Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Hadiri Seminar di Trenggalek, Ini Pesan Ketum PP IPPNU

Hadiri Seminar di Trenggalek, Ini Pesan Ketum PP IPPNU
Kegiatan Seminar Kebangsaan yang diadakan PC IPNU-IPPNU Trenggalek, Sabtu (27/02/2021). (Foto: NOJ/ Marisa Khoirila).
Kegiatan Seminar Kebangsaan yang diadakan PC IPNU-IPPNU Trenggalek, Sabtu (27/02/2021). (Foto: NOJ/ Marisa Khoirila).

Trenggalek, NU Online Jatim

Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Trenggalek menggelar seminar kebangsaan, Sabtu (27/02/2021). Kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-98 NU, IPNU ke-67, IPPNU ke-66 sekaligus acara Pra Konferensi Cabang (Konfercab).

 

Wahyu Habibah, Pengurus Departemen Kaderisasi PC IPPNU Trenggalek menjadi moderator pada seminar ini, sementara Nurul Hidayatul Ummah, Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat (PP) IPPNU merupakan narasumber tunggal dalam forum tersebut.

 

Wahyu mengatakan, IPNU-IPPNU dimasa ini adalah NU dimasa depan. Para pelajar NU adalah harapan NU saat ini untuk melanjutkan perjuangannya. "Seperti halnya dalam menanggapi bonus demografi ini, untuk menjadi Indonesia maju generasi harus mampu berinovasi. Dan usia IPNU-IPPNU adalah usia matang dalam pengembangan skill," katanya.

 

Dijelaskannya, bonus demografi ini berada pada usia 17-27 tahun. Maka IPNU-IPPNU yang berbasis pelajar berpotensi besar dalam meresponnya. "Hal ini akan menjadi pekerjaan rumah besar bagi pelajar di abad 21. Mereka akan mengalami lonjakan penduduk yang luar biasa," jelasnya.

 

Ketua Umum IPPNU Nurul Hidayatul Ummah memaparkan, bonus demografi adalah dimana usia penduduk yang produktif mengalami lonjakan yang luar biasa. Ini terjadi di era 2030-2045, dan akan mengalami gelombang yang luar biasa. dengan demikian, IPNU-IPPNU sebagai pelaku utamanya.

 

"Karena kalian diusia 13-27 tahun.  Usia yang matang dan bisa menghasilkan karya dari ide sendiri untuk bisa bertahan hidup, dengan itu kalian telah memiliki sumbangsih yang bisa menjadi kontributor untuk Indonesia maju. Karena kalian semua berproses di IPNU IPPNU yang telah melewati berbagai pengkaderan. Indonesia membutuhkan ini, kalau gak ada IPNU IPPNU maka pergaulan anak muda yang tidak berbenteng nilai keislaman akan seperti apa?," tutur Nurul, sapaan akrabnya.

 

Lebih lanjut, Nurul menegaskan, Jepang merupakan salah satu negara yang sukses mengelola bonus demografi ini. Karena bom Jepang herosima mengakibatkan krisis manusia yang akhirnya melahirkan generasi baru dan berhasil dikelola dengan baik.

 

"Indonesia patut bersyukur karna memliki IPNU-IPPNU dalam bonus demografi ini. Karena generasi muda dikelola dengan sangat baik disini. Bekal utama teman-teman adalah sekolah, nyantri dan paling tidak melanjutkan pendidikan sampai Strata Satu (S1), dan kemudian passion. Misal Ilmu Teknologi (IT) yang menjadi kebutuhan sehari hari," tegasnya. 

 

Dirinya menerangkan, dalam menghadapi bonus demografi sebagai pelajar yang produktif, harus pandai memanfaatkan sosial media. Karna sekarang, sosial media adalah primadona. Bukan hanya untuk chating, tapi misalnya untuk bisnis online. Yang mana itu adalah hal yang positif dan menjanjikan. 

 

Ada tiga hal yang harus diperhatikan seorang pelajar dalam menghadapi bonus demografi ini, diantaranya harus Teliti, disiplin, dan mempunyai skil agar bisa bertahan hidup di abad 21.

 

"NUJEK (Nusantara Ojek) misalnya, itu keren lo. Hobinya teman-teman harus disalurkan. Karena dunia semakin tua semakin kejam. Kalau tidak bisa inovasi akan ketinggalan. Itu adalah cara kita bertahan hidup. Dengan berinovasi, maka kalian akan bisa bertahan dan mewarnai Indonesia, bahkan mungkin lingkup pemerintahan dan penentu kebijakan-kebijakan. Jika bingung dengan skill, maka niatkan IPNU-IPPNU untuk berproses sebagai penentu skillnya. Karena IPNU-IPPNU bisa memfasilitasi itu semua," ucapnya.

 

Jika seseorang tidak memiliki skil dan kemampuan yang mumpuni, dikatakannya justru akan menjadi bencana demografi. Ini akan ada di tenaga para pelajar. Karena pelajar dalah peran utamanya.

 

 

"Semoga semua selalu istiqamah di IPNU-IPPNU. Saya punya mantra, kata-kata yang selalu saya terapkan. 'Ketika usaha kalian 100 maka doa 101,' artinya doa harus selalu lebih 1 diatas usaha itu sendiri. Karena bagaimanapun kehidupan ini tidak lepas dari sang Maha Kuasa, Allah SWT," ungkapnya.

 

Seminar kebangsaan ini digelar secara virtual. Tampak hadir pula ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Trenggalek KH Imam Syafi'i yang juga pengasuh pondok pesantren modern Raden Paku, serta tamu undangan lainnya.

 

Penulis: Marisa Khoirila

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim