Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Dari Kencong ke Anambas: Menengok Kiprah Ustadz Fauzan di Medan Dakwah

Dari Kencong ke Anambas: Menengok Kiprah Ustadz Fauzan di Medan Dakwah
Penyerahan bantuan dana untuk kesejahteraan guru Pesantren Assunniyah II. (Foto: NOJ/Rijal M)
Penyerahan bantuan dana untuk kesejahteraan guru Pesantren Assunniyah II. (Foto: NOJ/Rijal M)

Hidup dengan segala keterbatasan fasilitas dan sejenisnya menjadi pemandangan harian bagi sejumlah ustadz dan guru tugas di kawasan kepulauan. Namun mereka tetap memiliki semangat juang tinggi, dan tidak gampang menyerah. Segala ikhtiar dilakukan meskipun hidup dengan keluarga. Kita berutang jasa kepada para pejuang ini.

 

Berikut catatan ketiga dari Rijal Mumazziq Z yang melakukan kunjungan ke pulau terdepan Indonesia yakni kawasan Anambas Kepulauan Riau yang dikirimkan khusus kepada NU Online Jatim.

 

------

 

Melihat kiprah dakwah Ustadz Fauzan dan para guru Pondok Pesantren Assunniyah II, Ladan, Palmatak, Kepulauan Kabupaten Anambas, seorang dermawati asal Surabaya menitip dana untuk membantu kesejahteraan para guru di pesantren ini.

 

Dana disalurkan melalui UPZIS (Unit Pengelola Zakat Infaq dan Sedekah) Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) dan sudah diserahkan kepada Ustadz Fauzan. Pria kelahiran Gumukbanji, Kencong, Jember ini yang dalam kurun beberapa tahun terakhir menjadi penggerak pendidikan Islam di Palmatak.

 

Bersama istrinya, Mbak  Evi Kunkafiyah, dan dibantu beberapa guru, antara lain Ustadzah Mufid, Ustadz Fauzan menjadi pengelola Pondok Pesantren Assunniyah II. Di tengah medan berat, karena akses masuk ke lokasi kurang lebih 2,5 KM, dengan jalan tanah yang licin jika hujan, beliau mendidik para santri. Awalnya hanya 7, kini mencapai 50 santri.

 

Di tengah hutan ini, jika malam nyamuk-nyamuk berpesta. Beberapa satwa liar kadang juga menyatroni pondok. Setelah ada listrik, penerangan lumayan terang. Sayang, sinyal masih byarpet. Akses air juga terbatas. Sudah tiga kali pihak pengasuh menggali sumur. Gagal terus. Penyebabnya, bor membentur batu besar. Kali ini, upaya keempat. Kita doakan semoga berhasil. Sebab, selain butuh air melimpah, biaya pembuatan sumur juga tidak murah.

 

Meski penuh keterbatasan, namun kondisi ini tak menyurutkan semangat para guru mendidik para santri. Kemarin, dalam perlombaan dalam rangka Hari Santri, dua delegasi Pondok Pesantren Assunniyah II, meraih prestasi. Arif menjadi juara 2 lomba pidato bahasa Arab, sedangkan Rifanni menjadi nomor satu di lomba pidato bahasa Arab bagi santriwati se-Kabupaten Kepulauan Anambas. Keduanya murid kelas 1 SMP Terpadu Assunniyah II. Dua santri lainnya, menjadi kampiun di level kejuaraan lain.

 

Ada puluhan guru tugas dari Pondok Pesantren Assunniyah Kencong yang ditempatkan di beberapa pulau di kabupaten ini. Sebagian membawa istri, sebagian masih jomblo. Mereka diutus oleh KH A Sadid Jauhari, pengasuh pesantren yang berlokasi di Jember itu.

 

Ketika ‘mbabat alas’ beberapa tahun silam, mereka menempuh perjalanan naik kapal laut kurang lebih 5-6 hari, dari Surabaya-Jakarta-Tanjung Pinang-Batam-Tarempa dan finish di Palmatak. Benar benar perjalanan yang berat!

 

Kini para dai ini mengasuh beberapa pesantren. Selain Ustadz Fauzan di Pondok Pesantren Assunniyah II, ada Ustadz Muhammad Na'im yang mendidik santri Pondok Pesantren Khoiru Ummah di Tarempa. Sedangkan di Pulau Piasan ada Rumah Tahfidz yang diasuh oleh Ustadz Syamsul Arifin, yang juga merupakan alumni Inaifas tahun ini.

 

Sampai saat ini, hampir 100 santri dari Kabupaten Kepulauan Anambas mondok di Pesantren Assunniyah Kencong Jember. Kelak, mereka lah yang bakal pulang ke kampung halamannya melanjutkan kiprah dakwah dan pendidikan para guru dari Jawa yang telah menempanya.

 

Editor: Syaifullah

Iklan Hari Pahlawan