Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Gus Kautsar: Banting-Tulang demi Hidupi Keluarga Jihad Paling Istimewa

Gus Kautsar: Banting-Tulang demi Hidupi Keluarga Jihad Paling Istimewa
KH Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar. (Foto: NOJ/Istimewa)
KH Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar. (Foto: NOJ/Istimewa)

Surabaya, NU Online Jatim

Kiai muda dari Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri, KH Abdurrahman Al-Kautsar alias Gus Kautsar heran ketika kelompok tertentu hanya memaknai frasa ‘jihad’ dengan ‘perang’ semata. Padahal, kata dia, ‘jihad’ memiliki makna yang bermacam-macam. Seorang ayah yang siang-malam banting tulang untuk menghidupi anak dan keluarganya juga merupakan jihad.

 

Gus Kautsar lantas menukil pendapat sahabat Nabi yang ahli hadits dan fikih, Abdullah ibni Mubarok, tentang jihad istimewa yang disampaikan kepada sahabat-sahabatnya ketika dalam kondisi perang. “Sekelas Abdullah ibni Al-Mubarok, dia mengatakan ketika beliau berada dalam posisi perang dan beliau istrahat,” katanya membuka cerita, dikutip dari akun Instagram @teras.gubuk, Kamis (01/04/2021).

 

“Kamu tahu enggak ada amal yang jauh istimewa dari pada apa yang kita lakukan hari ini. Teman-temannya semua tidak tahu. Kemudian beliau mengatakan, yaitu apa yang dilakukan oleh seorang bapak yang siang-malam berusaha untuk menghidupi anak-anaknya, keluarganya, kemudian pada satu malam dia bangun, dia masuk ke dalam kamar anaknya, dan mereka semua pada tidur dan terbuka auratnya, langsung dia tutupi dan selimuti dengan bajunya,” ujar Gus Kautsar menirukan perkataan Abdullah ibni Mubarok.

 

Berdasarkan itu, Gus Kautsar mengatakan bahwa hanya dengan menyelimuti tubuh terbuka anak dan keluarga saja sebetulnya seseorang sudah dinilai melakukan jihad dan itu jauh lebih istimewa dari pada berperang secara langsung dengan menggunakan pedang dan senjata lainnya.

 

Contoh amal lain yang bernilai jihad ialah menuntut ilmu. “Makanya ngaji itu adalah segala-galanya. Penting. Sebagaimana disampaikan oleh Imam Qorofy: Sumber malapetaka, baik urusan duniawiyah maupun ukhrawiyah itu adalah karena kebodohan. Maka mari sebisa mungkin dari kita ini agar menghindari apa yang namanya kebodohan,” tandasnya.

 

Karena itu Gus Kautsar merasa heran apabila ada kelompok tertentu yang menyempitkan makna jihad hanya pada satu arti saja, yakni perang. Ia juga mengaku tidak tahu sejak kapan jihad yang dimaknai perang dipahami sebagai satu-satunya amalan yang akan diterima oleh Allah SWT. Padahal, lanjut dia, jihad itu memiliki makna banyak.

 

“Padahal praktik jihad banyak sekali. Apalagi kaya kita, harus berjihad tetapi praktiknya jihad yang bagaimana. Ya, kita jihadnya ngaji, lawong kita santri,” kata Gus Kautsar.

 

Editor: Nur Faishal


Editor:
F1 PWNU Jatim