraih Kedudukan Mulia
Gemar bershalawat akan mengantarkan ke kedudukan mulia. (Foto: NU Online)
Gemar bershalawat akan mengantarkan ke kedudukan mulia. (Foto: NU Online)

Kaum Muslimin di berbagai negara sejak kemarin malam telah merayakan maulid Nabi Muhammad SAW. Di Tanah Air, peringatan tersebut kian marak lantaran ham;pir di sejumlah rumah ibadah yakni masjid dan mushalla digelar perayaan dengan aneka bentuk.

 

Bahkan hari ini adalah tanggal merah bermakna libur nasional sebagai bentuk apresiasi negara terhadap maulid Nabi tersebut. Kecintaan kepada baginda Nabi Muhammad yang diapresiasikan lewat pembacaan shalawat ternyata memiliki banyak kelebihan.

 

Sekadar diketahui bahwa membaca shalawat memiliki keutamaan yang tidak diragukan lagi. Banyak kisah menakjubkan yang dialami oleh ahli shalawat. Nabi menjelaskan bahwa bacaan shalawat yang dibacakan oleh umatnya akan dibalas sepuluh kali lipat.

 

 

Sebagian ulama bahkan menegaskan shalawat dapat menuntun seseorang menempuh jalan suluk. Shalawat sebagaimana ayat suci al-Qur’an bernilai pahala dengan membacanya, meski tidak mengerti kandungan artinya, berbeda dengan dzikir-dzikir yang lain.

 

Pemabuk Mendapat Tempat Mulia

Ada satu kisah menarik berkaitan dengan keutamaan membaca shalawat. Kisah ini disampaikan oleh Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Tanqih al-Qaul berdasarkan dari sebagian kaum sufi.

 

Diceritakan bahwa salah seorang tokoh sufi memiliki  tetangga pemabuk. Kegemarannya menenggak minuman keras berada dalam taraf di luar kewajaran, melebihi batas, hingga dia tidak bisa membedakan hari, sekarang, besok atau kemarin. Ia hanyut dalam minuman keras. Pemabuk ini berulang kali diberi nasihat oleh sang sufi agar bertobat, namun tidak menerimanya, yakni masih tetap dengan kebiasaan mabuknya.

 

Yang menakjubkan adalah saat pemabuk tersebut meninggal dunia, dijumpainya oleh sang sufi dalam sebuah mimpi, dia berada dalam derajat yang luar biasa mulia. Yakni memakai perhiasan berwarna hijau, lambang kebesaran dan kemegahan di surga. Sang sufi terheran-heran, ada apa gerangan? Mengapa tetangganya yang seorang pemabuk mendapat kedudukan semulia itu. Sang sufi bertanya:

 

 بِمَا نِلْتَ هَذِهِ الْمَرْتَبَةَ الْعَلِيَّةَ

 

Dengan sebab apa engkau memperoleh derajat yang mulia ini?

 

Kemudian pemabuk menjelaskan ihwal kenikmatan yang dirasakannya:

 

حَضَرْتُ يَوْمًا مَجْلِسَ الذِّكْرِ فَسَمِعْتُ الْعَالِمَ يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعَ صَوْتَهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ثُمَّ رَفَعَ الْعَالِمُ صَوْتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعْتُ صَوْتِيْ وَرَفَعَ الْقَوْمُ أَصْوَاتَهُمْ فَغَفَرَ لَنَا جَمِيْعًا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ فَكَانَ نَصِيْبِيْ مِنَ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ  أَنْ جَادَ عَلَيَّ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ.

 

Aku suatu hari menghadiri majelis dzikir, lalu aku mendengar orang alim berkata, barangsiapa bershalawat kepada Nabi dan mengeraskan suaranya, surga wajib baginya. Lalu orang alim tadi mengeraskan suaranya dengan bershalawat kepada Nabi, aku dan jamaah juga mengeraskan suara seperti yang dilakukan orang alim itu. Kemudian Allah mengampuni kita semuanya pada hari itu, maka jatahku dari ampunan dan kasih sayang-Nya adalah Allah menganugerahkan kepadaku nikmat ini.

 

Demikian keagungan dan kehebatan membaca shalawat, hingga dirasakan manfaatnya oleh seorang pemabuk. Kisah tersebut terang saja bukan hendak membenarkan praktik mabuk-mabukan yang memang diharamkan dalam Islam. Cerita itu sekadar merefleksikan keistimewaan shalawat yang bisa mengantarkan seseorang pada samudera kasih sayang dan pengampunan Allah SWT.

 

 

Semoga kita senantiasa diberikan pertolongan oleh Allah untuk istikamah membaca shalawat dan diakui sebagai umat baginda Nabi.


Editor:
F1 Bank Jatim