Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Fauzan Fuadi, Anak Tukang Ojek yang Kini Jadi Wakil Rakyat

Fauzan Fuadi, Anak Tukang Ojek yang Kini Jadi Wakil Rakyat
Fauzan Fuadi, Anggota DPRD Jatim. (Foto: NOJ/istimewa)
Fauzan Fuadi, Anggota DPRD Jatim. (Foto: NOJ/istimewa)

Surabaya, NU Online Jatim
Dewasa ini tak sedikit kaum muda yang menggeluti bidang politik. Kehadirannya seakan memberikan warna khas bagi dinamika politik di Indonesia. Bergabungnya para pemuda di kursi politik diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran yang segar bagi kemajuan bangsa.

 

Selaras dengan itu, Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) DPRD Jawa Timur, Fauzan Fuadi turut mengawali karirnya di dunia politik dalam usia yang relatif muda. Tidak hanya itu, kini dirinya diamanahi sebagai Bendahara Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB Jawa Timur.

 

“Rasanya tidak terbayang, dulu itu ketika masih jadi mahasiswa takut sekali kalau mau masuk ke kantor PKB Jawa Timur, karena tidak ada yang kenal. Menoleh kanan dan kiri tidak tahu apa-apa. Tapi sekarang malah jadi Bendahara DPW PKB Jawa Timur,” katanya, Sabtu (16/01/2021).

 

Sederet jabatan yang ia emban saat ini tidak luput dari catatan sejarah perjuangan kerasnya di masa lampau. Pria kelahiran 13 Maret 1981 ini tercatat sebagai alumni Pondok Pesantren Qomaruddin Bungah, Gresik dan sempat mengenyam pendidikan di Universiras Muhammadiyah Malang (UMM) pada tahun 2000. Namun, proses kuliahnya harus terhenti pada tahun 2005 karena kendala biaya. Kendati demikian, pria yang akrab disapa Fuad ini memiliki keingingan kuat untuk kembali duduk di pendidikan tinggi, dan berhasil dilanjutkan pada tahun 2012.

 

Tidak Makan Dua Hari
Dirinya juga merasakan terjalnya bertahan hidup di kota besar seperti Malang. Tantangan tersebut ia lewati dengan menggantungkan hidup dari menjual tulisan. Setiap malam Fuad menuangkan pemikirannya dalam secarik kertas. Lantas pagi hari bergegas mengirimkan tulisan tersebut ke berbagai media.

 

“Dulu dapat honor Rp50 ribu dari hasil mengirim tulisan sudah senang sekali. Bisa untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari situ saya menyambung hidup dan melanjutkan kuliah,” ujarnya.

 

Fuad sempat terpuruk ketika tak ada satu pun media yang memuat opininya. Kehidupan di perantauan membuatnya harus bisa bertahan hidup. “Pernah dua hari tidak makan, dan tidak tidur berhari-hari untuk terus menulis opini,” jelasnya.

 

Sejak kecil, Fuad terbiasa menjalani kehidupan yang keras dan mandiri. Kedua orang tuanya harus menghidupi tujuh orang dengan pengasilan sebagai tukang ojek. Sedang ibunya membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kopi. Di kondisi seperti itu ia terdidik matang. Memahami kebutuhan utama masyarakat di semua sisi kehidupan. 

 

Perkenalannya dengan politik dimulai saat dirinya diserahi amanah sebagai Ketua Pimpinan Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Malang. Dinamika pergerakan membentuknya menjadi anak muda yang berpikir lebih kritis dan berani.

 

Memberikan Warna
Kini, sebagai milenial yang masuk di ruang-ruang politik, Fuad ingin memberikan warna yang berbeda. Pemahamannya di bidang teknologi, menginsipirasi Fuad terkait pentingnya transparansi anggaran pemerintahan daerah berbasis informasi teknologi. Sehingga wakil rakyat maupun partai bisa mendengar dan memperjuangkan aspirasi konstituen dengan cepat, tepat dan berkelanjutan.

 

“Teknologi akan menjadi pembeda, di Indonesia pun sudah merintis dan siap masuk era Society 5.0. Era ini mengedepankan percepatan dan teknologi yang dikendalikan oleh manusia untuk menunjang semua aktivitas,” terangnya.

 

Kini, dirinya ikut merumuskan regulasi daerah yang pro santri dan bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat. Percepatan kebangkitan ekonomi harus terus digencarkan di tengah pandemi Covid-19. Era kebiasaan baru dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat harus bisa diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang seimbang.

 

Dirinya yakin, hadirnya milenial di segmen politik serta peranan mereka sebagai wakil rakyat bisa menjadi langkah yang strategis untuk membangun kesejahteraan masyarakat.

 

“Anak muda tetap tidak boleh minder menghadapi masa depannya. Proses panjang tidak akan berkhianat terhadap hasil yang akan dicapai,” pungkasnya.

 

 

Editor: Syaifullah

PWNU Jatim Harlah