Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Gus Awis Jelaskan Lima Prinsip Cinta Tanah Air Syaikhona Kholil

Gus Awis Jelaskan Lima Prinsip Cinta Tanah Air Syaikhona Kholil
Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Afifudin Dimyathi atau Gus Awis. (Foto: Istimewa).
Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Afifudin Dimyathi atau Gus Awis. (Foto: Istimewa).

Surabaya, NU Online Jatim

Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Afifudin Dimyathi menjelaskan lima prinsip cinta tanah air yang menjadi sikap Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Penjelasan ini disampaikan Gus Awis, sapaan KH Afifuddin Dimyathi saat menjadi narasumber seminar nasional bertajuk Sejarah Turots Syaikhona Kholil Bangkalan, Senin (07/06/2021).

 

Menurutnya, pertama, membela tanah air baik melalui ucapan ataupun perbuatan. Hal ini dibuktikan melalui tulisan Syaikhona Kholil Bangkalan dalam manuskrip Hubbul Wathon Minal Iman.

 

"Tulisan tersebut menandakan Syaikhona Kholil pernah menyampaikan kepada para muridnya dan menginginkan catatan tersebut dibaca oleh generasi milenial," kata Gus Awis dilansir NU Online.

 

Kedua, menghadapi atau melawan apapun yang menyebabkan disabilitas keamanan dan keselamatan negara. Gus Awis mengisahkan sikap yang ditunjukkan Syaikh Kholil ketika dimintai doa oleh pemimpin pemerintah Belanda.

 

Kala itu Syaikhona mendoakan agar pemimpin Belanda agar tidak diganti karena terkenal antipenjajahan dan menjadi keluasan bagi para ulama untuk berdakwah. Sehingga, lanjut Gus Awis, adab mengutamakan keselamatan negara adalah dengan cara melawan apapun yang membawa kemaslahatan.

 

Ketiga, mendidik santri dan anak-anak untuk menghargai nilai-nilai luhur tanah air. Menurut Pengasuh Asrama Hidayatul Qur’an itu tidak sulit mencari produk Syaikh Kholil sebab murid-muridnya merupakan cerminan perjuangan dirinya.  

 

Keempat, menjaga kerukunan para anggota atau penduduk dan menanamkan persaudaraan. Hal itu ditandai dengan terjalinnya hubungan antara Syaikh Hasyim Asy’ari dengan Syaikh Nawawi Bantani kemudian hubungan kiai As’ad dalam perintah memberikan tongkat kepada kiai Hasyim Asy’ari.

 

Dikatakan, dalam catatan buku Pesantren Darul Ulum Jombang diceritakan bahwa Kiai Romli diberi pesan oleh Syaikhona Kholil untuk menjadi santri dan mengabdi kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Artinya, ada perintah secara langsung untuk mendekatkan anak bangsa dan berjuang bersama-sama.

 

Kelima, mewujudkan dan memberikan kesadaran kepada anak didik tentang tanggung jawab untuk mengelola sumber daya.

 

 

Gus Awis menceritakan kisah ketika Syaikh Kholil diantar pulang oleh santrinya, Kiai Shaleh Banyuwangi yang akan menuntut ilmu di Makkah, namun diberhentikan dan berpesan agar segera pulang karena negara dalam keadaan rusak. Lalu Kiai Saleh meminta izin selama satu tahun di Makkah dan pulang ikut berjung dan menjadi salah satu pemimpin di Sarekat Islam.

 

"Ini menunjukkan perhatian dan memberi kesadaran kepada para santri, murid, dan koleganya bahwa perjuangan itu di tanah air serta tanggung jawab seorang penduduk adalah memperbaiki negaranya," papar Gus Awis.


Editor:
F1 Bank Jatim Syariah (6/12)