Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Dzikir setelah Shalat Maghrib dan Subuh

Dzikir setelah Shalat Maghrib dan Subuh
Berikut dzikir tambahan yang disarankan untuk dibaca setelah shalat magrib dan subuh. (Foto: NOJ/Muslim Obsession)
Berikut dzikir tambahan yang disarankan untuk dibaca setelah shalat magrib dan subuh. (Foto: NOJ/Muslim Obsession)

Di kalangan masyarakat Jawa dan Nusantara khususnya, ada tradisi yang tetap terjaga usai melaksanakan shalat rawatib. Tradisi tersebut adalah membaca dzikir berupa tasbih, tahmid dan takbir masih-masing sebanyak 33 kali. Dan di luar itu, ada juga beberapa dzikir yang bisa dibaca khususnya usai shalat magrib maupun subuh.

 

Sebagian kalangan mempersoalkan apakah tradisi dzikir seperti itu ada dalil dan bukti pembenarnya? Sekadar diketahui bahwa kebiasaan membaca dzikir tersebut telah dijelaskan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wassalam:


قال النبي صل الله عليه و سلم، من سبح الله في دبر صلاة ثلاثا و ثلاثين، و حمد الله ثلاثا و ثلاثين،  و كبر ثلاثا و ثلاثين،  و قال تمام المائة:  لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،  لَهُ المُلْكُ، وَ لَهُ الحَمْدُ وَ هُوَ عَلٰى كل شيء قدير، غفرت خطاياه ، و ان كانت مثل زبد البحر. 

 

Artinya: Nabi Sallahu Alaihi Wasallam bersabda: Barangsiapa yang mengucapkan tasbih kepada Allah setelah selesai shalat sebanyak 33 kali, membaca tahmid sebanyak 33 kali dan takbir sebanyak 33 kali dan untuk menyempurnakan mengucapkan laa ilaaha illallahu wahdahu law syariika lahu, lahul mulku, wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadiir, maka dosanya diampuni, walaupun sebanyak buih di lautan.

 

Sebagai tambahan, terdapat dzikir yang dapat dilakukan khusus setelah shalat maghrib dan subuh. Dzikir ini sudah diamalkan oleh sebagian warga Nahdlatul Ulama atau Nahdliyin. Hal ini sebagaimana telah disusun Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliky dalam kitab Syawariq al-Anwar. Bahwa ada tiga wirid yang ditambahkan ketika selesai melaksanakan shalat maghrib dan subuh.


1. Membaca kalimat ini sebanyak 10 kali


 لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،  لَهُ المُلْكُ، وَ لَهُ الحَمْدُ وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيءٕ قَدِيْرٌ

 

Artinya: Tiada tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia-lah Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

2. Membaca kalimat berikut sebanyak 7 kali 


اللّٰهُمَّ اَجِرْنِي مِنَ النَّارِ

 

Artinya: Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka.

 

3. Membaca dzikir ini sebanyak 3 kali


سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ العَظِيْمِ وَ بِحَمْدِهِ، وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْم.ِ

 

Artinya: Maha suci Allah, dan aku memuji-Nya maha suci Allah yang agung, dan aku memuji-Nya. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur dan Agung. (Lihat Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Syawariq al-Anwar. t.t. t.p. t.th. halaman: 8-11).

 

Setiap muslim tentunya tidak harus mengikuti dzikir ini, karena ada beberapa dzikr lain yang juga mempunyai keutamaan dan diajarkan Rasulullah. Yang terpenting, seseorang hendaknya mengikuti amalan dan dzikir yang direkomendasikan para ulama sebagai pewaris Nabi.

 

Selain bacaan di atas, terdapat dzikir yang dibaca secara umum setelah shalat maktubah, misalnya:


1.    Membaca kalimat thayyibah berikut:


لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،  لَهُ المُلْكُ، وَ لَهُ الحَمْدُ وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اللّٰهُمَّ لَا مَنِعَ لِمَا اَعْطَيْتَ، وَ لَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَ لَا يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ

 

Artinya: Tiada tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi sesuatu yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberi sesuatu yang Engkau halangi. Dan tidaklah berguna orang yang bersungguh-sungguh, daripada-Mu lah kesungguhan.


2. Membaca ayat kursi


ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ. لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ. لَّهُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ. مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ. يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَآءَ. وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَلَا يَـُٔودُهُ حِفْظُهُمَا. وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

 

Artinya: Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhluknya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa seizin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun tentang ilmu-Nya, melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.


3. Membaca surat at-Taubah ayat 128-129 sebagai berikut:


لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِمَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالمُؤْمِنِيْنَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. فَإِنْ تَوَلَوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَا اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَ هُوَ رَبُّ العَرْشِ العَظِيْمِ

 

Artinya: Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.


4.  Membaca ini sebanyak 20 sampai 100 kali


حَسْبُنَا اللّٰهُ وَ نِعْمَ الوَكِيْلُ

 

Artinya: Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami, dan Dia-lah sebaik-baik pelindung.

 

5.  Membaca istighfar sebanyak 20 sampai 100 kali


اَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيْمَ 

 

Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung.

 

6. Membaca kalimat berikut sebanyak 10 sampai 100 kali


.   لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ المَلِكُ الحَقُّ المُبِيْنُ 

 

Artinya: Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Benar dan Yang Maha Nyata.

 

7. Membaca kalimah thayyibah ini sebanyak 10 sampai 100 kali


 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلِّمْ

 

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabat semuanya.

 

8. Membaca istighfar sebanyak 3 kali


 اَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيمَ الَّذِي لَا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَ اَتُوْبُ اِلَيْهِ

 

Artinya: Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Yang Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya. (Lihat Syawariq al-Anwar, halaman: 3-7)

 

Tentu saja sejumlah bacaan, dzikir, kalimah thayyibah dan amaliyah lain hendaknya tidak sampai meninggalkan kewajiban. Baik itu yang menyangkut tugas diri, masyarakat, apalagi sebagai pejabat publik. Seluruh dzikir disarankan sebagai tambahan ketika suasana longgar dan sekali lagi jangan sampai melalaikan kewajiban.

  

Wallahuu a'lam

 

Ahmad Fatoni adalah Alumnus Pesantren Sarang, Rembang, Kini Tinggal di Sumenep. 


Editor:
F1 PWNU Jatim