Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Hikmah di Balik Wabah

Hikmah di Balik Wabah
Virus Corona menjalar ke sejumlah negara dan merenggut ribuan nyawa. (Foto: NOJ/RD)
Virus Corona menjalar ke sejumlah negara dan merenggut ribuan nyawa. (Foto: NOJ/RD)

Oleh: Mukhzamilah

 

“Penyakit itu seperti tamu. Ada saatnya dia datang, ada saatnya dia pergi. Dan setiap tamu itu punya tujuan dan membawa barokahnya masing-masing.” (KH Abdul Hamid, Pasuruan)

 

Covid-19 menghampiri lebih dari 200 negara di dunia dengan angka kerugian dan kematian terus meningkat. Para guru kita mengajarkan tentang hikmah dan bertambahnya kebaikan. Kira-kira apa yang bisa dipetik dari makhluk kecil 150 nanometer ini? 

 

Wabah ini mengajarkan kita tentang kesetaraan derajat manusia tanpa melihat budaya, domisili negara, profesi atau status sosial. Pejabat, selebritis, olahragawan yang sehat memiliki potensi paparan yang sama. Makhluk kecil ini juga mengingatkan kita betapa besar nilai “sehat”. Sering kita mengabaikan pentingnya menjaga kebersihan melalui hal yang sangat sederhana, misalnya kebiasaan mencuci tangan dan memakai masker sebagai filter udara yang makin berpolusi. 

 

Perubahan pola hidup sosial yang makin materialistik sejenak membuat kita merenung bahwa di masa sulit ketika pandemik terjadi, kebutuhan utama yang mendesak adalah makanan, minuman, obat-obatan dan ketenangan hati dalam ibadah. Identitas kemewahan yang melekat pada diri manusia tidak akan mampu menghalau diri kita dari paparan virus ini.

 

Pandemi ini mengingatkan kita arti penting keluarga dan kehidupan kecil bersama pasangan dan anak-anak. Bagaimana tidak, kini kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk membuat rumah makin nyaman, menemani anak-anak untuk mengerjakan tugas mereka dari sekolah dan memaksa kita kreatif untuk menghadapi kejenuhan. Tugas kita yang sebenarnya bukanlah kesibukan pekerjaan, tapi tanggungjawab moral kita untuk saling peduli sesama, melindungi dan menghadirkan kebahagiaan untuk orang lain di sekitar kita. 

 

Pandemi ini membuat kita sejenak mengukur kadar ego diri dan menyadarkan bahwa diri kitalah yang bisa mengendalikan kemauan untuk menolong, berbagi, dan memberikan dukungan kepada sesama. Atau sebaliknya tetap mempertahankan ego diri. Kata Brunett, filosof pendidikan adalah 'It is difficulties that bring out our true colors' (=karakter asli seseorang akan terlihat ketika kita melewati masa sulit bersamanya).

 

Dari perspektif ekosistem alam, kita menyadari bahwa bumi sedang sakit akibat ulah manusia. Anjuran untuk tetap tinggal di rumah, memberikan efek penurunan polusi udara yang cukup signifikan. Bukankah dengan demikian, bumi justru merasa bahagia?

 

Ketika kebanyakan melihat Covid-19 sebagai sesuatu yang merugikan, sebenarnya juga menjadi pengingat. Ia dihadirkan oleh Allah untuk menyadarkan akan banyak nilai berharga yang sempat terlupakan.

 

Menghadapi ini semua, kita tidak perlu panik, tetap waspada dan ikhtiar seraya berkeyakinan bahwa di balik kesulitan yang ada, kemudaan dan hikmah pasti hadir menyertainya. 

 

Wakil Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Sidoarjo.
 

Iklan promosi NU Online Jatim