Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Habib Luthfi: Tidak Semua Keturunan Nabi Berperilaku Baik

Habib Luthfi: Tidak Semua Keturunan Nabi Berperilaku Baik
Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman), Habib Luthfi bin Yahya. (Foto: NOJ/Isl)
Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman), Habib Luthfi bin Yahya. (Foto: NOJ/Isl)

Surabaya, NU Online Jatim

Manusia adalah tempatnya lupa dan salah. Karenanya, beruntung mereka yang berkenan untuk ditegur dan diperingati sehingga kembali berperilaku baik.

 

Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling baik, bahkan sempurna. Tidak berhenti sampai di situ, Nabi juga ma’shum atau dilindungi sehingga seluruh perilakunya mencerminkan perilaku mulia. Bahkan digelari al-Amin (seorang yang jujur) oleh kaum Quraisy di zaman pra Islam.    

 

Lantas, bagaimana dengan keturunan yang mempunyai nasab langsung ke Nabi? Pastinya tidak menjamin bahwa akhlak orang tersebut baik. Alasan untuk persoalan tersebut dijelaskan secara lugas oleh Pimpinan Majelis Kanzus Sholawat Pekalongan Habib Luthfi bin Yahya beberapa waktu berselang.

 

Penegasan disampaikan Habib Luthfi saat menerima rombongan anjangsana Islam Nusantara Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Jakarta di kediamannya.

 

Dalam pandangan Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) ini, meskipun mempunyai nasab langsung ke Rasulullah, belum tentu akhlak orang itu baik karena ini persoalan ma’shum atau dilindungi Allah dari dosa.  

 

“Jangan heran jika (keturunan Nabi, red) ada yang berakhlak tidak baik, lah wong mereka tidak di-ma’shum kok,” tutur Habib Luthfi dengan gaya bicaranya yang khas.  

 

Dengan demikian, menurutnya, belajar dan memahami sejarah secara tuntas sebagai cerminan berpikir dan bertindak menjadi langkah penting, termasuk sejarah perjalanan Nabi Muhammad yang penuh dengan teladan baik dan akhlak yang mengesankan.  

 

 

Makna Habib

Pada kesempatan berkunjung ke kediaman KH Mustofa Bisri atau Gus Mus sebelum pandemi Corona, HM Quraish Shihab mengatakan bahwa sebutan habib mempunyai makna orang yang dicintai sekaligus mencintai.

 

Jadi, menurut penulis Tafsir al-Misbah ini, seseorang dengan sebutan habib tidak hanya ingin dincintai, tetapi juga harus mencintai.  

 

Quraish memberikan penekanan bahwa ada persoalan mendasar terkait sebutan habib, yaitu akhlak. Terkait dengan akhlak ini, menjadi alasan fundamental bahwa tidak semua keturunan Rasulullah bisa disebut habib.  

 

Dari beberapa literatur, keturunan Nabi dari Sayyidina Husein disebut sayyid, sedangkan dari Sayyidina Hasan disebut syarif. Hasan dan Husein merupakan putra Sayyidah Fatimah binti Muhammad dari hasil pernikahannya dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.  

 

Selama ini, sebutan habib harus melalui komunitas dengan berbagai persyaratan yang sudah disepakati. Hal ini ditekankan oleh organisasi pencatat keturunan Nabi, Rabithah Alawiyah. Di antaranya cukup matang dalam hal umur, memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apa pun, wara atau berhati-hati, serta bertakwa kepada Allah.

 

Tak kalah pentingnya, Rabithah Alawiyah yang dipimpin oleh Habib Zen bin Smith (salah satu Mustasyar PBNU) menekankan bahwa akhlak yang baik menjadi salah satu alasan utama keturunan Nabi disebut Habib.

 

Dan, masalah habib kembali menjadi pembicaraan khalayak karena ada salah seorang yang mengaku dirinya keturunan Nabi melakukan tindakan kurang pantas. Berkata kotor saat menyampaikan pandangan, apalagi terhadap orang yang tidak dikehendaki. Mendoakan buruk kepada mereka yang tidak sependapat, dan lainnya. ​​​

Iklan Hari Pahlawan