Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Desa Santri, Ganjaran, Telah Kehilangan Kiai Sepuh Pengasuh Pesantren

Desa Santri, Ganjaran, Telah Kehilangan Kiai Sepuh Pengasuh Pesantren
KH Mujtaba Bukhari dan Ibu Nyai Hj Mamnunah istri KH Yahya Syabrowi. (Foto: NOJ/Istimewa)
KH Mujtaba Bukhari dan Ibu Nyai Hj Mamnunah istri KH Yahya Syabrowi. (Foto: NOJ/Istimewa)

Saya bersyukur kepada Allah karena saya lahir di sebuah desa di wilayah Gondanglegi, Malang Selatan yang ramai dengan pesantren. Juga dikelilingi para kiai yang alim dan santri, Desa Ganjaran namanya.

 

Menurut cerita yang berkembang bahwa kiai sepuh yang pertama datang ke desa ini adalah Kiai Zainal Alim, pesantren beliau ada sampai sekarang dengan nama Zainul Ulum. Makamnya terletak di masjid selatan Desa Ganjaran dan dikelilingi dengan pondok dan madrasah Mansya'ul Ulum yang didirikan oleh Kiai Nasir dan sekarang diasuh oleh Bindereh Mukhlason, teman saya saat mondok di Ploso, Kediri.

 

Berikutnya datang KH Bukhari Ismail dari Ombul Sampang, Madura, saat mudanya nyantri kepada Syaikhana Kholil Bangkalan. Beliau diambil menantu oleh H Rosyid dan diberi banyak tanah. Dari tanah itulah sampai sekarang berdiri Masjid Syafi'iyah dan lembaga pendidikan Raudlatul Ulum, mulai TK sampai madrasah aliyah. Anugerah dari Allah kepada KH Bukhari ini adalah putra-putrinya menjadi kiai semua, sebagian besar punya pesantren, sebagian lagi menjadi Mursyid Thariqah An-Naqsyabandiyah. Kiai Bukhari ini saudara sekandung dengan KH Fathul Bari, Mursyid Thariqah An-Naqsyabandiyah Mudzhariyah yang makamnya terletak di Peniraman Pontianak.

 

Putra-putri Kiai Bukhari adalah:

1. KH Zainullah

2. Nyai H Mamnunah (menikah dengan KH Yahya Syabrowi)

3. KH Fudholi

4. KH Abu Abbas

5. KH Ismail

6. KH Muhammad Amin

7. KH Dumyathi

8. KH Qosim

9. KH Mujtaba (wafat Kamis, 17/12/2020)

 

Kiai Bukhari memiliki menantu bernama Kiai Yahya Syabrowi, keponakannya sendiri dari Sampang, Madura. Di masa itulah Desa Ganjar benar-benar menjadi desa santri. Sebab pesantren yang beliau dirikan bernama Raudlatul Ulum 1, kemudian beberapa pesantren lain semacam menjadi cabang dengan nama Raudlatul Ulum 2, 3 sampai 6 saat itu. Pondok-pondok tersebut adakalanya adik-adik beliau, putra atau menantu. Meski pesantren begitu banyak, namun kegiatan pendidikan tersentral di satu madrasah dan masjid.

 

Disebut desa santri bukan hanya banyak pesantren dan santri, tetapi karena penduduk Desa Ganjar ini juga ikut ngaji kitab di masjid. Hal ini disaksikan langsung oleh guru saya, KH Zainuddin Jazuli Ploso. Beliau berkisah saat pernikahan putra Kiai Mustofa Siraj, dawuh beliau: Tahun 70-an saya datang ke Desa Ganjar ini untuk menengok alumni Ploso, Kiai Mustofa Siraj. Saya sampai di sini sore hari. Saya kaget kok ada beberapa orang tua berjalan beriringan membawa kitab. Saya ikuti orang-orang ini, hendak ke mana mereka? Ternyata mereka datang ke masjid dan ngaji kepada Kiai Yahya. Subhanallah, jarang-jarang saya menemukan warga kampung yang mau mengaji, kecuali di Desa Ganjar ini. Tapi saya tidak tahu apakah sekarang masih ada tradisi seperti itu?"

 

Sepeninggal Kiai Yahya, dilanjutkan oleh putra dan adik-adik ipar beliau. Termasuk KH Mujtaba ini, baik di lembaga pendidikan Raudlatul Ulum, Masjid Asy-Syafi'iyah, Thariqah dan sebagainya. Dan beliau inilah kiai sepuh terakhir yang mengasuh pesantren. Kiai-kiai lainnya terbilang keponakan beliau.

 

Meskipun yang terakhir ini telah wafat, tetapi kita berdoa semoga Allah melimpahkan anugerah dan rahmat-Nya untuk tetap menjadikan Desa Ganjaran ini sebagai Desa Santri. Amin.

Iklan promosi NU Online Jatim