Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Bolehkah Puasa Tarwiyah dan Arafah sekalian Qadla Ramadlan?

Bolehkah Puasa Tarwiyah dan Arafah sekalian Qadla Ramadlan?
Puasa Tarwiyah dan Arafah sambil mengganti puasa Ramadlan. (Foto: NOJ/DFu)
Puasa Tarwiyah dan Arafah sambil mengganti puasa Ramadlan. (Foto: NOJ/DFu)

Puasa Tarwiyah jatuh pada 8 Dzulhijjah, sedangkan puasa Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Bila ibadah haji dilaksanakan, harusnya pada hari tersebut, jamaah melaksanakan wukuf di Arafah.

 

Sedangkan muslim yang tidak melaksanakan ibadah haji dianjurkan untuk berpuasa Arafah yang memang memiliki keutamaan begitu besar. Oleh karenanya para ulama memasukkan puasa Arafah ini ke dalam puasa sunah yang sangat dianjurkan (muakkad).

 

Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Muslim:

 

 صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

 

Artinya: Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun yang telah lalu dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapus dosa setahun yang lalu. (HR Muslim).

 

 

Lalu bagaimana dengan mereka memiliki utang puasa Ramadlan, lalu ingin mengqadla utang puasanya pada hari Arafah?

 

Qadha puasa Ramadlannya tetap sah. Sedangkan ia sendiri tetap mendapatkan keutamaan yang didapat oleh mereka yang berpuasa dengan niat puasa sunah Arafah.

 

Pendapat disampaikan Syekh Zakariya Al-Anshari berikut ini:

 

  قَوْلُهُ وَصَوْمُ عَاشُورَاءَ) أَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِأَنَّ مَنْ صَامَ عَاشُورَاءَ مَثَلًا عَنْ قَضَاءٍ أَوْ نَذْرٍ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَوَافَقَهُ الْأَصْفُونِيُّ وَالْفَقِيهُ عَبْدُ اللَّهِ النَّاشِرِيُّ وَالْفَقِيهُ عَلِيُّ بْنُ إبْرَاهِيمَ بْنِ صَالِحٍ الْحَضْرَمِيُّ وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ (قَوْلُهُ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ اُحْتُسِبَ عَلَى اللَّهِ إلَخْ) الْحِكْمَةُ فِي كَوْنِ صَوْمِ عَرَفَةَ بِسَنَتَيْنِ وَعَاشُورَاءَ بِسَنَةٍ أَنَّ عَرَفَةَ يَوْمٌ مُحَمَّدِيٌّ يَعْنِي أَنَّ صَوْمَهُ مُخْتَصٌّ بِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَاشُورَاءَ يَوْمٌ مُوسَوِيٌّ

 

Artinya: (Puasa Asyura). Al-Barizi berfatwa bahwa orang yang berpuasa pada hari Asyura misalnya untuk qadla atau nadzar puasa, maka ia juga mendapat pahala puasa sunah hari Asyura. Pandangan ini disepakati oleh Al-Ushfuwani, al-Faqih Abdullah an-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Ibrahim bin Shalih al-Hadhrami. Ini pandangan yang muktamad. (puasa hari Asyura dihitung oleh Allah) Hikmah di balik ganjaran penghapusan dosa dua tahun untuk puasa sunnah Arafah dan penghapusan dosa setahun untuk puasa Asyura adalah karena Arafah adalah harinya umat Nabi Muhammad SAW, yakni puasa sunah Arafah bersifat khusus untuk umat Nabi Muhammad SAW. Sementara Asyura adalah harinya umat Nabi Musa AS. (lihat Syekh Zakariya al-Anshari, Asnal Mathalib, juz V, halaman: 388).

 

 

Hal serupa Sayyid Bakri dalam kitab I‘anatut Thalibin. Menurutnya, orang yang berpuasa pada hari-hari tertentu yang sangat dianjurkan untuk dipuasakan akan mendapatkan keutamaan sebagai mereka yang berpuasa sunah pada hari tersebut, meskipun niatnya adalah qadla puasa atau puasa nadzar.

 

 وفي الكردي ما نصه في الأسنى ونحوه الخطيب الشربيني والجمال و الرملي الصوم في الأيام المتأكد صومها منصرف إليها بل لو نوى به غيرها حصلت إلخ زاد في الإيعاب ومن ثم أفتى البارزي بأنه لو صام فيه قضاء أو نحوه حصلا نواه معه أو لا

 

Artinya: Di dalam Al-Kurdi terdapat nash yang tertulis pada Asnal Mathalib dan sejenisnya yaitu Al-Khatib as-Syarbini, Syekh Sulaiman al-Jamal, Syekh ar-Ramli bahwa puasa sunah pada hari-hari yang sangat dianjurkan untuk puasa memang dimaksudkan untuk hari-hari tersebut. Tetapi orang yang berpuasa dengan niat lain pada hari-hari tersebut, maka dapatlah baginya keutamaan… Ia menambahkan dalam kitab Al-I‘ab. Dari sana, Al-Barizi berfatwa bahwa seandainya seseorang berpuasa pada hari tersebut dengan niat qadla atau sejenisnya, maka dapatlah keduanya, baik ia meniatkan keduanya atau tidak. (lihat Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, [Kota Baharu-Penang-Singapura, Sulaiman Mar‘i: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 224).

 

Disarankan mereka yang memiliki utang puasa Ramadlan baiknya mengqadla utang puasanya terlebih dahulu. Setelah itu baru boleh mengamalkan puasa sunah Arafah. Tetapi kalau utang puasa Ramadlan itu baru teringat jelang hari Arafah, sebaiknya membayar qadla puasanya di hari Arafah.


Editor:
F1 Bank Jatim