Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Cinta Ilmu Dibuktikan dengan Cinta Guru

Cinta Ilmu Dibuktikan dengan Cinta Guru
Peringatan haul KH Abdul Wahab Chasbullah secara virtual di Pesantren Tambakberas, Jombang. (Foto: NOJ/RTv)
Peringatan haul KH Abdul Wahab Chasbullah secara virtual di Pesantren Tambakberas, Jombang. (Foto: NOJ/RTv)

Pada kesempatan ini penulis ingin mengajak semua kalangan untuk merenungi hadits berikut:

 

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَ تَعَلَّمُوْا لِلْعِلْمِ السَّكِيْنَةَ وَالْوَقَارَ وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ (رواه الطبراني)

 

Artinya: Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah untuk ilmu ketenangan dan sopan santun, dan berendah hatilah kamu kepada orang yang kamu belajar daripadanya. (HR Imam Thabrani, Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 3322).

 

Pesan di atas memiliki kisah inspiratif yang bisa menjadi pembelajaran dan renungan bagi semua pihak.

 

Dalam buku KH Choirul Anam yang berjudul KH Abdul Wahab Chasbullah Hidup dan Perjuangannya, terdapat kutipan wawancara Cak Kayyis dengan KH Masykur Hasyim, seorang tokoh NU yang juga pernah nyantri kepada KH Abdul Wahab Chasbullah.

 

“Sebelum belajar di Pesantren Tambakberas, saya belajar di Pesantren Cangaan Bangil, tempat di mana dulunya KH Hasbullah Said, ayah dari KH Abdul Wahab Chasbullah belajar. Ketika saya masuk Cangaan saat itu, pesantren tersebut diasuh Kiai Kholili.

 

Suatu ketika saya ingin pindah ke Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, tetapi dilarang oleh Kiai Kholili. Sampai-sampai mengatakan tidak ridla karena keberadaan saya di Cangaan. Menurutnya, saya membuat santri lain kerasan. Tetapi, tekad saya sudah bulat. saya tetap ingin ke Tambakberas yang kala itu diasuh Kiai Abdul Wahab Chasbullah.

 

Benar, suatu hari, saya diantar orang tua ke Tambakberas. Setelah meletakkan barang bawaan, beras, bumbu-bumbu masakan, pakaian di kamar pondok. saya bersama abah saya, datang untuk memohon izin (sowan) kepada Kiai Wahab sebagai santri baru di pesantrennya.

 

Betapa kaget saya ketika kaki baru turun dari tangga kamar, tiba-tiba Kiai Kholili berdiri tegak di depan saya. Beliau mngggunakan pakaian serba putih dan bersorban putih. Dengan kalimat singkat beliau berkata: “Ya! Saya ridla, saya ridla, saya ridla,” jelasnya. Maksud ridha barangkali karena saya pindah ke Tambakberas yang diasuh Kiai Abdul Wahab yang notabene putra KH Chasbullah, santri Cangaan juga.

 

Restu Kiai Kholil membuat saya semakin semangat. Saat itulah tahun 1966 saya bisa mengikuti dan belajar menyaksikan hari-hari KH Abdul Wahab Chasbullah. Kiai Wahab memiliki penampilan yang sangat meyakinkan. Gaya busananya sebagaimana kiai-kiai lain, yaitu selalu memakai sorban dengan dominasi warna putih. Lincah, karena juga hobi olahraga bela diri dan pencak silat. Saking lincahnya, sering memperagakan jurus-jurus silat  ketika sedang mengkaji kitab, seperti pendekar yang siap tarung. Intinya, santri (umat Islam) tidak boleh cengeng, tidak boleh mudah menyerah, harus cerdas mengatasi masalah.

 

Kharisma Kiai Wahab luar biasa. Bukan hanya di depan santri lingkungan pesantren, masyarakat Tambakberas dan sekitarnya begitu menghormatinya. Ini karena Kiai Wahab berhasil menjalin komunikasi yang bagus dengan tokoh-tokoh setempat.

 

Sekadar diketahui, santri Tambakberas dipersilahkan mengaji kitab ke kiai-kiai lain di lingkungan pesantren setempat yang benar-benar terbuka. Saking terbukanya tidak ada pagar tembok yang membatasi. Kiai Wahab tidak mau pesantren menjadi eksklusif.

 

Ada dua model pngajian Kiai Wahab. Pertama, khusus untuk para santri dalam. Kedua, untuk umum. Yang setengah umum ini lazimnya digelar bakdha shalat Ashar. Yang datang banyak, mirip pengajian umum. Masyarakat sekitar, bahkan sampai Kertosono, Nganjuk hadir. Dan biasa, usai pengajian umat berebut mencium tangan beliau.”

 

Kisah KH Masykur Hasyim tentang ridla seorang guru kepada santrinya, merupakan pengingat kita akan ridla malaikat bagi manusia yang mencari ilmu.

 

إنَّ المَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضاً بِما يَطْلُبُ (رواه الطيالسى عن صفوان بن عسال)

 

Artinya: Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada penuntut ilmu karena ridla kepada apa yang dituntutnya. (HR Thayaalisi dari Shafwan bin ‘Asal, Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 2123).

 

Begitulah salah satu kisah yang menunjukkan kecintaan seorang santri pada gurunya. Kecintaan tersebut tentu menjadi potret kecintaan seorang muslim terhadap ilmu. Seperti yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW:

 

أَلاَ اُعَلِّمُكَ حَصَلاَتٍ يَنْفَعُكَ اللّٰهُ تَعَالَى بَهِنَّ: عَلَيْكَ بِعِلْمِ فَاِنَّ الْعِلْمَ خَلِيْلُ الْمُؤْمِنِ, وَالْحِلْمَ وَزِيْرُهُ, وَالْعَقْلَ دَلِيْلُهُ, وَالْعَمَلَ قَيِّمُهُ, وَالرِّفْقَ أَبُوْهُ, وَاللِّيْنَ أَخُوْهُ, وَالصَّبْرَ أَمِيْرُجُنُوْدُهُ (رواه الحكيم عن إبن عباس)

 

Artinya: Maukah engkau aku ajari budi-budi yang dengannya Allah memberi manfaat? Engkau harus berilmu, karena sesungguhnya ilmu adalah kecintaan orang mukmin, dan santun adalah pembantunya, dan akal adalah petunjuk jalannya, dan amal pengaturnya, dan kelembutan adalah bapaknya, dan kelunakan adalah saudaranya, dan sabar adalah panglima bala tentaranya. (HR. Haakim dari Abu Hurairah, Al-Jami’us Shaghier, hadits nomor 2881).

 

Dengan begitu, pentinglah bagi kita untuk merenungkan sebuah rangkaian kalimat berikut: bahwa bagaimana kita bisa menyadari betapa hidup adalah ilmu tatkala ketika semakin dekat dengan segala pencapaian, justru terlupa untuk menjaga tertunduknya kepala? Tiada orang sempurna dan tiada ruang hampa selama ilmu menjadi pengisi di dalamnya.

Iklan promosi NU Online Jatim