Doa Ibu dan Cerita Imam Besar Masjidil Haram

Doa Ibu dan Cerita Imam Besar Masjidil Haram
Suasana di Masjidil Haram saat normal. (Foto: NOJ/HI)
Suasana di Masjidil Haram saat normal. (Foto: NOJ/HI)

Setiap orang tua hendaknya lebih waspada dengan yang disampaikan. Karena pada hakikatnya, kalimat yang terucap orang tua, khususnya ibu adalah sebagai doa.

 

Seorang bocah mungil sedang asyik bermain tanah. Sementara sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan yang diadakan sang ayah. Saat itu, makanan telah siap tersaji di ruang tamu. Sang tamu bersama tuan rumah juga telah menghadap hidangan yang demikian menggoda. Namun saat acara makan bersama hendak dimulai, tiba-tiba kedua tangan bocah yang mungil itu menggenggam debu. Ia masuk ke dalam rumah dan menaburkan debu itu di atas makanan yang tersaji.

Tatkala sang ibu masuk dan melihatnya, sontak marah namun dengan kalimat terukur berkata: Idzhab. Ja’alaka imaaman lilharamain. Pergi kamu. Biar kamu jadi imam di haramain.

 

Dan subhanallah, kini anak itu telah dewasa dan telah menjadi imam di Masjidil Haram. Tahukah kalian, siapa anak kecil yang didoakan ibunya saat marah itu? Dia adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang nada tartilnya menjadi favorit kebanyakan kaum Muslimin di seluruh dunia.

 

Sudais berasal dari Bani Anza. Ia telah hafal al-Qur’an pada umur 12 tahun. Tumbuh di Riyadh, Sudais belajar di SD Al-Muthana bin Harits, dan setelah itu kuliah di Riyadh Scientific Institution dan lulus tahun 1979 (umur 17–18 tahun) dengan nilai baik. Ia memperoleh ijazah Syariah dari Universitas Riyadh pada tahun 1983 (umur 21–22 tahun), dan menjadi anggota PPI (Pengetahuan Pokok Islam) sebagai pemberi ceramah atau dosen.

 

Dirinya mempelajari Islam dari gurunya di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud pada tahun 1987 (umur 25–26 tahun) dan menerima gelar Ph.D, serta aktif di Universitas Syariah Islam Ummul Qura pada tahun 1995 (umur 33–34 tahun) sebagai asisten profesor setelah aktif di Universitas Riyadh.

 

Doa Ibunda

Ini adalah teladan bagi para ibu, calon ibu, ataupun orang tua, hendaklah selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya. Bahkan meskipun dalam kondisi yang marah. Karena salah satu doa yang tidak terhalang adalah doa orang tua untuk anak-anaknya. Sekaligus menjadi peringatan agar menjaga lisan dan tidak mendoakan keburukan bagi anak-anaknya. Meski dalam kondisi marah sekalipun.

“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu. Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat di mana Allah mengabulkan doa kalian.” (R Abu Dawud)

Mungkin ibunda dari Abdur Rahman Al-Sudais (Syekh Sudais), salah satu imam besar Masjidil Haram yang termasyhur, tidak mengenal konsep law of attraction. Bahwa alam akan merespons energi yang dikeluarkan, yang dipikirkan, dan yang diyakini.

 

Tapi, satu hal yang pasti, ibunda dari Syekh Sudais amat mengerti dan meyakini jika ucapan adalah doa. Oleh sebab itu, selalu berkata yang baik agar selalu datang kebaikan.

 

Ini adalah teladan bagi para ibu, calon ibu, ataupun orangtua. Hendaklah selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya. Bahkan meskipun dalam kondisi marah. Karena salah satu doa yang tak terhalang adalah doa orang tua untuk anak-anaknya. Sekaligus menjadi peringatan agar menjaga lisan dan tidak mudah berkata yang tidak patut kepada anak.

 

Banyak orang sukses di dunia ini lantaran memiliki hubungan baik dan juga memuliakan kedua orang tuanya terlebih ibunya. Hal ini dikarenakan ridha Allah SWT ialah rida orang tua. Dan doa ibu itu sungguh tanpa batas di hadapan Allah SWT. Mudah menembus langit. Sehingga doa seorang ibu yang didipanjatkan untuk anaknya boleh jadi sangat mudah untuk Allah SWT kabulkan.

 

Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa sejumlah kesuksesan yang diraih selama ini adalah buah dari doa ibu kepada Allah SWT tanpa diketahui. Karena ibu tanpa disuruh pasti selalu mendoakan anaknya di tiap napasnya kala bermunajat. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya. 

Iklan Medsos