Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Hukum Mengucapkan 'Husnul Khatimah' kepada Orang yang Wafat

Hukum Mengucapkan 'Husnul Khatimah' kepada Orang yang Wafat
Mendoakan husunul khatimah kepada mayit juga dibenarkan. (Foto: NOJ/LKf)
Mendoakan husunul khatimah kepada mayit juga dibenarkan. (Foto: NOJ/LKf)

Akhir-akhir ini banyak anggota keluarga, tetangga dan sahabat yang wafat. Baik karena Covid-19 maupun faktor lain. Dan kabar soal kewafatan itu tersebar di sejumlah media sosial, termasuk grup WhatsApp.

 

Sebagai bentuk prihatin dan sedih, kemudian berharap yang meninggal mendapat tempat terbaik, sejumlah ucapan disampaikan. Salah satunya adalah kalimat ‘semoga husnul khatimah’. Bagaimana hukum berdoa dengan kalimat ini?

 

Ketua Pengurus Wilayah (PW) Aswaja NU Center Jawa Timur, Ustadz Ma’ruf Khozin memberikan penjelasan. Karena sebagian kalangan mempersoalkan doa dan kalimat tersebut.

 

“Doa ini artinya adalah akhir yang baik, yakni berdoa agar wafat dalam keadaan Islam dan iman,” kata alumnus Pesantren Ploso, Kediri tersebut di akun Facebooknya.


Terkait dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat dengan membaca doa ini, dirinya mengakui belum mengetahui dari mana sumbernya. Sedangkan doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika ada berita kematian adalah doa musibah, ampunan dan kasih sayang.

 

“Tapi bukan berarti tidak boleh berdoa husnul khatimah bagi keluarga, sahabat dan siapapun umat Islam yang wafat,” kata kiai yang juga Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur tersebut. 

 

Dirinya kemudian membeberkan temuan ucapan doa husnul khatimah di beberapa kitab:

 

Setelah Syekh Ibrahim Al-Maidari al-Baghdadi wafat, Syekh Abdirrazzaq Al-Baithar mendoakan:

 

وقانا الله تعالى وإياه هول المطلع ورزقنا وإياه حسن الختام

 

Artinya: Semoga Allah menjaga kita dan dia saat beratnya peristiwa kiamat, dan semoga Allah menganugerahkan husnul khatimah untuk kita dan dia. (Diambil dari Hilyat Al-Basyar fi Tarikh Qarn Tsalits Asyar, juz 1, halaman: 21).

 

Di bagian lain saat Syekh Musthofa bin Muhyiddin Naja, al-Syadzili wafat, Syekh Abdirrazzaq al-Baithar juga mendoakan kalimat berikut:

 

حفظنا الله وإياه من الآثام، ورزقنا وإياه حسن الختام.

 

Artinya: Semoga Allah menjaga kita dan dia dari perbuatan dosa, dan semoga Allah menganugerahkan husnul khatimah untuk kita dan dia. (diambil dari Hilyat Al-Basyar fi Tarikh Qarn Tsalits Asyar, juz 2, halaman: 173).

 

Bagaimana kalau ada kalangan Salafi yang teriak bahwa mengucapkan kalimat tersebut bid’ah dan tidak sesuai tuntunan Nabi? 

 

Salah satu ulama ahli hadis mereka, Syekh Abdul Qadir Al-Arnauth juga didoakan husnul khatimah padahal sudah wafat sebagaimana keterangan berikut:


ونحن نرجو حسن الخاتمة لشيخنا، حيث مات بعد صوم رمضان، وبعرق الجبين، ويوم الجمعة

 

Artinya: Kami berharap guru kami wafat husnul khatimah, ketika ia wafat setelah Ramadlan, keringat di dahi dan di hari Jumat. (Mu'jam al-Jami' fi Tarajum al-Ulama, juz 1, halaman: 175)

 

Di ujung keterangan, Ustadz Ma’ruf Khozin mengutip dari Syekh Abdullah al-Faqih sebagai berikut:

 

يكفي أن تدعو بأي دعاء يناسب المقام، مثل: اللهم أحسن عاقبتنا في الأمور كلها ـ إلى غير ذلك ـ ولا يشترط في الدعاء أن يكون مأثوراً. والله أعلم

 

Artinya: Boleh berdoa dengan redaksi yang sesuai keadaan. Seperti: ‘Ya Allah jadikanlah segala urusan kami memiliki akhir yang baik’ dan sebagainya. Sebab doa tidak diharuskan bersumber dari Nabi. (Fatawa Syabkah Islamiyyah 187/133).


Editor:
F1 PWNU Jatim