Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Duka NU Jatim atas Meninggalnya Wimar Witoelar eks Jubir Gus Dur

Duka NU Jatim atas Meninggalnya Wimar Witoelar eks Jubir Gus Dur
Foto almarhum Gus Dur dan Wimar Witoelar semasa hidup. (Foto: Instagram)
Foto almarhum Gus Dur dan Wimar Witoelar semasa hidup. (Foto: Instagram)

Surabaya, NU Online Jatim

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur turut berduka atas meninggalnya Wimar Witoelar, eks juru bicara Preside RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. WW, begitu sahabat-sahabat Wimar Witoelar memanggil, meninggal dalam usia 75 tahun karena penyakit sepsis.

 

“NU Jatim turut berbela sungkawa atas wafatnya Bp Wimar Witoelar, Juru Bicara Presiden ke-4 Gus Dur. Semoga beliau ditempatkan di sebaik-baiknya tempat kembali. Diberikan ketabahan dan kekuatan untuk keluarga yang ditinggalkan. Amin,” tulis PWNU Jatim dalam akun Instagram resminya, Rabu (19/05/2021).

 

Wimar Witoelar tak asing bagi aktivis NU. Sebab, selain sebagai jubir presiden, pria kelahiran Padalarang, Bandung, Jawa Barat, 14 Juli 1945, itu merupakan salah satu sahabat dekat Gus Dur. Wimar hampir selalu hadir di setiap kegiatan Gus Dur semasa hidup, baik kegiatan kepresidenan maupun NU.

 

Mengutip VIVA, Wimar merupakan anak dari lima bersaudara Raden Achmad Witoelar Kartaadipoetra dan Nyi Raden Toti Soetimah Tanoekoesoemah. Istri Wimar Witoelar adalah Suvatchhara Witoelar yang meninggal pada 7 April 2003. Wimar dikaruni dua anak yaitu Satya tulaka Witoelar dan Aree Widya Witoelar.

 

Semasa hidup, Wimar banyak bergelut sebagai jurnalis dan seorang kolumnis yang rajin menulis di surat kabar nasional maupun di surat kabar International. Artikelnya banyak ditemukan di Today, Business Week, News Week, Australian Financial Review. Dia juga kerap kali muncul di layar televisi bahkan ia kerap menjadi komentator di tv seperti ABC, CNBC dan CNN.

 

Wimar juga kerap dipercaya untuk menjadi pembicara di berbagai acara International dalam bidang ilmu politik dan ekonomi di luar negeri, seperti di Sydney, London, Washington, New York dan juga Singapura.

 

Wawasan dan kemampuannya berkomunikasi dengan baik, juga cenderung jenaka, membuat Gus Dur tertarik untuk menggaetnya sebagai juru bicara presiden. Saat itulah Istana Negara dan segala isu yang menyeliputinya acap diselingi joke-joke yang mampu mencairkan suasana panas perpolitikan Indonesia.

 

Editor: Nur Faishal


Editor:
F1 Bank Jatim