Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Di Sumenep, Gus Ghafur dan Gus Baha Jelaskan Kriteria Pemimpin Ideal

Di Sumenep, Gus Ghafur dan Gus Baha Jelaskan Kriteria Pemimpin Ideal
KH Abdul Ghafur Maimoen dan KH Bahauddin Nursalim di Sumenep. (Foto: NOJ/Habib)
KH Abdul Ghafur Maimoen dan KH Bahauddin Nursalim di Sumenep. (Foto: NOJ/Habib)

Sumenep, NU Online Jatim

Banyak kegiatan yang digelar pantia Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (Konfercab NU) Sumenep. Dari mulai halaqah penguatan ranting, lokakarya Renstra, nonton bareng film Jejak Langkah 2 Ulama di 5 titik, lomba mars Syubbanul Wathan online, hingga layanan kesehatan gratis.

 

Pada Kamis (24/9/2020) malam, rangkaian Konferancab dipungkasi haul muassis NU dan ngaji bareng bersama KH Abdul Ghafur Maimoen atau Gus Ghafur dan KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Kegiatan dipusatkan di Pondok Pesantren Nasy'atul Muta'allimin Kecamatan Gapura.

 

Gus Baha menegaskan bahwa ada ulama baru yang memodivikasi Islam setelah kecelakaan umat Nasrani. Karena kesalahan terbesarnya adalah menuhankan nabinya.

 

Dengan kalimat tauhid dan shalawat nabi, dirinya menegaskan bahwa Allah SWT seorang pemberi, dan Nabi Muhammad SAW seorang penerima.

 

"Jadi kata abduhu wa rasuluhu menandakan bahwa Nabi Muhammad SAW seorang hamba yang membutuhkan rahamatullah dan pemberi syafaat kepada umatnya," terangnya. Dengan kalimat ini maka umat Islam tidak akan mengalami kegagalan yang dilakukan oleh kaum Nasrani, tambahnya.

 

Kemudian dirinya menyitir pesan sang guru yakni almaghfurlah KH Maimoen Zubair bahwa ketika Andalusia Spanyol guling atau runtuh. Sebenarnya Allah SWT tidak menerima. Karena saat runtuhnya Daulah Abbasiyah sebagai puncak keemasan Islam di abad pertengahan muncullah kerajaan baru di Nusantara yakni Demak dan berdirinya Masjid Demak.

 

"Jadi, gulingnya Andalusia berbarengan dengan berdirinya kerajaan Demak yang sama-sama hebat dan mampu menelorkan seorang filsuf, ilmuwan, karya yang nomumental, dan mayoritas seorang waliyullah. Sebut saja wali songo, Syaikh Nawawi al-Banteni, Syaikhana Chalil Bangkalan dan lainnya yang memiliki segudang ilmu pengetahuan dan karya atau buku yang sampai detik ini dijadikan rujukan," jelasnya.

 

Selanjutnya, ketika Islam tidak di Makkah lagi atau tidak berbahasa Arab, ternyata melahirkan ulama hebat di Andalusia dan Indonesia.

 

"Gurunya top tergantung kepada muridnya. Seandainya Mbah Zubair tidak punya anak Mbah Maimoen, maka tidak akan ramai seperti saat ini," ungkapnya.

 

Kisah Murid Rasulullah

Jika Gus Baha bercerita tentang ulama Nusantara yang memiliki murid hebat, berbeda dengan KH Abdul Ghafur Maimoen. Gus Ghofur menceritakan kisah murid Rasulullah SAW yang dikenal hebat.

 

Ketika Nabi wafat, pakaian perangnya digadaikan 75 syak demi kepentingan negara. "Bayangkan sekelas Nabi melakukan hal tersebut demi umatnya," ujarnya.

 

Tak sampai di situ, posisi Nabi sebagai kepala pemerintahan digantikan oleh murid-muridnya yang dikenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin.

 

Ketika Umar bin Khattab RA mendengar kabar Nabi wafat, ia tak percaya bahkan mengancam yang mengatakan Rasulullah wafat dengan pedangnya. Amarah tersebut padam seketika ketika Abu Bakar Shiddiq RA menjelaskan langsung di hadapannya.

 

"Abu Bakar adalah rais syuriyah atau ulama. Jadi syarat utama menjadi Rais PCNU Sumenep harus seperti Abu Bakar. Sekali ngomong, bisa mendinginkan umat," katanya disambut tawa hadirin.

 

Hipotesisnya, ketika Nabi wafat butuh ketenangan, mMaka terpilihlah Abu Bakar. Namun setelah masa ketenangan terpilihlah Umar sebagai pemimpin yang memberikan terobosan baru bagi umat Islam.

 

Perlu diketahui bahwa saat Abu Bakar menjadi khalifah tidak mau menerima gaji walaupun Umar menjelaskan.

 

"Ya Abu Bakar, jika dulu engkau berprofesi sebagai pedagang kaya, sekarang engkau tak seperti dulu lagi," katanya saat menyitir isi kitab Mbah Maimoen. Namun Abu Bakar bersikukuh untuk tidak menerima sepeser pun gaji tersebut, lanjutnya.

 

Yang mencengangkan lagi adalah ketika Abu Bakar wafat, gajinya ditebus demi kemakmuran rakyat. "Presiden zaman dulu dengan sekarang jauh berbeda. Lah wong zaman now presidennya semakin berdagang," sergahnya.

 

Gus Ghafur melanjutkan cerita bahwa ketika Umar RA terpilih menjadi khalifah hanya memilih dua baju. Yakni satu untuk musim panas dan satu lagi saat musim dingin.

 

"Ketika Umar RA berpidato di depan umat, Salman al-Farisi terbangun dari tempat duduknya dan menanyakan kepadanya terhadap dua baju yang dipakai," kisahnya. Kemudian Umar menjawab bahwa yang pertama adalah miliknya dan satunya lagi pinjam kepada anaknya, imbuhnya.

 

Suatu saat Umar RA bertanya kepada salah satu kawannya bahwa dirinya akan dikatakan seorang khalifah ketika mendapatkan apa pun dari pemerintah maka berikanlah kepada yang lebih berhak termasuk kelak akan menggadaikan baju perangnya.

 

Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA juga seperti itu. Karena saat menjabat seorang khalifah anaknya menyewa baju ke baitul mal untuk merayakan lebaran. Tanpa itu semua, maka tidak bisa disebut khalifah.

 

"Luar biasa yang diajarkan oleh Rasulullah kepada murid-muridnya," katanya.

 

Saat perang Tabu' yang menurut Rasulullah sangat sulit dimenangkan karena lawannya adalah pasukan imperium Romawi, maka Nabi melakukan penggalangan dana kepada seluruh umat untuk kepentingan perang.

 

"Tahu tidak? Sang pedagang dan saudagar kaya yakni khalifah ketiga Islam, Utsman bin Affan membawa 300 ekor unta dan 100 dinar untuk dipakai pendanaan perang," jelasnya.

 

Dirinya kemudian membayangkan andai saja di Sumenep ada sosok pengurus layaknya Utsman, maka NU tidak perlu mengeluarkan proposal.

 

Tak sampai di situ, Umar r.a juga menyerahkan separuh hartanya untuk kepentingan perang. Namun ketika Abu Bakar datang, ia menyerahkan seluruh hartanya sehingga membuat Umar takjub.

 

"Jika ada pemimpin seperti ini di Indonesia, dijamin kalian makmur semua," tegasnya yang disambut tawa jamaah.

 

Dirinya mengajak kepada kedua ccalon bupati dan calon wakil bupati Sumenep yang hadir di acara tersebut untuk meneladani Ali bin Abi Thalib RA

 

"Paling ideal dijadikan contoh adalah Ali. Jika di antara kontestan Pilkada ada yang kalah, maka tirulah Ali," pintanya.

 

Ibnu Abbas dan Abu Sufyan pernah berkata bahwa Ali lah yang lebih pantas menjadi khalifah setelah Rasulullah wafat. Namun Ali menjawab bahwa ia lebih pantas menjadi pembantu daripada menjadi khalifah dan siap dijadikan pembantu terbaik.

 

"Ali sudah tiga kali kalah dalam kontestasi, baik ketika masa Abu Bakar, Umar, dan Utsman," ujarnya.

 

Dirinya menyitir pendapat Umar RA bahwa kalau tidak punya pembantu sebaik Ali, maka dirinya akan rusak.

"Jadi seorang pemimpin tak harus seorang kiai. Mari kita renungkan, Abu Bakar adalah syuriyah, Umar militer; Utsman pedagang; dan Ali seorang ilmuwan atau intelektual," terangnya.

 

Dengan demikian orang hebat bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena murid-muridnya yang hebat. Inilah ciri besar seseorang dikatakan orang hebat.

 

"Mengapa Mbah Maimoen dikatakan orang hebat? Karena beliau memiliki murid yang hebat-hebat dari ujung barat ke timur. Oleh karenanya jangan sampai menyia-nyiakan guru," pungkasnya.

F1 Promosi Iklan