Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Cerita Kader Ansor Sembuh dari Covid-19

Cerita Kader Ansor Sembuh dari Covid-19
Atho'ilah, kader Ansor Kabupaten Jombang yang sempat positif Covid-19. (Foto: NOJ/ Syarif Abdurrahman).
Atho'ilah, kader Ansor Kabupaten Jombang yang sempat positif Covid-19. (Foto: NOJ/ Syarif Abdurrahman).

Jombang, NU Online Jatim

Menjadi pasien Covid-19 sesuatu yang sangat dihindari masyarakat saat ini. Namun tidak bagi Atho'ilah, kader Ansor Kabupaten Jombang yang dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil swab di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jombang.

 

Meskipun menyandang status positif, Mas Atok masih aktif berkegiatan secara virtual. Hal tersebut karena ia tidak merasakan gejala apapun sebelum swab dilakukan. Segar bugar layaknya semangat kader Ansor.

 

Pria yang juga ketua KPU Jombang ini mulai berstatus orang tanpa tanpa gejala Covid-19 pada Rabu (02/12/2020). Sejak saat itu, ia bekerja dari rumah. Umumnya penderita Covid-19, ia mengalami gejala sesak nafas.

 

"Benar saya positif Covid tanpa gejala. Saya dinyatakan positif berdasarkan hasil pemeriksaan swab tes PCR yang saya ikuti di kantor, sehari sebelumnya," katanya kepada NU Online Jatim, Rabu (09/12/2020).

 

Atho'ilah sebelumnya tercatat sebagai pengurus GP Ansor Jombang bidang hukum. Dikarenakan ia terpilih menjadi Ketua KPU Jombang maka sesuai aturan yang ada, jabatannya di Ansor berubah menjadi kader biasa.

 

Hasil tes swab di KPU Jombang hari itu semuanya negatif kecuali Atho'ilah. Ia langsung tertawa ketika mengetahui hasil swab yang positif untuknya. Karena ia merasa sehat-sehat saja.

 

Setelah dipastikan positif, pria yang akrab disapa Mas Atok ini langsung mengatur strategi agar kegiatan kantornya tidak terganggu sebab Covid-19 yang dideritanya. Hal ini penting agar semua berjalan sesuai rencana.

 

"Setelah diberi tahu positif, saya bingung apa yang harus dilakukan?. Jika boleh usul ke pemerintah, mungkin perlu untuk membuat panduan sederhana soal ini, lalu sosialisasi seluas-luasnya. Kalo dulu ada pelatihan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan), mungkin sekarang perlu pelatihan P3KC, Pertolongan Pertama Pada Kasus Covid," pinta Mas Atok.

 

Selanjutnya, Mas Atok memastikan isteri dan anaknya bebas Covid-19. Setelah dipastikan negatif, maka seisi rumahnya dipindahkan ke rumah keluarga yang lain. Tinggallah Mas Atok seorang diri di rumah. Kemudian, ia mulai memberi tahu kepada tetangganya terkait status barunya.

 

"Semuanya memahami, mendukung dan mendoakan. Beberapa memberi saran-saran dan berkirim pesan secara pribadi. Terima kasih para tetangga. Saya lanjutkan dengan berkirim pesan ke grup kantor menjelaskan jika saya positif, juga kebijakan-kebijakan terkait kegiatan kantor selama isolasi," ungkap Mas Atok.

 

Alumni Universitas Brawijaya Malang ini menjelaskan, hal sederhana tapi penting dikelola dengan baik saat isolasi mandiri adalah sampah. Jika sembarangan membuang sampah dari dalam rumah isolasi, tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan.

 

Tidak semata-mata soal sampahnya, tapi sangat mungkin menimbulkan kekhawatiran jika sampah-sampah itu bisa menjadi media penularan Covid-19. Ini untuk mengantisipasi ada tetangga yang berpikiran bahwa sampah bisa jadi penyebar virus.

 

"Selama isolasi saya tetap produktif mengikuti rapat via zoom, ikut banyak kegiatan agar tak bosan. Kadang baca buku, olahraga, setrika baju, buka youtube, diskusi sama tenaga media dan lain sebagainya," imbuh Mas Atok.

 

Mas Atok, menjelaskan sangat bersyukur memiliki banyak teman dari kalangan nahdliyin, aktivis hukum, pejabat, jurnalis dan jaringan mahasiswa yang mendukung proses isolasi mandiri. Terkadang ia kaget dengan begitu banyak kiriman barang di gerbang rumahnya berisi bermacam-macam hal.

 

Kabar gembira akhirnya datang juga, tanggal 08 Desember 2020 Mas Atok dinyatakan negatif Covid-19 setelah dua kali tes swab. Setelah seminggu menjalani isolasi mandiri, kabar ini sangat melegakan. Selama seminggu hanya berkutat di dalam rumah.

 

"Ada pesan whatsapp masuk. Isinya foto selembar kertas. Tertulis jenis pemeriksaan RT-PCR SARS-CoV-2 dengan hasil "negatif". Alhamdulillah. Saya dinyatakan negatif Covid," ungkapnya.

 

Menurutnya, keuntungan orang yang pernah positif Covid lalu negatif yaitu imunitas meningkat terhadap virus ini. Mas Atok mengatakan, masa positif Covid-19 yang dialaminya hampir sama dengan Kiai Said Aqil Siradj.

 

"Saya baca berita, Kiai Said juga dinyatakan negatif. Pendapat beliau bahwa Covid itu bukan aib, Saya kutip, kalau tidak salah di tulisan pertama saya sebagai OTG. Alhamdulillah. Moga sehat selalu kiai," bebernya.

 

Mas Atok berpesan bagi yang dinyatakan positif Covid, tenang saja. Karena bukan kiamat. Panik dan bingung hanya akan membuat seseorang tak bisa berfikir jernih.

 

Biasanya kebingungan ini akan dirasakan dihari pertama. Selanjutnya, pastikan kondisi keluarga terdekat, terutama yang tinggal serumah negatif. Langkah berikutnya, jelaskan kondisi diri pada tetangga. Beri informasi selengkap mungkin. Penjelasan lengkap diperlukan agar mereka tahu apa yang terjadi, mereka tetap merasa aman.

 

"Benar, kita isolasi, tapi bukan berarti kita menutup diri dari keluarga dan teman-teman kita. Tak perlu mematikan komunikasi. Itu akan memperburuk keadaan. Tetaplah berkabar dengan keluarga dan sahabat. Jalani masa isolasi dengan bahagia," pesan Mas Atok.

 

 

Sebagai alumnus pasien Covid-19, Mas Atok berencana menyumbangkan plasma darahnya untuk kaum nahdliyin dan masyarakat umum sebagai obat Covid-19. Tubuh seseorang yang sembuh dari Covid-19 memiliki organ tubuh yang lebih kuat terhadap Covid-19. Karena si tubuh bisa berdamai dengan virus yang masuk.

 

Setelah sembuh, Mas Atok menyarankan untuk pasien Covid-19 segera memberi tahu tetangga dan orang dekat. Demi rasa aman. Selain itu, ia juga bertekad untuk berbagi pengalaman kepada banyak orang agar tak takut menghadapi Covid-19.

 

"Saya punya kesempatan menyumbangkan plasma darah untuk mengobati pasien Covid. Darah Saya bisa menjadi obat. Saya sudah tanyakan ini ke rumah sakit. Namun ada beberapa tahapan. Semoga plasma darah ini membantu," tandas Mas Atok.

 

Penulis: Syarif Abdurrahman

Editor: Romza

PWNU Jatim