Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Gus Nadir dan Karamah Tawassul Fatihah KH As’ad Syamsul Arifin

Gus Nadir dan Karamah Tawassul Fatihah KH As’ad Syamsul Arifin
Prof Nadisyah Hosen merasakan karamah dan berkah bacaan al-Fatihah kepada KH As'ad Syamsul Arifin. (Foto: NOJ/PI)
Prof Nadisyah Hosen merasakan karamah dan berkah bacaan al-Fatihah kepada KH As'ad Syamsul Arifin. (Foto: NOJ/PI)

Ini kejadian istimewa yang dialami Prof Dr H Nadirsyah Hosen. Kisahnya juga sudah lumayan lama yakni sewaktu menghadiri acara Muktamar Pemikiran Santri Nusantara yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama RI di Pesantren Asshidiqiyah Jakarta. Berikut peristiwa unik yang dialami Rais Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia dan Selandia Baru tersebut.

 

Saatnya itu jadwalnya demikian padat karena sebelumnya menghadiri acara di Jawa Timur. Dosen tetap fakultas hukum universitas di Australia tersebut baru bisa terbang pagi hari tanggal 29 September 2019 ke Jakarta. Akibatnya dirasa kurang tidur dan fisiknya sedikit drop.

 

Saat sedang istirahat di kediaman KH Nur Iskandar, panitia memintanya mengisi sesi pertama menggantikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj yang berhalangan hadir. Padahal seharusnya sesinya ada di bagian kedua. Walhasil, peraih dua gelar doktor dari Universitas Wollongong dan Ph.D. (Dr.) in Islamic Law dari National University of Singapore tersebut gagal istirahat dan terpaksa menuju ke panggung.

 

Saat melangkah menuju area utama, dirinya bertemu dengan Dr KH Abdul Jalal, Direktur Ma’had Aly Pesantren Situbondo (yang beberapa hari lalu wafat). Kiai Abdul Jalal lantas memintanya sehabis mengisi acara untuk lanjut bertemu dengan para direktur ma’had aly seluruh Indonesia yang juga hadir di lokasi. Saat itu Prof Nadir menyanggupi permintaan guru dan sahabatnya itu.

 

Pas di panggung resmi acara, Prof Nadir sempat membacakan isi tiga kitab, yaitu Tafsir ar-Razi, Al-Mughni li Ibn Qudamah dan Mausu’ah Fiqh Kuwait. Namun, posisi kipas angin pas di sebelahnya. Karena dirasa kurang bagus bagi kesehatan, dia mencoba menggeser kursi dan juga menggeser kipas angin tapi rupanya tidak berhasil. Walhasil, fisiknya semakin drop saat itu.

 

Turun dari panggung, Gus Nadir menolak wawancara dengan media, dan juga terpaksa hanya sebentar meladeni permintaan foto para peserta karena tubuhnya sudah goyang. Terhadap santri Kiai Jalal yang menemuinya, Gus Nadir mengabarkan bahwa fisiknya melemah dan terpaksa membatalkan pertemuan dengan direktur ma’had aly seluruh Indonesia seperti rencana semula.

 

Gus Nadir melangkah kembali ke rumah Kiai Nur Iskandar. Ternyata dirinya disusul Kiai Jalal yang mengabarkan para kiai sudah menunggu. Saat itu Gus Nadir bimbang. Badan sedang melemah, namun menolak Kiai Jalal yang sampai menghampirinya rasanya juga tidak elok.

 

“Begini saja, Pak Kiai...” jawabnya kepada Kiai Jalal.

 

“Bagaimana Gus?”

 

“Saya akan ke lokasi pertemuan dengan para kiai direktur ma’had aly dengan satu syarat. Tolong njenengan bacakan Fatihah di air putih ini, agar saya sanggup dan kuat fisik saya menemui para kiai,” pinta Gus Nadir.

 

Kiai Jalal mengambil gelas yang saya sodorkan. Lantas berucap: “Kita tawassul ke Kiai As’ad.” Setelah itu Kiai Jalal terlihat komat-kamit. Gus Nadir pun lantas meminum air yang sudah dibacakan Fatihah tersebut.

 

Setelah itu, keduanya melangkah berdua ke lokasi pertemuan. Alhamdulillah, sampai selesai acara Gus Nadir kuat menjalaninya.

 

“Barokah para masyayikh itu nyata, subhanallah.....,” pungkas Gus Nadir.

 

Editor: Syaifullah

PWNU Jatim Harlah