Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Elman Duro, Aktivis Ansor Pamekasan yang Dulu Ngamen Kini Jadi Pengusaha

Elman Duro, Aktivis Ansor Pamekasan yang Dulu Ngamen Kini Jadi Pengusaha
Elman Duro, Wakil Bendahara PC GP Ansor Pamekasan. (Foto: NOJ/ Syarofi).
Elman Duro, Wakil Bendahara PC GP Ansor Pamekasan. (Foto: NOJ/ Syarofi).

Pamekasan, NU Online Jatim

Di kalangan masyarakat Kabupaten Pamekasan, Nama Elman Duro lebih familiar dari pada nama yang tertera di Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya, Mohammad Elman. Pasalnya, pria yang kini aktif sebagai Wakil Bendahara Pimpinan Cabang (PC) Ansor Pamekasan ini memiliki cerita tersendiri dalam membina pemuda di lingkungan sekitarnya dari bahaya narkoba.

 

Pria kelahiran 05 Juni 1986 itu berhasil memperdayakan beberapa pemuda yang menganggur di sekitar daerahnya untuk menjalankan bisnis usahanya yaitu pemasangan gypsum dan plafon.

 

Elman mengatakan, usaha interior rumah ini sudah ia bangun mulai sejak tahun 2015 hingga sekarang. "Sekarang menjual plafon dengan segala jenis, rangkap atap baja ringan, kanopi, tiang dan juga lisplan. Tujuannya tiada lain agar pemuda yang ada di kampung saya tidak terseret ke hal-hal negatif utamanya narkoba," ucap Elman.

 

"Untuk hasilnya, alhamdulillah sangat bagus. Karena pekerjanya bujang dan kinerja mereka maksimal, sementara bahan yang kita pakai yang super," imbuhnya.

 

Dengan menjalankan usaha interior rumah ini, Elman merasa senang dan bahagia karena bisa membantu orang yang ada di sekitarnya melalui jalan wirausaha hingga akhirnya usaha ini di beri nama "Potre Anom Plafon".

 

Selain menjadi pengusaha plafon, mantan Ketua  PAC Ansor Proppo itu juga tercatat sebagai tenaga edukatif di IAIN Madura. Bahkan kini, ia dipercaya sebagai Ketua IKA Pasca Sarjana IAIN Madura.

 

Kepada NU Online Jatim, Elman bercerita bahwa kesuksesan yang ia raih saat ini tidak lepas dari perjuangannya yang cukup pahit di masa lalu.

 

Ia bercerita, sejak usia 8 bulan Elman sudah ditinggal ayahnya lantaran sang ayah diterpa penyakit yang membawanya meninggal dunia. Sementara kakaknya meninggal saat usai 4 tahun,  sehingga sejak itulah Elman harus hidup berdua dengan sang ibu.

 

"Ibu tidak menikah lagi sampai sekarang, ibu menjadi petani dan buruh tani. Disaat bercocok tanam sering dibisiki sama ibu, nak tiap satu batang padi dan pohon singkong niatkan ibadah, dan jika ada sisanya buat makan," ucap Elman.

 

"Saat lulus SDN 2 Mapper Proppo, saya berharap menjadi petani karena akan membantu ibu yang sebatang kara, tapi sama ibu disuruh mondok ke Mambaul Ulum Bata-bata karena di lingkungan saya rata-rata mondoknya ke Bata-bata sampai lulus Madrasah Aliyah (MA) tahun 2005," tegas Elman.

 

Setelah lulus MA, Elman merasa bingung karena rata-rata pemuda di lingkungan rumahnya menjadi perantau semua.  "Saya bingung antara bekerja menjadi anak rantau dan menjadi petani. Selang 3 tahun melanglang antar kabupaten, saya sempat menjadi loper koran, menjadi pengamen, menjadi tukang mebel, dan juga belajar membuat sandal dan mengantarkan hasilnya di sidoarjo," paparnya.

 

Saat itu Elman dalam ambang kebingungan, ia merantau ke Malang. Saat berada di Malang kurang lebih 2 bulan, ia mencari orang dermawan yang siap membiayai sekolahnya. Tapi belum saja tak kunjung bertemu.

 

Setelah itu, ia pindah ke Jember. Disana ia sambil kerja, dan sambil mencari lagi orang dermawan yang sanggup membiayai sekolahnya.

 

"Alhamdulillah di Jember itu ketemu dengan salah satu Habib di jalan mastrib, Namanya Habib Novel Al-Idrus, tepatnya sebelah kampus kedokteran. Tugas saya hanya menjadi imam sholat 5 waktu, sangat enteng rasanya karena sdah biasa," ungkapnya.

 

Nasib berubah, saat mau daftar di Fakultas Hukum Universitas Negeri Jember (UNEJ). Ada kendala yang mengharuskan Elman pulang ke Madura dan kuliah di STAIN Pamekasan (sekarang menjadi IAIN Madura). 

 

Berada dalam keterbatasan ekonomi, maka dengan terpaksa Elman harus menanam tembakau untuk biaya kuliah. Kurang lebih temkabau yang ditanam 1.500 pohon.  Pada saat itu laku Rp 1.400, sedangkan biaya kuliah pada tahun 2008 di kampus STAIN Pamekasan Rp 1.100.000.

 

"Alhamdulillah, saya lulus dan masih ada sisa uang pendaftaran Rp 300.000. Sisa uang itu saya buat beli sepeda motor bodong GL100, belum sempat dipakai  ke kampus sudah bosan karena sering macet. Akhirmya ibu saja menjual kayu jati laku Rp 2.300.000 buat beli sepeda motor. Alhamdulillah dapat Fiz R. Itu saya pakai untuk kuliah pulang pergi,” ulas Elman.

 

Saat menjadi mahasiswa, Elman aktif di organisasi pesantren bernama Ikatan Mahasiswa Mambaul Ulum Bata-Bata (Imaba) dan aktif diorganisasi kemahasiswaan ektra kampus. Yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

 

Sementara di intra kampus aktif di teater dan Kopma (Koperasi Mahasiswa) dan mengantarkan dirinya sebagai Ketua BEM pada tahun 2011-2012, Pengurus Komiasariat PMII STAIN Pamekasan, Ketua II PC PMII Pamekasan, dan Pengurus Kordinator Cabang PMII Jawa Timur.

 

 

Boyong dari kampus, ia dipercaya oleh PC GP Ansor Pamekasan menjadi Ketua PAC GP Ansor Proppo, Bendahara BAANAR PC GP Ansor pamekasan dan sekarang menjadi Wakil Bendahara PC GP Ansor Pamekasan.

 

Sekarang Elman menjadi tenaga edukatif di IAIN Madura. Selain itu, ia juga dipercaya menjadi Ketua Umum Unit Pengumpul Zakat (UPZ) IAIN Madura.

 

Editor: Romza

PWNU Jatim