Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Dosen Unisma Menguak Misteri Hama Kutu Sisik Tanaman Apel

Dosen Unisma Menguak Misteri Hama Kutu Sisik Tanaman Apel
Hama Kutu Sisik pada Tanaman Apel. (Foto: NOJ/TI)
Hama Kutu Sisik pada Tanaman Apel. (Foto: NOJ/TI)

Malang, NU Online Jatim

Dahulu, hampir sebagian besar lahan pertanian di Malang Raya ditanami buah apel. Namun kini, berganti tanaman lain seperti jeruk pontianak, tebu, pohon sengon, aneka bunga potong dan sayuran. Lahan tanaman apel di Kabupaten Malang pun menyusut yang semula seluas 1.016 hektar kini tersisa hanya 370 hektar. Peralihan dari buah apel ke tanaman lain terjadi sejak tahun 2011. Adanya hama seperti kutu sisik menjadi masalah besar yang sampai saat ini dirasa belum ada solusinya. 

 

Total sebanyak 420 hektar kebun apel di Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang terserang hama kutu sisik. Sekitar 90 persen area kebun teridentifikasi terserang hama ini. Sedangkan 10 persen sisanya hanya apel muda yang belum siap panen.

 

Kasus lain terjadi di Tulungrejo Kota Batu, hasil panen petani apel turun hingga 60 persen. Yang semula 1 hektar dapat menghasilkan 30 ton apel tapi sekarang hanya 10 ton apel. Serangan hama kutu sisik biasa disebut warga sekitar sebagai penyakit mata ayam. Apel yang terinfeksi akan berwarna merah dengan dengan bintik-bintik pada kulit apel dan lama kelamaan buahnya akan membusuk. 

 

Pada tahun 2020 ini, para petani apel secara umum menyatakan serangan hama kutu sisik yang terparah. Menurut para petani, serangan hama kutu sisik selalu menyerang buah apel petani ketika memasuki musim penghujan tiba.

 

Berdasarkan keprihatinan tersebut, Sama’ Iradat Tito, dosen biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (Unisma) ini mengkaji, mendalami dan mengembangkan dari hasil disertasinya yang telah dilakukan di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

 

“Hama kutu sisik di Batu telah berevolusi dimana hama ini sebenarnya adalah hama apel pada kawasan subtropis namun dapat bertahan di lokasi Batu yang beriklim tropis, yang bukan merupakan habitat aslinya,” ujar putra dari Prof Dr Agus Suryono, dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) Malang ini.      

 

Lebih lanjut, pria berkacamata yang menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Kelestarian dan Keseimbangan Lingkungan (Pusdi K2L) FMIPA Unisma Malang  tersebut menjelaskan.

 

“Evolusi yang dilakukan oleh hama kutu sisik di Batu, salah satunya adalah pembuatan perisai kutu sisik yang dapat berlangsung paling cepat dalam waktu satu hari dan paling lama dalam waktu tiga hari. Hal inilah yang mengakibatkan kurang efektifnya penyemprotan yang dilakukan petani. Dan untuk boomingnya pada tahun 2020 ini adalah akibat adanya akumulasi pada tahun-tahun sebelumnya mengingat kutu sisik berumur 7,20 bulan dan fasenya yang tumpang tindih antara satu sama lain di lapangan,” terangnya.

 

Disampaikannya bahwa dari penelitian yang dilakukan, kematian kutu sisik dalam jumlah sedikit pada umur muda dan jumlahnya tinggi pada umur tua. Tipe seperti ini jarang ditemukan pada serangga sehingga memang berpotensi over populasi.

 

Saran yang diberikan oleh pria yang dulu bekerja menjadi staf riset kelapa sawit Sinar Mas dan Musim Mas tersebut adalah perlu adanya pemangkasan (pruning) ranting yang terkena serangan kutu sisik dan pembuatan kanopi yang baik.

 

"Juga penggunanan perangkap lekat dan warna untuk monitoring dan pengendalian,” jelas suami Fitrah Kosasih dan ayah dari Clemira Anum Assyifa yang pernah mendapat piagam penghargaan karya tulis dari rektor UB dan juara 1 festival paduan suara semasa kuliah tersebut. .

 

Dr. Tito melanjutkan, dibutuhkan ruang pemaksimalan potensi serangan musuh alami terhadap kutu sisik pada bulan April-Mei dengan tidak mengadakan penyemprotan pada bulan tersebut serta menambahkan vegetasi sekitar kebun untuk kehidupan musuh alami. Sementara penyemprotan intensif dilakukan pada awal Maret sampai akhir bulan April dan pertengaha Juni sampai awal Oktober. menurutnya hal ini berdasarkan hasil tabulasi dalam sejarah hidup kutu sisik di Batu.

 

"Harapannya, semoga hasil riset ini dapat membantu mengatasi hama kutu sisik pada tanaman apel. Dan produksi apel kembali melimpah sehingga dapat menikmati apel yang ditanam di bangsa sendiri," pungkasnya.

 

Editor: Savhira

Bank Jatim (31/7)