Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Bulan Safar, Waktunya Menikmati Tajin Sappar 

Bulan Safar, Waktunya Menikmati Tajin Sappar 
Bulan Safar identik dengan tajin atau jenang sappar. (Foto: NOJ/KJi)
Bulan Safar identik dengan tajin atau jenang sappar. (Foto: NOJ/KJi)

Surabaya, NU Online Jatim
Saat memasuki bulan Safar, yang tidak dapat dihilangkan adalah tradisi membuat jenang atau tajin sappar. Di kawasan Jawa dan Madura, tradisi ini demikian melekat dan tidak ada di waktu lain, kecuali bulan Safar.

 

Pandemi tidak menyurutkan semangat warga di Kabupaten Probolinggo menggelar tradisi sedekah jenang sappar. Tradisi ini merupakan peninggalan nenek moyang yang masih dilestarikan.

 

Sumiati (53), warga Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo mengaku tidak bisa meninggalkan tradisi ini. Baginya, saat memasuki bulan Safar, harus membuat tajin atau jenang sappar. Kendati tahun ini digoda pandemi, sama seperti tahun lalu.


"Jadi setiap bulan Safar kami selalu membuat jenang sappar untuk dibagikan kepada sanak keluarga dan tetangga," katanya,  Jumat (10/09/2021).

 

 

Di tempat berbeda, Nur Hayati dari kawasan Mangli, Jember juga demikian. Dirinya harus membuat jenang sebagai bukti bahwa sekarang telah memasuki bulan Safar.

 

Nur Hayati harus membuat sendiri jenang atau tajin dimaksud. Jenang buatannya berbahan tepung beras, tepung ketan, gula putih, gula merah, kelapa muda serta air dengan sedikit garam. Setelah proses pembuatan selesai, jenang dipanaskan dengan api kurang lebih satu jam. Setelah matang, jenang-jenang itu kemudian dibagi ke keluarga dan tetangga.

 

"Sebelum dibagi, kami berdoa dulu,” terang Sunarto Afkar.

 

Warga Krejengan, Kraksaan, Probolinggo tersebut mengemukakan bahwa doa sebagai wujud syukur kepada Allah atas segala rezeki yang sudah diberikan.

 

“Juga memohon ampunan dan pertolongan agar dijauhkan dari segara mara bahaya, dan berharap wabah Corona segera berakhir," tuturnya.

 

Siti Aisyah dari Klakah, Lumajang mengatakan bahwa sedekah jenang sapar memang bukan sebuah ajaran. Namun keberadaan jenang sappar merupakan tradisi yang perlu dilestarikan.

 

"Memang tidak ada keharusan. Namun bagi saya, berbagi dan bersedekah itu sangat dianjurkan," jelasnya.

 

Perempuan yang akrab disapa Aan ini mengemukakan bahwa dengan memperbanyak sedekah, manusia akan dijauhkan dari segara penyakit dan mara bahaya.

 

"Semoga dengan keberkahan di bulan Safar ini, Covid-19 akan segera berakhir,” harapnya.


Editor:
F1 PWNU Jatim