Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

H Sugiono, Ketua MWCNU di Sidoarjo yang Sukses Lakukan Rantingisasi LAZISNU

H Sugiono, Ketua MWCNU di Sidoarjo yang Sukses Lakukan Rantingisasi LAZISNU
HM Sugiono, Ketua MWCNU Porong, Kabupaten Sidoarjo. (Foto: NOJ/Yuli Riyanto)
HM Sugiono, Ketua MWCNU Porong, Kabupaten Sidoarjo. (Foto: NOJ/Yuli Riyanto)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi kemasyarakatan dengan jumlah anggota yang terbesar di Indonesia harus dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat. Terlebih sebagian besar anggotanya tersebar di wilayah pedesaan.

 

Kehadiran NU sebagai organisasi kemasyarakatan harus mampu menjadi kekuatan sipil dalam melakukan berbagai upaya pengembangan masyarakat.

 

NU tidak hanya berperan menjaga kohesi sosial, tetapi lebih dari itu harus bisa menjadi kekuatan pemberdayaan bagi masyarakat. Oleh karenanya, NU harus senantiasa mengembangkan sumberdaya manusianya, ada tiga pilar yang harus dilakukan oleh NU dari waktu ke waktu, yang pertama adalah aspek ideologi keaswajaan, pendidikan, dan sosial ekonomi.

 

Jika strategi pengembangan ini dapat dilakukan dengan baik oleh NU, maka tujuan NU untuk mengupayakan kemaslahatan bagi umat Islam akan terwujud. Untuk melakukan usaha-usaha tersebut, NU membentuk perangkat organisasi yang meliputi lembaga, badan khusus dan Badan Otonom (Banom).

 

Salah satu perangkat organisasi NU tersebut adalah NU Care-Lembaga Amil, Zakat, Infaq, Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) yang berperan menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat guna mengatasi problem kemiskinan, pengangguran dan minimnya akses pendidikan yang layak.

 

Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Porong HM Sugiono membagikan kisah suksesnya dalam melaksanakan program rantingisasi NU Care-LAZISNU di kawasan Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo.

 

“Diperlukan strategi jitu dalam membangun atau membentuk NU Care-LAZISNU di tingkat ranting atau desa, karena basis pengikut NU sebagian besar berada di pedesaan,” katanya kepada NU Online Jatim, Jum’at (26/02/2021).

 

Menurut pandangannya, agar tujuan NU berhasil maka diperlukan sinergi bersama semua perangkat organisasi. Ukhuwah nahdliyah harus dibangun dengan mengutamakan rasa persatuan dan persaudaraan, semua kader NU juga diharapkan paham tentang Badan Perkumpulan NU serta siapa saja pelaku dalam kegiatan NU.

 

“Atas dasar semangat persatuan, persaudaraan, dan kekompakan, maka niscaya NU Care-LAZISNU di ranting-ranting akan maju dan sukses. Ketua MWCNU sebagai kepala rumah tangga harus bisa merangkul semua lembaga dan Banom, sekaligus memberikan pemahaman bahwa NU Care-LAZISNU adalah milik kita bersama,” tegas alumni Pesantren Abil Hasan Asy-Syadzili Jatirejo Porong tersebut.

 

Mantan Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Sidoarjo yang juga mantan Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Porong ini menerangkan, di dalam kepengurusan NU Care-LAZISNU harus melibatkan pengurus NU dan Banom di tingkatannya masing-masing, tujuannya adalah untuk membangun kepercayaan dan keterbukaan terhadap NU Care-LAZISNU sekaligus mempermudah komunikasi dan koordinasi antar pengurus NU dan Banom.

 

“Pengurus MWCNU, lembaga, dan Banom Pimpinan Anak Cabang (PAC) bersama NU Care-LAZISNU MWC rajin turun ke bawah mengunjungi ranting-ranting. Mulai pembentukan NU Care-LAZISNU tingkat ranting serta memberi arahan dan petunjuk bagaimana bagaimana caranya agar gerakan NU Care-LAZISNU di ranting bisa jalan,” terangnya.

 

Lebih jauh, pengusaha sukses yang menekuni bisnis makanan ringan tersebut mengungkapkan, peran para kiai dan bu nyai juga sangat penting dalam rangka membantu mensosialisasikan NU Care-LAZISNU kepada seluruh jamaahnya.

 

Di wilayah MWCNU Porong saat ini terdapat 23 LAZISNU ranting. Semuanya bisa mandiri serta mampu mengnyinergikan kegiatan NU dan Banom di tingkat desa, adapun kaleng Koin NU Peduli yang telah tersebar se-MWCNU Kecamatan Porong sekitar 5093 kaleng.

 

“Dengan perolehan rata-rata mencapai 50 juta per bulan, sedangkan program santunan yang disalurkan diantaranya santunan yatim piatu, bantuan pendidikan, layanan kesehatan, dan bantuan UMKM. Bahkan program santunan kematian sudah berbasis ranting, khusus untuk layanan ambulans gratis ditangani langsung oleh NU Care- LAZISNU MWCNU,” pungkasnya.

 

Editor : Risma Savhira

Iklan promosi NU Online Jatim