Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Hari Ini, Mahbub Djunaidi Pewarta NU Dilahirkan

Hari Ini, Mahbub Djunaidi Pewarta NU Dilahirkan
Mahbub Djunaidi. (Foto: NOJ)
Mahbub Djunaidi. (Foto: NOJ)

Sumenep, NU Online Jatim

Nama Mahbub Djunaidi cukup dikenal di kalangan Nahdliyin. Mahbub lahir di Jakarta 27 Juli 1933 dan wafat di Bandung 1 Oktober 1995. Pemikiran dan tulisannya yang tegas dan terkadang jenaka membuatnya dijuluki Sang Pendekar Pena.

 

Kepiawaannya menulis membuat HB Jassin sangat kagum. Bagi HB Jassin yang dikenal dengan legendaris paus sastra Indonesia, tulisan Mahbub mampu memandang persoalan dari seginya yang kocak. Elaborasi antara humor dan satire (cemooh kocak) disertai dengan unsur kritik.

 

Kebiasaan menulis telah ia lakukan sejak duduk di bangku SMP. Bahkan di masa itu, cerpennya berjudul Tanah Mati dipublikasikan oleh Kisah, sebuah majalah kumpulan cerita pendek bermutu kala itu. Selain sebagai wartawan dan sastrawan, ia juga dikenal seorang agamawan, organisatoris, kolumnis, politikus, dan lainnya.

 

Tokoh Pewarta NU ini mengenal NU sejak usia belia. Hampir semua lembaga dan badan otonom NU, dirinya menjadi salah satu pengurusnya. Dilansir NU Online, sewaktu remaja dirinya bergabung di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama.

 

Saat memasuki bangku kuliah, ia juga tercatat aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan diamanahi sebagai Ketua Umum pertama di sebuah organisasi kemahasiswaan yang berdiri pada tahun 1963 ini.

 

Tidak hanya itu, ia juga pernah aktif di Gerakan Pemuda (GP) Ansor, sebuah organisasi kepemudaaan NU. Bahkan, turut serta mejadi pengurus PBNU hingga wafat, dengan jabatan terakhir sebagai salah seorang mustasyar.

 

Pengabdian Mahbub di organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia ini diwujudkan dengan keterlibatannya dalam perumusan Khittah NU pada Munas Alim Ulama 1983 di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Bersama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), dan aktivis NU lainnya, Mahbub merumuskan perangkat kelembagaan NU.

 

Hingga saat ini, tercatat puluhan buku telah ia tulis dan terjemah. Di antaranya, Dari Hari ke Hari (novel autobigrafi, 1975), Politik Tingkat Tinggi Kampus (1978), Maka Lakulah Sebuah Hotel (novel,1978), Angin Musim (novel, 1985), Kolom Demi Kolom (kumupulan tulisan di majalah Tempo, 1986), Humor Jurnalistik (kumpulan tulisan di sejumlah media, 1986), dan Mahbub Djunaidi Asal Usul (kumpulan tulisan di koran Kompas, 1996).

 

Selain itu, tulisan yang berbentuk terjemahan di antaranya ialah Di Kaki Langit Gunung Sinai (terjemahan karya Mohamed Heikal, 1979), Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah (terjemahan karya Michael H Hart, 1982), Cakar-Cakar Irving (terjemahan karya Art Buchwald, 1982), Lawrence dari Arabia (terjemahan karya Philiph Knightly, 1982), dan 80 Hari Berkeliling Dunia (terjemahan karya Jules Verne, 1983).

 

Al-Fatihah.

F1 Bank Jatim  Syariah 17/9