Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Derita Mahasiswa Rantau Terhalang Signal, Rayakan Lebaran di Lorong Kos

Derita Mahasiswa Rantau Terhalang Signal, Rayakan Lebaran di Lorong Kos
Sejumlah mahasiswa memanfaatkan lorong kos untuk bertemu sesama perantau. (Foto: NOJ/A Rofii)
Sejumlah mahasiswa memanfaatkan lorong kos untuk bertemu sesama perantau. (Foto: NOJ/A Rofii)

Mojokerto, NU Online Jatim

Idul Fitri seharusnya dijadikan momen berkumpul bersama keluarga, serta melepas rindu dengan sanak saudara. Karenanya, ada tradisi mudik yang dilakukan sebelum takbir bergema demi memastikan kala lebaran dapat merayakan bersama keluarga.

 

Namun bayangan indah tersebut tidak berlaku bagi Riza Aisyah, Ketua Koprs Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Komisariat KH Abdul Chalim, Mojokerto. Momen tersebut harus terkubur sementara lantaran ada larangan mudik dan tidak tersedianya sarana transportasi.

 

Saat kondisi tidak memungkinkan untuk pulang kampung, yang mestinya dapat dilakukan adalah dengan menmghubungi keluarga kerabat secara online. Apa daya, hal tersebut juga terkendala dengan kurang bagusnya jaringan telekomunikasi.

 

Riza yang kini menempuh pendidikan di kaki gunung Welirang, Institut Pesantren KH Abdul Chalim (Ikhac) Pacet, Kabupaten Mojokerto harus terkendala signal saat akan halal bihalal bersama orang tua di kampung secara virtual.

 

"Menyakitkan. Akses signal yang susah di bawah pegunungan semakin menambah sedih. Saya sempat menangis, karena ibu saya tidak bisa dihubungi lantaran di rumah sibuk dengan tamu sehingga tidak sempat memegang hape," ungkap Riza kepada NU Online Jatim, Jumat (14/05/2021)

 

Alasan tidak mudik bukan semata karena adanya larangan mudik oleh pemerintah. Penyebab lain karena bersama teman lain harus mengerjakan tugas akhir sebagai mahasiswa.

 

"Sudah tidak mudik, lebaran tahun ini juga diberatkan tugas akhir perkuliahan, penelitian skripsi, dan laporan Kuliah Kerja Nyata atau KKN," jelas mahasiswa asal Lampung tersebut.

 

Perempuan usia 21 tahun ini bersama teman seperjuangan yang tentu saja senasib, akhirnya merayakan lebaran penuh dengan kesederhanaan. Hal tersebut diharapkan bisa mengurangi sedikit kesedihan yang diderita.

 

"Saya tidak sendiri, ada teman dari Demak Jawa Tengah, Manado, Papua, Palembang juga Makassar. Kami merayakan di lorong kamar kos sembari bercanda dan tertawa bareng," ungkapnya berusaha tegar.

 

Meski demikian dirinya bersyukur, meskipun di tanah rantau bisa merayakan lebaran dengan keluarga baru, sehingga bisa sedikit mengobati rasa rindu.

 

“Alhamdulillah, momentun ini bisa sedikit mengobati rasa rindu kami kepada keluarga di kampung," beber dia.

 

Tidak sedikit mahasiswa yang mengalami hal serupa yakni momen berkumpul keluarga harus tertunda. Karenanya, dia dan kawan sejawat berharap kondisi ini dapat segera berakhir.

 

“Semoga Corona segera hilang agar silaturahim tidak hanya virtual. Para mahasiswa perantau juga harus sabar untuk tidak mudik karena ini mungkin pilihan tepat untuk menjaga keluarga dari tertularnya Covid-19," tutupnya.

 

Editor: Syaifullah


Editor:
F1 PWNU Jatim