Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

GP Ansor di Pasuruan Jaga Tradisi Kiai dengan Ngaji Kitab Kuning

GP Ansor di Pasuruan Jaga Tradisi Kiai dengan Ngaji Kitab Kuning
Ngaji Ramadlan PR GP Ansor Cangkringmalang. (Foto: NOJ/sh)
Ngaji Ramadlan PR GP Ansor Cangkringmalang. (Foto: NOJ/sh)

Pasuruan, NU Online Jatim

Bulan suci Ramadlan, semua berlomba-lomba melakukan kebaikan. Seperti yang dilakukan Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Cangkringmalang, Pasuruan dengan melakukan hal yang bermanfaat. PR GP Ansor Cangkringmalang menggerakkan pemuda disekitarnya untuk mengadakan ‘Ngaji Kitab Kuning’, (15/04/2021).

 

Kegiatan ini merupakan perdana dilakukan yang bertempat di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Dusun Selorawan, Desa Cangkringmalang, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan setiap malam setelah sholat tarawih. Kitab yang dipilih berjudul Risalah Ahlusunnah Wal Jama’ah karya Rais Akbar Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

 

“Kegiatan yang dilakukan PR GP Ansor Cangkringmalang ini memiliki tujuan agar kader Ansor dan Banser terus tetap mengikuti tradisi para kiai, yaitu ngaji kitab kuning”, jelas Sufyanus Tsauri.

 

Ngaji kitab ini diajarkan oleh Gus Hafid Al-Basthomi. Yang sasarannya adalah para pemuda Ansor dan Banser, serta tak menutup kesempatan juga untuk masyarakat umum di sekitarnya.

 

Nampak antusias pemuda Ansor Cangkringmalang untuk memanfaatkan malam Ramadlan setelah tarawih dengan Ngaji Kitab Kuning. Meskipun perdana dilakukan tetapi terlihat puluhan pemuda yang hadir dalam kegiatan ini. Mereka sangat memanfaatkan malam bulan Ramadlan dengan hal kebaikan.

 

“Harapan memilih kitab ini agar para kader Ansor dan Banser lebih memahami ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah sehingga bisa membedakan antara ibadah dan tradisi, sunnah dan bid’ah”, tuturnya.

 

Kritik yang ditujukan ke kaum tradisionalis merupakan kesalahpahaman terkait yang seharusnya dipahami sebagai tradisi keagamaan namun dianggap sebagai ibadah. Kitab ini menjelaskan keabsahan tradisi dan tidak ada dalil yang melarang, seperti tahlil, penggunaan tasbih, mendoakan mayit dan lain sebagainya.

 

Seperti halnya ngaji kitab kuning, cara ngajinya dengan cara memaknai dan juga ada yang hanya mendengarkan. Kegiatan ini diusahakan akan berjalan di tahun selanjutnya.

 

“Kegiatan ini akan saya amati hingga selesai, saya yakin kegiatan ini berdampak banyak positif. Namun tidak dipungkiri jika nanti ada kekurangan, kita akan mengevaluasi dan akan diperbaiki di tahun depan. Saya harap kegiatan ini berlanjut,” pungkas Ketua PR GP Ansor Cangkringmalang itu.

 

Penulis: Saniyatul Hikmah

Editor: Risma Savhira

F1 Promosi Iklan