Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Harlah ke-61 PMII, Refleksi Ketajaman Pena Mahbub Djunaidi

Harlah ke-61 PMII, Refleksi Ketajaman Pena Mahbub Djunaidi
Mahbub Djunaidi. (Foto: NOJ/qureta)
Mahbub Djunaidi. (Foto: NOJ/qureta)

Surabaya, NU Online Jatim

Di Hari Lahir (Harlah) ke-61, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sejarah kembali mengingatkan kepada sosok Mahbub Djunaidi, Ketua Umum pertama PMII. Ia dikenal dari gerakannya saat menjadi aktivis dan karyanya di berbagai kolom media cetak.

 

Karakter tulisan Mahbub dikenal sebagai tulisan yang khas, karena padat, ringan, mudah dibaca, namun tidak lupa ia sisipkan sindiran-sindiran jenaka. Umumnya, sindiran tersebut ditujukan kepada persoalan demokrasi, hak asasi , manusia, korupsi, kelakuan para pembesar, kebejatan moral, kehidupan rakyat kecil, dan berbagai persoalan masyarakat lainnya yang cukup kompleks
 

Bahkan, beberapa artikel dan buku yang ia tulis pernah dilontarkan saat masa Orde Baru sedang berkuasa, yang pada saat itu kebebasan menyatakan pendapat sedang dicekik dan teror mental sedang merajalela dalam segala bentuknya.
 

Pengalamannya saat menjadi aktivis dan penulis pun melewati jalan yang terjal. Pemikiran Mahbub yang kritis tentu membuat para penguasa yang otoriter dan anri kritik gerah. Sampai-sampai ia pernah dipenjara tanpa alasan dan tuduhan yang jelas.

 

Sejak penahanan itu, kondisi kesehatan Mahbub tidak stabil. Saat momen lebaran tahun 1977 pun Mahbub masih berada di rumah sakit dalam status tahanan. Anak istrinya datang untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri di kamar yang sempit itu. Ia pun menulis surat yang ditujukan untuk anak istrinya.

 

“Alangkah bahagianya papa berlebaran bersamamu semua, walaupun tidur berdesakan di lantai. Ketahuilah, kebahagiaan itu terletak di dalam hati, bukan pada benda-benda mewah, pada rumah mentereng dan gemerlapan. Benda sama sekali tak menjamin kebahagiaan hati. Cintaku kepadamu semuanya yang membikin hatiku bahagia. Hati tidak bisa digantikan oleh apapun. Hanya kejujuran, kepolosan, apa adanya yang bisa mengingat hatiku. Bukan hal-hal yang berlebihan,” tulisnya.

 

Pahitnya hidup yang ia rasakan hendaknya menjadi refleksi bagi kader-kader PMII saat ini. Karena, Mahbub selalu berusaha dengan sungguh-sungguh menjadikan PMII sebagai wadah pembentukan kader, sebagaimana diamanatkan kepadanya oleh Musyawarah NU seluruh Indonesia. Salah satu cara membentuk jiwa dan menempa semangat kader adalah melalui lagu-lagu, khususnya lagu mars organisasi. Dia sendiri menyusun lirik lagu mars PMII, lagu yang dinyanyikan pada setiap kesempatan dan pada saat akan memulai acara penting PMII, hingga sekarang.

F1 Promosi Iklan