Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Diskusi Falakiyah: Penghitungan Akurasi Gerhana Perlu Kajian Ulang

Diskusi Falakiyah: Penghitungan Akurasi Gerhana Perlu Kajian Ulang
Penghitungan gerhana perlu dilakukan kajian yang lebih akurat. (Foto: NOJ/ISt)
Penghitungan gerhana perlu dilakukan kajian yang lebih akurat. (Foto: NOJ/ISt)

Sumenep, NU Online Jatim
Banyak hal yang harus diketahui terkait ilmu astronomi. Karenanya, Lajnah Falakiyah Annuqayah (LFA) Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep menggelar webinar falak nasional.

 

Tajuk kali ini 'Reformulasi Perhitungan Gerhana Matahari Ephemeris Hisab Rukyat' yang dilakukan secara online, Ahad (02/05/2021). Kegiatan diikuti ratusan peserta.
 

Panitia mendatangkan Fathurrozi, Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur, dan Alfan Maghfuri selaku Sekretaris LFNU PCNU Bojonegoro. Sedangkan acara dipandu Lukmanul Hakim.

Menurut Fathurrozi, dalam konteks Nusantara, perhitungan ilmu astronomi memiliki sejarah cukup kelam. Di mana dalam proses perhitungan gerhana pada matahari sebagai salah satu fenomena langka.

"Kami mengalami ketidakakurasian dengan peristiwa yang terjadi tersebut hingga saat ini," tutur pria asal Talango itu.

Alfan Maghfuri membahas awal mula adanya ephemeris hisab rukyat ketika terjadinya pertemuan antara para menteri agama dari tiga negara yaitu Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia pada 7 Agustus 1989. Kegiatan dipusatkan di kota Bandar Seri Begawan, Negara Brunei Darussalam.

 

“Dari hal itu pada tahun 1991 dibentuklah badan yang bernama Jawatankuasa Penyelarasan Rukyat dan Taqwim Islam Indonesia," jelasnya.

Salah satu program Jawatankuasa adalah menyusun taqwim hijriyah. Program ini disusun dalam 5 tahapan kegiatan. Baru lah pada tahun 1993, data ephemeris hisab rukyat pertama yang berhasil dicetak, dibukukan dan digunakan dasar penyusunan taqwim hijriyah.

Alumni Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini juga menyelipkan pembahasan tentang posisi ephemiris hisab rukyat.

"Posisinya dalam kajian ilmu falak di Indonesia yaitu data astronomi yang dikeluarkan Kementerian Agama (Kemenag) RI, tergolong hisab kontemporer yang akurasinya diakui, acuan dalam perhitungan posisi matahari dan bulan, serta acuan dalam penelitian akademik," urai dia.

Pria asal Bojonegoro ini juga mengulas cara menghitung gerhana matahari menggunakan data ephemeris hisab rukyat. 

 

"Cara menghitung gerhana matahari menggunakan data ephemeris hisab rukyat yaitu menghitung kemungkinan terjadinya gerhana, menyiapkan data perhitungan yakni menghitung tengah gerhana, awal dan akhir gerhana, juga awal dan akhir fase total," ungkapnya.

Sedangkan Lukmanul Hakim yang juga Sekretaris LFA Guluk-guluk mengatakan fenomena dua gerhana (matahari dan bulan) dalam perhitungan ilmu astronomi umumnya dapat diprediksi secara akurat dan tepat. Yakni dengan penggunaan sistem rumus tertentu yang telah diformulasi.

"Sayangnya, prediksi pada fenomena gerhana matahari sangat tidak akurat. Karena itu, perhitungan gerhana matahari perlu direformulasi," tegas mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-guluk itu.

 

Editor: Syaifullah​

F1 Promosi Iklan