Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Diskusi PMII Guluk-guluk: Santri Hendaknya Terapkan Ilmu di Tengah Isu Global

Diskusi PMII Guluk-guluk: Santri Hendaknya Terapkan Ilmu di Tengah Isu Global
Diskusi PK PMII Guluk-guluk secara virtual. (Foto: NOJ/Firdausi)
Diskusi PK PMII Guluk-guluk secara virtual. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
Pesantren menjadi pusat menimba ilmu bagi santri. Tinggal bagaimana seorang santri mengokohkan niat, memantapkan langkah, dan bersemangat menjalani kehidupan yang beragam. Tradisi yang berkembang di pesantren akan menentukan seorang santri berprestasi, memiliki kecerdasan intelektual atau kedalaman spiritual. 

 

Pengajian kitab, tirakat biasa dilakukan santri, lebih-lebih makan bersama dalam satu nampan merupakan kebiasaan. Inilah bagian dari kekayaan pesantren yang akan dijadikan bekal untuk masa depan santri dan sudah dipersiapkan dalam sektor ekonomi. 

 

Sejumlah hal ini dibahas Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kecamatan Guluk-guluk dengan menggelar bincang santri secara online bertemakan tema ‘Santri Pergerakan; Tradisi, Ekonomi, dan Pandemi’. 

 

Panitia menghadirkan tiga narasumber yakni Ustadz Ainur Rifqi, Ustadz Junaidi, dan Ustadz Moh Ainur Ridha. Bertindak sebagai keynote speaker Moh Faiq dan dipandu moderator Ahmad Sanusi, Senin (8/6).

 

"PMII Guluk-guluk lahir dari rahim Pesantren Annuqayah yang mana memberikan wadah bagi para kader dalam melakukan transformasi keilmuan, menciptakan kader yang mampu menebar manfaat kepada orang lain dan membantu cita-cita pesantren dalam membentuk santri luhur dan berbudi pekerti,” kata Moh Faiq. Walaupun terkesan kecil, inilah yang dapat dilakukan PMII demi meneruskan perjuangan para muassis ma'had, lanjut dia. 

 

Ustadz Ainur Rifqi selaku Ketua Pengurus Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Selatan menjelaskan bahwa di pesantren ada proses yang berbeda dan dikenal dengan sebutan prinsip kebersamaan. Hal tersebut nantinya akan mempengaruhi teman sejawat.

 

Menurutnya, ada 5 proses yang akan mempengaruhi santri lainnya. Pertama, kehidupan sendiri sulit untuk berproses. Kedua, santri diajak menahan nafsu, contohnya larangan mengoperasikan alat elektronik seperti HP, karena pengaruhnya sangat mengganggu anak untuk belajar. 

 

“Ketiga, santri bisa dikomando oleh kiai sebagai pengganti orang tuanya. Keempat, pekarangan pesantren memiliki energi khusus, dimana sebelum didirikan sebuah pesantren masih menempuh jalan spiritual,” urainya. Dan kelima, santri selalu mendapat doa dari kiai yang berpengaruh pada proses belajar, lanjutnya. 

 

Di sisi lain, dirinya menegaskan bahwa bukan hanya santri yang bisa hidup sederhana. Tanpa mondok pun mereka bisa seperti santri.

"Mereka bisa seperti santri karena ada beberapa sebab, antara lain: faktor dorongan eksternal yang muncul dari luar atau lingkungan sekitar yang mendorong mereka mampu memilih teman dan guru,” kata Ustadz Junaidi. Kedua, niat internalisasi diri untuk memposisikan dirinya sebagai santri walaupun tidak mondok, lanjutnya.

 

Gus Moh Ainur Ridha juga memberikan pernyataan bahwa santri tidak bisa dilepaskan dari karakteristik dan tipologinya yakni mereka pernah mengenyam pendidikan di pesantren. 

 

"Hal ini senada dengan pernyataannya Kiai Ainul Yaqin Basyir bahwa santri adalah jati diri, bukan sekadar identitas belaka,” kata Ketua Pengurus Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee tersebut. 

 

Dalam artian, santri tidak terkesan pada programnya tetapi substansinya adalah santri mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. 

 

Selain itu, dirinya juga berimajinasi bahwa jika uang jajan santri di tabung untuk keperluan umat, maka bisa membantu warga terdampak Covid-19. 

 

Ustadz Junaidi menjelaskan bahwa hakikatnya santri untuk hidup sederhana dan belajar mandiri, serta merasakan pahitnya dunia seperti dirasakan kedua orang tua yang setiap hari mencari nafkah. 

 

Di akhir diskusi virtual, Ahmad Sanusi selaku Ketua Rayon Khalid Mawardi menarik kesimpulan bahwa dampak Covid-19 terasa nyata pada tahun 2020. Karena aturan yang keluarkan pemerintah mampu menyebabkan penurunan sisi penawaran dan permintaan barang serta jasa.

 

"Jika menggunakan konsep kesederhanaan, maka kita tidak akan menjadi warga yang terdampak Covid-19. Mari sikapi dengan bijak protokol kesehatan dan patuhi aturan yang baru dikeluarkan oleh para masyaikh," pungkas moderator.
 

Kontributor: Firdausi

Editor: Syaifullah

PWNU Jatim Harlah