Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Cerita Anak Terbebas dari Siksa Kubur Berkah Shalawat

Cerita Anak Terbebas dari Siksa Kubur Berkah Shalawat
Perintah membaca shalawat ada dalam al-Qur'an. (Foto: NOJ/BK)
Perintah membaca shalawat ada dalam al-Qur'an. (Foto: NOJ/BK)

Puncak perayaan maulid Nabi Muhammad SAW akan berlangsung pada Kamis (29/10/2020). namun demikian, nuansa memperingati hari lahir Nabi sudah mulai terasa sejak pertengahan bulan lalu. Tidak semata bermanfaat kepada mereka yang merayakan, namun shalawat ternyata juga memberikan manfaat kepada mereka yang telah wafat.

 

Tidak diragukan bahwa membaca shalawat merupakan ibadah yang istimewa dan memiliki banyak keutamaan dan manfaat baik bagi pembacanya orang lain maupun bagi orang yang dimaksudkan pembacaannya.

 

Salah satu kisah tentang fadlilah atau keutamaan shalawat adalah apa yang diceritakan oleh Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di dalam kitab Afdlalus Shalawât ala Sayyidis Sadat.

 

An-Nabhani mengisahkan bahwa Al-Hafidh As-Sakhawi pernah bertutur: Seorang ibu datang menghadap kepada Syekh Hasan Al-Bashri. Kepada sang alim itu si ibu bercerita tentang anak perempuannya yang telah meninggal dunia beberapa hari sebelumnya.

 

“Saya ingin bermimpi melihatnya, Syekh,” katanya kemudian. Melihat keinginan sang ibu yang begitu kuat Syekh Hasan Al-Bashri kemudian memberi beberapa amalan untuk dilakukan.

 

“Setelah shalat Isya lakukanlah shalat sunah empat rakaat. Di setiap rakaatnya bacalah surat al-Fatihah dan at-Takatsur sekali. Setelah itu tidurlah dengan posisi miring sambil membaca shalawat kepada Nabi sampai dengan engkau tertidur.”

 

Maka, sang ibu mengamalkan apa yang diajarkan oleh Syekh Hasan. Di dalam tidurnya ia bermimpi melihat anak perempuannya dalam keadaan disiksa. Ia memakai pakaian dari api, kedua tangannya dibelenggu dan kedua kakinya diikat dengan rantai api. 

 

 

Ketika terbangun dari tidurnya, sang ibu segera menemui Syekh Hasan dan menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi. Mendengar cerita dari sang ibu, dia memberi saran untuk bersedekah dengan harapan Allah berkenan mengampuni anak perempuannya.

 

Pada malam harinya Syekh Hasan bermimpi seakan berada di pertamanan surga. Di sana ada sebuah kasur yang terbentang. Di atasnya ada seorang perempuan berwajah elok dengan mahkota cahaya bertanggar di kepalanya.

 

Kepada Syekh Hasan perempuan itu berkata: “Ya Hasan, kau mengenaliku?” “Tidak,” jawabnya. Perempuan itu mengatakan, “Aku adalah anak perempuan dari seorang ibu yang kau perintahkan untuk membaca shalawat.”

 

Syekh Hasan seperti tak percaya. “Ibumu itu menceritakan tentang dirimu bukan dengan keadaan seperti ini,” katanya.

 

“Apa yang disampaikan ibuku itu memang benar adanya,” timpal perempuan itu.

 

“Lalu apa yang menjadikanmu mendapatkan kemuliaan seperti ini?”

 

“Kami ada tujuh puluh ribu jiwa yang sedang mengalami siksaan sebagaimana diceritakan ibuku kepadamu. Satu hari seorang yang salih lewat di pemakaman kami sambil membaca shalawat Nabi sekali dan menghadiahkan pahalanya untuk kami. Allah menerima shalawat yang dibacanya itu dan membebaskan kami semua dari siksaan, sebab berkah dari laki-laki salih tersebut. Kini sampailah aku pada derajat sebagaimana yang engkau lihat ini.”

 

Bila tujuh puluh ribu ahli kubur bisa diselamatkan dari siksaan hanya dengan satu kali shalawat saja, maka bagaimana dengan orang yang membacanya?

 


Editor:
F1 Bank Jatim